Cara Baik untuk Meminta & Mencari Rezeki yang Baik – Ibnu ‘Atha’illah – Agar Rezeki yang Mencarimu (3/3)

Sampul Buku Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya
Rangkaian Pos: Cara Baik untuk Meminta & Mencari Rezeki yang Baik - Ibnu 'Atha'illah - Agar Rezeki yang Mencarimu
  1. 1.Cara Baik untuk Meminta & Mencari Rezeki yang Baik – Ibnu ‘Atha’illah – Agar Rezeki yang Mencarimu (1/3)
  2. 2.Cara Baik untuk Meminta & Mencari Rezeki yang Baik – Ibnu ‘Atha’illah – Agar Rezeki yang Mencarimu (2/3)
  3. 3.Anda Sedang Membaca: Cara Baik untuk Meminta & Mencari Rezeki yang Baik – Ibnu ‘Atha’illah – Agar Rezeki yang Mencarimu (3/3)

Keenam, bentuk meminta rezeki dengan baik bisa dengan cara meminta bagian dunianya. Allah berfirman:

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُوْلُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ. وَ مِنْهُم مَّنْ يَقُوْلُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

Di antara manusia ada yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia,” dan di akhirat dia tidak mendapatkan bagian. Dan di antara mereka ada yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (al-Baqarah [2]: 200-201).

Ketujuh, bentuk meminta dengan baik adalah meminta tanpa meragukan jatah yang diberikan Tuhan serta tetap menjaga diri dari segala sesuatu yang dilarang.

Kedelapan, bentuk meminta dengan baik adalah meminta tanpa menuntut untuk segera dikabulkan. Nabi s.a.w. melarang tingkah semacam itu: “Doa kalian pasti dikabulkan selama tidak berkata: “Aku telah berdoa tetapi belum juga terkabul.

Al-Qur’ān mengisahkan Mūsā dan Hārūn a.s. ketika mendoakan Fir‘aun agar celaka:

رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَ اشْدُدْ عَلَى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيْمَ

Tuhan, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka. Mereka baru beriman jika melihat siksa yang pedih.” (Yūnus [10]: 88).

Allah s.w.t. menjawab:

قَدْ أُجِيْبَتْ دَّعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيْمَا وَ لَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيْلَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

Permohonan kalian berdua telah dikabulkan. Karena itu, tetaplah kalian di jalan yang lurus. Jangan sekali-kali mengikuti jalan orang yang tidak mengetahui.” (Yūnus [10]: 89).

Antara jawaban Allah: “Permohonan kalian berdua telah dikabulkan,” dan pembinasaan Fir‘aun berselang empat puluh tahun. Syaikh Abul-Ḥasan mengomentari firman Allah: “Karena itu, tetaplah kalian di jalan yang lurus,” dengan berkata: “Maksud ayat itu, jangan menuntut agar permintaan kalian segera dikabulkan. Sementara: “Jangan sekali-kali mengikuti jalan orang yang tidak mengetahui,” adalah mereka yang ingin segera dikabulkan.”

Kesembilan, MEMINTA REZEKI DENGAN BAIK ADALAH MEMINTA DAN BERSYUKUR KEPADA ALLAH JIKA DIBERI, DAN MENYADARI PILIHAN TERBAIK-NYA JIKA TIDAK DIBERI. Mungkin ada orang yang meminta namun tidak bersyukur ketika diberi dan tidak menyadari pilihan terbaik Tuhan ketika tidak diberi. Orang yang meminta kepada Allah seharusnya yakin bahwa kebaikan akan ia dapatkan jika ia diberi. Bagaimana mungkin kita, manusia yang bodoh ini, bisa mengatur ilmu Allah dan mengetahui hal ghaib yang ada pada-Nya? Seorang hamba layak disebut bodoh jika ia mengatur Tuhan. Apabila kau meminta kepada-Nya, berserah dirilah kepada-Nya, jangan ikut mengatur dan memilih. Sebab:

وَ رَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَ يَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih. Mereka tidak memiliki pilihan.” (al-Qashash [28]: 68).

Kau mesti berserah diri karena apa yang kau inginkan merupakan sesuatu yang masih samar, belum mewujud dalam kenyataan. Untuk lebih jelasnya, ketahuilah bahwa kandungan doa terdiri atas tiga macam. Pertama, yang jelas-jelas berupa kebaikan. Untuk jenis ini, mintalah kepada Allah seluruh kebaikan, seperti iman dan ketaatan. Kedua, yang jelas-jelas berupa keburukan. Karenanya, mintalah kepada Allah agar kau selamat dari seluruh keburukan, seperti kekufuran dan kemaksiatan. Ketiga, sesuatu yang belum pasti seperti kekayaan, kehormatan, dan jabatan. Maka, mintalah kepada Allah disertai ucapan: “Jika Engkau mengetahui hal itu baik untukku.” Begitulah yang saya dengar dari guru kami.

Kesepuluh, meminta rezeki dengan baik adalah meminta kepada-Nya agar kau berpegang pada pembagian-Nya yang telah ditetapkan, tidak kepada permintaanmu. Selain itu, ketika kau meminta, tetapkanlah dalam benakmu bahwa kau tidak layak mendapatkannya. Orang semacam ini sangat pantas mendapatkan pemberian Tuhan. Syaikh Abul-Ḥasan berkata: “Ketika meminta sesuatu, ku letakkan dosaku di hadapanku.”

Maksudnya adalah agar ia tidak meminta kepada Allah dengan perasaan layak atasnya. Namun, ia hanya meminta datangnya karunia Tuhan lewat karunia-Nya pula.

Itulah sepuluh bentuk cara mencari/meminta rezeki yang baik. Kami tak bermaksud untuk membatasinya (cuma menjadi sepuluh), karena persoalannya sebetulnya lebih luas lagi. Semoga apa yang kami sampaikan ini sesuai dengan pengetahuan yang Allah singkapkan kepada kami. Karya ini semata-mata menguraikan warisan sang pemilik cahaya yang luas (Nabi s.a.w.). Orang bisa mengambil darinya sesuai dengan cahaya yang dimilikinya. Setiap orang mengambil dari lautan permatanya sesuai dengan kekuatannya menyelam. Masing-masing memahaminya sesuai dengan tingkat pemahaman yang diberikan kepadanya. Allah berfirman:

يُسْقى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَ نُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ

Ia disirami dengan air yang sama. Kami lebihkan rasa sebagian tanaman atas tanaman lainnya.” (ar-Ra‘d [13]: 4).

Apa yang luput dari mereka lebih banyak daripada yang diraih. Nabi s.a.w. bersabda: “Aku diberi kemampuan berbicara singkat dan padat. Pembicaraanku sangatlah ringkas.

Ucapan Rasūlullāh memang ringkas, namun seandainya para ulama sepanjang zaman berusaha menguraikan seluruh rahasia dari satu kata yang diucapkan Rasūlullāh, tentu mereka takkan bisa menjangkau dan memahaminya. Sampai-sampai seorang alim berkata: “Aku mengamalkan hadits ini selama tujuh puluh tahun dan aku belum pernah tamat, yaitu sabda Rasūlullāh: “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.

Sungguh benar ucapan alim itu. Seumur hidup ia tetap tidak akan selesai menyingkap dan mengamalkan rahasia hadits itu.

“Orang mudah risau soal rezeki bila ia memandang rezekinya bergantung pada usahanya atau usaha orang lain. Ini memang soal cara memandang, bukan soal cara hidup. Anjuran untuk yakin bahwa Allah sudah menjamin rezeki bukanlah berarti anjuran untuk tidak berusaha. Seseorang akan lebih murni tauhidnya, lebih tenang dan optimis hidupnya, bila memandang rezekinya bergantung sepenuhnya pada Allah. Temanilah setiap usaha dengan cara pandang ini. Kalau tidak, kita akan mudah cemas, pesimis, dan putus asa.”Tutur Nurani Penjernih Hati.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *