30 Bersama-sama Mencapai Puncak – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual

40 HADITS SHAHIH
Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
Oleh: Bintus Sami‘ ar-Rakily

Tim Penyusun:
Ust. Imam Ghozali, Ustzh. Khoiro Ummatin,
Ust. M. Faishol, Ustzh. Khotimatul Husna,
Ust. Ahmad Shidqi, Ust. Didik L. Hariri,
Ust. Irfan Afandi, Ust. Ahmad Lutfi,
Ust. Syarwani, Ust. Alaik S., Ust. Bintus Sami‘,
Ust. Ahmad Shams Madyan, Lc.
Ust. Syaikhul Hadi, Ust. Ainurrahim.

Penerbit: Pustaka Pesantren

Rangkaian Pos: Bagian 4 - Pedoman Menyalurkan Hasrat Seksual dalam Pernikahan
  1. 1.27 Bersenggama Adalah Sedekah – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  2. 2.28 Doa Sebelum Bersenggama – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  3. 3.29 Bertutup Ketika Melakukan Senggama – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  4. 4.Anda Sedang Membaca: 30 Bersama-sama Mencapai Puncak – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual

030 Bersama-sama Mencapai Puncak

Hadits ke-30

عَنْ أَنَسٍ ابْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ (ص) قَالَ: إِذَا غَشَى الرَّجُلُ أَهْلَهُ فَلْيُصَدِّقْهَا، فَإِنْ قَضَى حَاجَتَهُ، وَ لَمْ تَقْضِ حَاجَتَهَا، فَلاَ يُعَجِّلُهَا (رواه عبد الرزاق)

Diriwayatkan dari Anas bin Mālik bahwasanya Nabi Saw pernah bersabda: “Ketika seorang suami menyetubuhi istrinya, hendaknya ia membarengi istrinya. Jika ia telah selesai (mencapai puncak), sementara istrinya belum, hendaknya ia tidak segera menyelesaikannya.” (HR. Abdurrazzāq)

Keterangan:

Persenggamaan adalah hubungan timbal-balik antara seorang suami dengan seorang istri. Atas dasar ini, salah satu pihat tentu tidak diperkenankan untuk bersikap egois dan mementingkan hajatnya sendiri. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 187:

Mereka (istri) adalah pakaian bagi kalian (suami), dan kalian (suami) adalah pakaian bagi istri.

Dari firman Allah ini, posisi laki-laki (suami) dan istrinya adalah seimbang; keduanya sama-sama punya ha katas yang lain, dan memiliki kewajiban yang harus ditunaikan. Seorang suami harus ingat bahwa menurut konsep Islam, hubungan seks bukanlah ajang pelampiasan hawa nafsu belaka, tetapi merupakan bagian mu’āsyarah bil ma’rūf (menggauli istri dengan baik). Oleh karena itu, kenikmatan yang dihasilkan dari hubungan seks itu harus dirasakan bersama-sama (bukan sepihak, yang mengecewakan bahkan menyakitkan pihak lain). Jadi suami harus menggauli istrinya dengan cara yang baik dan menyenangkan. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik pada istriku. Tidaklah menghormati pada wanita kecuali orang yang mulia dan tidaklah menghinakannya kecuali orang yang tercela.

Dari sini, sabda Rasulullah dalam hadits ke-30 di atas menjadi sesuatu yang penting untuk digaris bawahi dalam etika bersenggama. Sebab, banyak sekali seorang suami yang tidak memperhatikan partner seks-nya. Begitu nafsunya memuncak, ia menubruk pasangannya, menggaulinya dengan kasar, lalu setelah ia selesai—tanpa memperhatikan pasangannya sudah mencapai puncak atau belum—ia meninggalkannya begitu saja. Hal ini tentu lebih mirip ‘perkosaan’ daripada ‘seni bersenggama’.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam ‘seni bersenggama’ agar mampu mencapai puncak kepuasan bersama adalah melakukan ‘babak pendahuluan’ (isti’adah/foreplay). Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah yang sempurna telah memberi teladan kepada umatnya perihal etika seksual yang satu ini. Beliau bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni cimuan dan cumbu rayu” (HR. at-Tirmidzi).

Yang perlu dilakukan dalam ‘babak pendahuluan’ sebelum bersenggama di antaranya adalah ngobrol ringan, melemparkan rayuan, bersenda gurau, saling meraba, membelai seluruh tubuh pasangan, dan saling melakukan ciuman. Baru sesudah itu, setelah kedua pasangan siap, aktivitas senggama dapat dilakukan.

Selain itu, faktor komunikasi masing-masing pihak juga sangat membantu tercapainya kepuasan bersama ini. Seorang istri hendaknya tidak malu-malu kepada suaminya terhadap apa yang ia rasakan dan apa yang ia inginkan dari sang suami, demikian pula sebaliknya. Dari sini, diharapkan keduanya dapat mencapai faragh (orgasme) bersama-sama.

Dengan ‘mencapai puncak bersama-sama’, diharapkan hubungan suami istri akan semakin mesra dan harmonis sehingga akan mencapai sakinah mawaddah wa rahmah di satu sisi, dan terhindar dari fitnah zina atau selingkuh di sisi lain.

Wallāhu a’lam.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *