Hadits Qudsi ke 26-30 – Misykat Al-Anwar | Ibni Arabi

Misykāt-ul-Anwār
(Relung-relung Cahaya Hadits Qudsi)

(Diterjemahkan dari: )
Kompilasi Hadits Qudsi dari Kitab:
110 Hadits Qudsi, Misykāt-ul-Anwār, dan Futūḥāt-ul-Makkiyyah

Penerjemah: Hadiri Abdurrazak, Ismawati B.Soekoto
Penerbit: Pustaka IIMAN

BAGIAN PERTAMA

110 Hadits Qudsi

(Hadits Qudsi Ke26-30)

 

(26). عَنْ أَبِيْ.هُرَيْرَةَ (ر) عَنْ رَسُوْلِ اللهِ (ص) قَالَ: (قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَ لَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَ لَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ).
(حديث صحيح) [رواه البخاري وَ مسلم و الترمذي وَ النسائي و ابن ماجه]

  1. Dari Abū Hurairah r.a., dari Rasūlullāh s.a.w., beliau bersabda: “Allah s.w.t. berfirman: “Aku telah siapkan untuk hamba-hambaKu yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah tebersit di hati manusia.” (HR. Bukhārī dan Muslim, Tirmidzī, dan Ibnu Mājah; Shaḥīḥ).

(27). عَنْ أَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ (ر) قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ (ص): (إِنَّ اللهَ يَقُوْلُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُوْنَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَ سَعْدَيْكَ وَ الْخَيْرَ فِيْ يَدَيْكَ بِيَقُوْلُ: هَلْ رَضِيْتُمْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: وَ مَا لَنَا لَا نَرْضَى يَا رَبِّ وَ قَدْ أَعْطَيْنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُوْلُ: أَلَا أُعْطِيْكُمْ أَفْضَلَ منْ ذلِكَ؟ فَيَقُوْلُ: أُحَلَّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِيْ فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا).(حديث صحيح) [رواه البخاري وَ مسلم]

    1. 27.Dari Abū Sa‘īd al-Khudrī r.a., ia menuturkan: Nabi s.a.w. bersabda: “

Sesungguhnya Allah berfirman kepada penduduk surga: Wahai para penghuni surga!”
“Mereka menjawab: “Kami memenuhi panggilan-Mu, Tuhan; kami bahagia, dan betapa kebaikan, semua di tangan-Mu.”
Apakah kalian puas?
“Bagaimana kami tidak puas, Tuhan. Engkau telah benar-benar memberi kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada siapa pun dari makhluk-Mu.”
Tidakkah kalian ingin Aku beri yang lebih baik dari itu?
“Oh Tuhan, adakah sesuatu yang lebih baik dari ini?”
Aku berikan seluruh ridha-Ku kepada kalian, sehingga setelahnya Aku tidak akan pernah marah kepada kalian, selamanya
.” (HR. Bukhārī dan Muslim; Shaḥīḥ).

(28). عَنْ أَبِيْ.هُرَيْرَةَ (ر) أَنَّ النَّبِيَّ (ص) كَانَ يَوْمًا يُحَدِّثُ وَ عِنْدَهُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ (أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اسْتَأْذَنَ رَبَّهُ فِي الزَّرْعِ فَقَالَ: أَوَ لَسْتَ فِيْمَا شِئْتَ؟ قَالَ: بَلَى وَ لكِنِّيْ أُحِبُّ أَنْ أَزْرَعَ فَأَسْرَعَ وَ بَذَرَ فَتَبَادَرَ الطَّرْفَ نَبَاتَهُ وَ اسْتِوَاؤُهُ وَ اسْتِحْصَاؤُهُ وَ تَكْوِيْزُهُ أَمْثَالَ الْجِبَالِ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: وَ ذلِكَ يَا ابْنَ آدَمَ فَإِنَّهُ لَا يُشْبِعُكَ شَيْءٌ). فَقَالَ الْأَعْرَابِيُّ: يَا رَسُوْلَ اللهِ لَا نَجِدُ هذَا إِلَّا قُرَاشِيًا أَوْ أَنْصَارِيًا فَإِنَّهُمْ أَصْحَابُ زَرْعٍ فَأَمَّا نَحْنُ فَلَسْنَا بِأَصْحَابِ زَرْعٍ فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ (ص). (حديث صحيح) [رواه البخاري]

      1. Dari Abū Hurairah r.a. bahwa suatu hari, Nabi s.a.w. bercerita dan di sisi beliau ada seorang laki-laki ‘Arab Badui: Seorang laki-laki dari penduduk surga minta izin kepada Tuhannya untuk bercocok tanam. Allah bertanya: “Apakah kau yakin terhadap keinginanmu?” Orang itu menjawab: “Tentu. Aku suka bercocok tanam.” Segera (setelah diizinkan), orang itu menabur benih. Dengan cepat, tanamannya tumbuh, tegak, meninggi, dan siap panen, hingga berlimpah ruah laksana gunung. Lalu Allah s.w.t. berfirman: “Wahai anak Ādam, sesungguhnya itu tidak akan membuatmu kenyang sedikit pun.

Orang ‘Arab Badui itu berkata: “Wahai Rasūlullāh, itu pasti seorang Quraisy atau seorang Anshār, karena mereka adalah ahli tani. Adapun kami bukanlah ahli tani.” Maka Rasūlullāh s.a.w. tertawa. (HR. Bukhārī; Shaḥīḥ).

(29). عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ (ر) قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): (آخِرُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ فَهُوَ يَنْشِيْ مَرَّةً وَ يَكْبُوْ مَرَّةً وَ تَسْعَفُهُ النَّارُ مَرَّةً فَإِذَا مَا جَاوَزَهَا الْتَفَتَ إِلَيْهَا فَقَالَ: تَبَارَكَ الَّذِيْ نَجَّانِيْ مِنْكَ لَقَدْ أَعْطَانِي اللهُ شَيْئًا مَا أَعْطَاهُ أَحَدًا مِنَ الْأَوَّلِيْنَ وَ الْآخَرِيْنَ فَتُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ فَيَقُوْلُ أَيْ رَبِّ أَدْنِنِيْ مِنْ هذِهِ الشَّجَرَةِ فَلْاَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا وَ أَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ: يَا ابْنَ آدَمَ لَعَلِّيْ إِنْ أَعْطَيْتُكُهَا سَأَلْتَنِيْ غَيْرَهَا فَيَقُوْلُ: لَا يَا رَبِّ وَ يُعَاهِدُهُ أَنْ لَا يَسْأَلُهُ غَيْرَهَا وَ رَبُّهُ يَعْذِرُهُ لِأَنَّهُ يَرَى مَا لَا صَبَرَ عَلَيْهِ فَيُدْنِيْهِ مِنْهَا فَيَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا وَ يَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا ثُمَّ تُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ هِيَ أَحْسَنُ مِنَ الْأُوْلَى فَيَقُوْلُ: أَيْ رَبِّ أَدْنِنِيْ مِنْ هذِهِ لَأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا وَ أَسْتَظِلَّ مِنْ ظِلِّهَا لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا فَيَقُوْلُ: يَا ابْنَ آدَمَ أَلَمْ تَعَاهِدْنِيْ أَنْ لَا تَسْأَلْنِيْ غَيْرَهَا؟ فَيَقُوْلُ لَعَلِّيْ إِنْ أَدْنَيْتُكَ مِنْهَا تَسْأَلْنِيْ غَيْرَهَا فُيُعَاهِدُهُ أَنْ لَا يَسْئَلَهُ غَيْرَهَا وَ رَبُّهُ يَعْذِرُهُ لِأَنَّهُ يَرَى مَا لَا صَبْرَ عَلَيْهِ فُيُدْنِيْهِ مِنْهَا فَيَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا وَ يَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا ثُمَّ تُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ عِنْدَ بَابَ الْجَنَّةِ هِيَ أَحْسَنُ مِنَ الْأُلَيَيْنِ فَيَقُوْلُ: أَيْ رَبِّ؟ أَدْنِنِيْ مِنْ هذِهِ لِأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا وَ أَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا لأَسْئَلُكَ غَيْرَهَا وَ رَبِّهِ يَعْذِرُهُ لِأَنَّهُ يَرَى مَا صَبْرَ لَهُ عَلَيْهَا فَيُدْنِيْهِ مِنْهَا  فَإِذَا أَدْنَاهُ مِنْهَا فَيَسْمَعُ أَصْوَاتَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ: أَيْ رَبِّ أَدْخِلْنِيْهَا فَيَقُوْلُ: يَا ابْنَ آدَمَ مَا يَصْرِيْنِيْ مِنْكَ؟ أَيُرْضِيْكَ أَنْ أُعْطِيَكَ الدُّنْيَا وَ مِثْلَهَا مَعَهَا قَالَ: يَا رَبِّ أَتَسْتَهْزِيْءُ مِنِّيْ وَ أَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ). فَضَحِكَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ فَقَالَ: أَلَا تَسْأَلُنِيْ مِمَّا أَضْحَكُ؟ فَقَالُوْا: مِمَّا تَضْحَكُ قَالَ: هكَذَا ضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ (ص) فَقَالُوْا: مِمَّا تَضْحَكُ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: مِنْ ضَحِكِ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ حِيْنَ قَالَ: أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّيْ وَ أَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ فَيَقُوْلُ: إِنِّيْ لَا أَسْتَهْزِئُ مِنْكَ وَ لِكِنِّيْ مَا أَشَاءَ قَادِرٌ) (حديث صحيح) [رواه مسلم]

      1. Dari ‘Abdullāh ibnu Mas‘ūd r.a., ia menuturkan: Rasūlullāh s.a.w. menceritakan: “Orang terakhir yang masuk surga adalah seseorang yang sesekali berjalan, sesekali tersungkur, dan sesekali disengat api neraka. Setelah lewat, orang itu menoleh ke neraka, lalu berkata: “Maha Suci Allah yang telah menyelamatkanku darimu. Allah telah memberiku sesuatu yang telah diberikan kepada seseorang dari generasi terdahulu dan terkemudian.”

Lalu sebuah pohon ditinggikan untuknya. Orang itu berkata: “Oh Tuhanku, dekatkanlah aku ke pohon itu, agar aku bisa berteduh di bawahnya, dan meminum sedikit airnya.” Allah berfirman kepadanya: “Hai anak Ādam, kalau itu aku berikan kepadamu, apakah kamu masih akan meminta yang lain?” Dia menjawab: “Tidak, wahai Tuhanku.” Dia lalu berjanji untuk tidak meminta apa-apa lagi. Maka Allah menerima alasan orang itu, karena Dia Maha Tahu ketidakmampuannya untuk bersabar. Didekatkanlah dia ke pohon tersebut sehingga dia berteduh di bawahnya, dan meminum sedikit airnya.

 Kemudian ditinggikan pohon lain yang lebih bagus dari pohon pertama. Orang itu berkata: “Oh Tuhanku, dekatkanlah aku ke pohon itu, agar aku bisa meminum sedikit arinya, dan berteduh di bawahnya. (Setelah itu) aku tidak akan meminta lagi kepada-Mu.” Maka Allah berfirman: “Hai anak Ādam bukankah kau telah berjanji kepada-Ku untuk tidak meminta apa-apa lagi? Kalau Aku dekatkan kau ke pohon itu, apakah kamu masih akan meminta yang lain lagi?” Orang itu pun berjanji untuk tidak meminta apa-apa lagi. Allah menerima alasan orang itu, karena Dia Maha Tahu ketidakmampuannya untuk bersabar. Didekatkanlah dia ke pohon tersebut sehingga dia bisa berteduh di bawahnya, dan meminum sedikit airnya.

 Kemudian ditinggikan lagi pohon ketiga di sisi pintu surga yang lebih bagus dari dua pohon sebelumnya. Orang itu berkata: “Oh Tuhanku, dekatkanlah aku ke pohon itu, agar aku bisa berteduh di bawahnya, dan meminum sedikit airnya. Aku tidak akan meminta apa-apa lagi kepada-Mu.” Allah pun menerima alasan orang itu, karena Dia Maha Tahu ketidakmampuannya untuk bersabat. Didekatkanlah dia ke pohon tersebut.

 Setelah didekatkan, orang itu mendengar suara-suara para penduduk surga. Orang itu berkata: Oh Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga.” Allah berfirman kepadanya: “Hai anak Ādam, mengapa kau mendesak-Ku untuk menurutimu? Apakah kau ingin agar Aku memberimu seluas dunia beserta isinya?” Dia berkata: “Oh Tuhanku, apakah Engkau sedang memperolok-olokku?! Sedang Engkau adalah Tuhan semesta alam?”

 Sejurus, Ibn Mas‘ūd tertawa. Maka para sahabat bertanya: “Apa yang membuatmu tertawa.” Mereka pun bertanya kepada beliau: “Wahai Rasūlullāh, apa yang membuatmu tertawa?” Beliau menjawab: “Karena Tuhan semesta alam tertawa, ketika mendengar pernyataan hamba-Nya: “Apakah Engkau sedang memperolok-olokku?! Sedang Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Lalu Allah berfirman kepada orang itu: “Aku tidak memperolok-olokmu. Akan tetapi Aku Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Muslim: Shaḥīḥ).

(30). عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ (ر) قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): (إِنِّيْ لَأَعْرِفُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ جُرُوْجًا مِنَ النَّارِ وَ آخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُوْلًا الْجَنَّةَ يُؤْتَى بِرَجُلٍ فَيَقُوْلُ: سَلُوْا عَنْ صِغَارِ ذُنُوْبِهِ وَ اخْبِئُوْا كِبَارَهَا فَيُقَالُ لَهُ عَمِلْتَ كَذَا وَ كَذَا فِيْ يَوْمِ كَذَا وَ كَذَا قَالَ: فَيُقَالُ لَهُ: فَإِنَّ لَكَ مَكَانُ كُلِّ سَيِّئَةٍ حَسَنَةٍ قَالَ: فَيَقُوْلُ لَهُ: يَا رَبِّ لَقَدْ عَمِلْتُ أَشْيَاءَ مَا أَرَاهَا هَا هُنَا) قَالَ: فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلُ اللهِ (ص): ضِحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ). (حديث صحيح) [رواه الترمذي]

      1. Dari Abū Dzarr r.a., ia menuturkan: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya aku tahu betul orang yang terakhir keluar dari neraka, dan orang yang terakhir masuk surga. Seseorang didatangkan. Lalu Allah menyuruh para malaikat untuk menanyakan dosa-dosa kecilnya dan menyembunyikan dosa-dosa besarnya. Maka kepadanya dikatakan: “Kamu telah berbuat begini dan begitu pada hari ini dan itu….Kamu telah berbuat begini dan begitu pada hari ini dan itu…. Dikatakan juga kepadanya: “Kamu punya kebaikan yang menutupi segala kejahatan.” Orang itu berkata: “Oh Tuhanku, aku benar-benar telah berbuat semua yang diperlihatkannya di sini.” Kata Abū Dzarr: “Aku benar-benar melihat Rasūlullāh s.a.w. tertawa sampai-sampai geraham beliau tampak.” (HR. Tirmidzī; Shaḥīḥ).
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *