14 Menghindari Berduaan dengan Lawan Jenis – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual

40 HADITS SHAHIH
Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
Oleh: Bintus Sami‘ ar-Rakily

Tim Penyusun:
Ust. Imam Ghozali, Ustzh. Khoiro Ummatin,
Ust. M. Faishol, Ustzh. Khotimatul Husna,
Ust. Ahmad Shidqi, Ust. Didik L. Hariri,
Ust. Irfan Afandi, Ust. Ahmad Lutfi,
Ust. Syarwani, Ust. Alaik S., Ust. Bintus Sami‘,
Ust. Ahmad Shams Madyan, Lc.
Ust. Syaikhul Hadi, Ust. Ainurrahim.

Penerbit: Pustaka Pesantren

Rangkaian Pos: Bagian 2 - Kiat-kiat Nabawi dalam Mengendalikan Hasrat Seksual
  1. 1.07 Sedapat Mungkin Menjaga Pandangan – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  2. 2.08 Segera Berpaling pada Pandangan Pertama – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  3. 3.09 Perempuan Juga Harus Menjaga Pandangan – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  4. 4.10 Menjaga Pandangan terhadap Sesama Jenis – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  5. 5.11 Tiga Pasang Mata yang Tidak Pernah Melihat Api Neraka – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  6. 6.12 Menjaga Aurat – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  7. 7.13 Menghindari Jerat-jerat Zina – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  8. 8.Anda Sedang Membaca: 14 Menghindari Berduaan dengan Lawan Jenis – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  9. 9.15 Menjaga Perut dan Berpuasa – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual
  10. 10.16 Menghindari Onani atau Masturbasi – Teladan Nabi Menyalurkan Hasrat Seksual

Menghindari Berduaan dengan Lawan Jenis

 

Hadits ke-14

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ (ص) قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالْخَلْوَةَ بِالنِّسَاءِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا خَلا رَجُلٌ وَامْرَأَةٌ إِلا دَخَلَ الشَّيْطَانُ بَيْنَهُمَا، وَلَيَزْحَمُ رَجُلٌ خِنْزِيْرًا مُتَلَطَّخًا بِطِينٍ، أَوْ حَمْأَةٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَزْحَمَ مَنْكِبُهُ مَنْكِبَ امْرَأَةٍ لا تَحِلُّ لَهُ (رواه الطبراني)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah Saw yang bersabda: “Takutlah kalian terhadap berkhalwat dengan perempuan. Sungguh, demi Dzat yang menggenggam nyawaku, tidaklah seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan kecuali setan akan menggoda keduanya. Sekiranya seseorang berkumpul dengan babi yang bergelepotan lumpur, hal itu akan lebih baik baginya daripada pundaknya mensejajari pundak seorang perempuan yang tidak halal baginya.” (HR. ath-Thabrani)

 

Keterangan:

Hal lain yang harus dihindari agar seseorang terjaga dari fitnah syahwat adalah berduaan dengan lawan jenis, khususnya di tempat sepi (khalwat). Dalam hadits di atas, Rasulullah mengingatkan dengan keras agar umatnya menghindari khalwat. Bahkan, Rasulullah memberikan metaphor, bahwa orang yang melakukan khalawat lebih buruk dari orang yang berkumpul dengan babi. Kita tahu, babi adalah hewan yang sangat najis, dimana ketika seorang menyentuhnya ia harus mencuci tubuhnya tujuh kali dan melumuri salah satunya dengan tanah. Alangkah kerasnya peringatan Rasulullah.

Peringatan keras ini dapatlah dimengerti, jika kita merenungkan akibat yang muncul dari buatan khalwat. Sebab, kebanyakan perbuatan zina timbul setelah seseorang berkhalwat. Pada saat hanya berdua, seseorang tentu akan merasa bebas untuk melakukan apa saja, selama itu dilakukan atas dasar ‘mau sama mau’. Mulai dari bercumbu rayu, berciuman, saling meraba, hingga jatuhlah ia ke dalam perbuatan yang paling dikutuk Tuhan: zina.

Larangan berkhalwat ini bukan saja ditujukan kepada mereka yang sengaja berkhalwat sebagimana model pacaran para remaja sekarang. Sebaliknya, semua perbuatan khalat – yakni kondisi dimana seorang laki-laki hanya berduaan dengan perempuan non-muhrim – hukumnya terlarang.

Dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir yang lain, Rasulullah bersabda:

Takutlah kalian dari mengunjungi perempuan.” Seorang sahabat dari Anshar bertanya: “Bagaimana dengan saudara ipar?” Nabi bersabda: “Saudara ipar adalah bencana.(HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Dari sini, ketentuan dan larangan khalwat itu mencakup siapa saja dan di mana saja. Entah itu di ruangan ataukah di luar ruangan. Entah itu berboncengan sepeda motor, berduaan di dalam mobil, ataupun bentuk-bentuk yang lain.

Tanbih: Pancaran dan Khalwat

Terkait dengan tema khalwat, dalam berbagai kesempatan, banyak pemuda-pemudi muslim yang bertanya: “Adakah pacaran yang Islami?”

Hemat kami, praktik pacaran tidak lebih merupakan jerat-jerat halus setan. Pada zaman yang semakin gila ini, di mana batas-batas kesopanan dan budaya ketimuran semakin luntur, pacaran telah menjadi sebab utama terjadinya perzinaan. Pertama-tama, seseorang mungkin berpacaran hanya sebatas berjumpa sebagai tanda cinta. Namun selanjutnya, bujukan halus setan, ditambah dorongan nafsu untuk memandang akan meyeretnya (secara halus dan tak terasa) ke perbuatan-perbuatan lain yang lebih parah. Mula-mula berjumpa, ngobrol berdua. Kemudian, karena malu berduaan di tempat umum, keduanya pun mencari tempat sepi. Di tempat sepi, karena merasa tidak ada yang melihat, keduanya pun semakin mesra mencurahkan perasaannya. Obrolan pun semakin intimlah. Nafsu dan setan pun mengajak mereka berbuat lebih jauh. Hingga akhirnya, takut kehilangan maupun berbagai factor lain, membuat keduanya rela melepaskan keperjakaan atau keperawanannya. Na’udzubillāh.

Beberapa orang berkata, “Aku berpacaran untuk tujuan mengenal dan memahami karakter pasanganku. Aku perlu menjajaki sifat-sifatnya agar nanti ketika berlanjut ke janjang pernikahan, aku tidak akan menyesal dengan pilihanku.”

Hema kami, kata-kata seperti ini hanyalah alasan yang dibuat-buat. Jika memang pacaran adalah sebuah penjajakan, mengapa engkau berusaha tampil maksimal di depan pacarmu? Mengapa yang biasanya tidak berdandan, justru menjadi orang  yang sangat rapi di hadapan pacarnya? Mengapa engkau yang biasanya sangat pedit menjadi begitu dermawan kepada pacarmu? Engkau tutupi segala kekuranganmu dan engkau tonjolkan semua kelebihanmu. Itukah yang disebut penjajakan, ataukah apa yang kau lakukan itu lebih tepat disebut penipuan?

Jika memang “memahami karakter” yang dikehendaki, maka dalam pernihakan pun, proses “memahami karakter” terjadi setiap waktu, bahkan sepanjang usia suami istri itu. Tidak ada seorang pun yang mampu menembus dan melihat karakter seseorang dengan sempurna. Sebab isi hati seseorang tak mungkin terjajaki secara keseluruhan.

Jika alasan “mencari pasangan terbaik” yang diajukan untuk melegitimasi pacaran, maka pacaran tidak akan dapat digunakan untuk hal itu. Sebab, dalam pacaran hanya ada kebohongan dan kemunafikan, sebagaimana telah disebutkan di atas. Di sisi lain, tidak pernah ada yang sempurna di dunia ini. Seorang perempuan ataupun lelaki, pastilah memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Saling mengerti dan menambal kekurangan itulah yang akan kita lakukan dalam jenjang pernikahan.

Oleh karena itu, mulai saat ini, banggalah orang-orang yang tidak punya pacar. Berdiri tegaklah jika engkau menjadi orang “jomblo”. Sebab, engkau adalah orang-orang yang dipilih Tuhan untuk dihindarkan dari dosa dan didekatkan kepada anugerah-Nya. Wallāhu a’lam.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *