Bersabar karena Miskin, Bersyukur karena Kaya: Lebih Baik yang Mana?- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah – Agar Rezeki yang Mencarimu (2/2)

Sampul Buku Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya
Rangkaian Pos: Bersyukur karena Kaya: Lebih Baik yang Mana?- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah - Agar Rezeki yang Mencarimu
  1. 1.Bersabar karena Miskin, Bersyukur karena Kaya: Lebih Baik yang Mana?- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah – Agar Rezeki yang Mencarimu (1/2)
  2. 2.Anda Sedang Membaca: Bersabar karena Miskin, Bersyukur karena Kaya: Lebih Baik yang Mana?- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah – Agar Rezeki yang Mencarimu (2/2)

Abū Sa‘īd ibn ‘Arabī meriwayatkan dari jalur Ibnu Abī ‘Awwām – Yazīd ibn Hārūn – Abū Asyhab dari al-Ḥasan yang menceritakan: “Seorang laki-laki berkata kepada ‘Utsmān ibn ‘Affān r.a.: “Wahai orang kaya, kalian memborong kebaikan, kalian bersedekah, memerdekakan budak, melaksanakan haji, dan berinfak.” Mendengar itu, ‘Utsmān ibn ‘Affān r.a. lalu berkata: “Kalian iri pada kami, padahal kami iri pada kalian. Demi Allah, SATU DIRHAM YANG DISEDEKAHKAN OLEH seseorang DENGAN SUSAH PAYAH, LEBIH BAIK DARIPADA SEPULUH RIBU DIRHAM YANG DIAMBIL DARI HARTA YANG MELIMPAH.”

Dalam Sunan Abī Dāwūd disebutkan salah satu hadits dari jalur Laits – Abū Zubair – Yaḥyā ibn Ja‘dah dari Abū Hurairah yang bertanya: “Wahai Rasūlullāh, sedekah apa yang paling utama?”

Beliau menjawab: “Sedekah yang dikeluarkan dengan susah payah oleh orang fakir. Dan mulailah (sedekah) kepada orang yang menjadi tanggunganmu.”

Dalam al-Musnad dan Shaḥīḥ Ibn Ḥibbān disebutkan hadits riwayat Abū Dzarr r.a. yang bercerita: “Aku bertanya kepada Rasūlullāh s.a.w.: “Wahai Rasūlullāh, sedekah seperti apakah yang paling utama?”
Yang dengan susah payah (diberikan) oleh orang yang melarat,” jawab Rasūlullāh.”

Dalam Sunan an-Nasā’ī disebutkan hadits riwayat al-Auzā‘ī dari ‘Ubaid ibn ‘Umair, dari ‘Abdullāh ibn Ḥabsyī bahwa Nabi s.a.w. ditanya tentang amal yang paling utama, beliau menjawab: “Iman yang tak mengandung keraguan, jihad yang tak mengandung kecurangan, dan haji yang mabrur.”

Lalu ditanyakan: “Shalat yang bagaimana yang paling utama?”

Yang berdirinya lama,” jawab beliau.

Ditanyakan lagi: “Sedekah apa yang paling utama?”

Yang dengan susah payah dikeluarkan oleh orang melarat,” jawab beliau.

Masih ditanya lagi: “Hijrah apakah yang paling utama?”

Orang yang berhijrah dari apa yang diharamkan Allah,” jawab beliau.

Ditanyakan lagi: “Jihad bagaimanakah yang paling utama?”

Orang yang darahnya tumpah dan kudanya tersungkur,” jawab beliau.

Semua hadits tersebut menunjukkan bahwa sedekah yang dikeluarkan dengan susah payah oleh orang miskin lebih utama ketimbang sedekah orang kaya berupa sebagian hartanya, sebab sedekah orang kaya, meski besar, tidak membuat hartanya banyak berkurang.

Juga sebab amal itu bertingkat-tingkat di sisi Allah sesuai dengan tingkatan hati pelakunya, bukan berdasarkan banyaknya amal itu ataupun bentuknya, melainkan berdasarkan motivasinya, ketulusannya, dan sikapnya mengutamakan Allah daripada dirinya sendiri.

Sedekah sehelai roti yang merupakan makanan sehari-hari oleh orang yang lebih mengutamakan Allah, jika dibandingkan sedekah seratus ribu dirham oleh orang yang hartanya berlimpah, tentulah sedekah roti orang pertama lebih berat dalam timbangan Allah ketimbang seratus ribu dirham orang kedua. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Orang-orang juga berdalil dengan hadits riwayat Ibnu ‘Adī dari jalur Sulaimān ibn ‘Abd-ur-Raḥmān – Khālid ibn Yazīd – bapaknya (Yazīd) – ‘Athā’ dari Abū Sa‘īd al-Khudrī yang mendengar Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Ya Allah, matikanlah aku sebagai orang miskin, dan jangan Engkau matikan aku sebagai orang kaya.”

Hadits ini tidak shaḥīḥ karena para ulama telah sepakat bahwa Khālid ibn Yazīd ibn ‘Abd-ur-Raḥmān ibn Mālik ad-Dimasyqī adalah perawi yang dha‘īf dan riwayatnya tak bisa dijadikan dalil. Aḥmad berkomentar tentangnya: “Dia tak dianggap.” Sedangkan Ibnu Mu‘īn berkata: “Dia lemah.” Yaḥyā bahkan menyebutnya sebagai pembohong.

Syaikh-ul-Islām Ibnu Taimiyah pernah ditanya soal ini. Dia menjawab: banyak sekali ulama muta’akhkhirīn yang bersilang pendapat mengenai siapa yang lebih utama antara orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang bersabar.

Sekelompok ulama dan ahli ibadah mengunggulkan orang kaya yang bersyukur, sementara kelompok ulama dan ahli ibadah lainnya mengunggulkan orang miskin yang bersabar.

Berkenaan dengan masalah ini, ada dua pendapat yang diriwayatkan dari Imām Aḥmad. Sementara dari kalangan sahabat dan tābi‘īn tak ditemukan seorang pun yang mengunggulkan salah satunya.

Sedangkan kelompok ketiga berpendapat bahwa keunggulan yang satu dari pihak lainnya hanyalah berdasarkan ketakwaan. Siapa pun di antara mereka yang lebih besar iman dan takwanya, dialah yang terbaik. Namun, jika sama saja, maka derajat mereka pun sejajar. Inilah pendapat yang paling benar. Karena, teks-teks dalil al-Qur’ān dan hadits menegaskan bahwa keutamaan seseorang hanyalah berdasarkan iman dan taqwa. Allah berfirman:

إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيْرًا فَاللهُ أَوْلَى بِهِمَا

“… jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya….” (an-Nisā’ [4]: 135).

Di kalangan para nabi dan generasi pertama Islam juga banyak yang kaya, dan mereka lebih utama daripada kebanyakan orang miskin. Di antara mereka juga ada orang-orang miskin yang lebih utama dibanding kebanyakan orang kaya. Orang-orang yang sempurna adalah yang berdiri di atas dua kaki, yakni syukur dan sabar yang sempurna, sebagaimana keadaan Nabi kita, Muḥammad s.a.w., dan keadaan Abū Bakr r.a. dan ‘Umar r.a.

Namun demikian, miskin adakalanya lebih bermanfaat bagi orang tertentu, sedang kaya lebih bermanfaat bagi yang lain, seperti halnya sehat lebih bermanfaat bagi sebagian orang, dan sakit lebih bermanfaat bagi yang lain. Dalam hadits qudsi riwayat al-Baghawī dan lainnya, Nabi s.a.w. mengabarkan bahwa Tuhan berfirman: “Sesungguhnya di antara para hamba-Ku ada yang hanya pantas menjadi orang kaya, yang seandainya ia Ku jadikan miskin, niscaya kemiskinan itu merusak hidupnya. Sesungguhnya di antara para hamba-Ku ada yang hanya pantas menjadi orang miskin, yang seandainya ia Ku jadikan kaya, niscaya kekayaan itu merusak hidupnya. Sesungguhnya di antara para hamba-Ku ada yang hanya pantas menjadi orang sehat, yang seandainya ia Ku jadikan sakit, niscaya keadaan sakit itu merusak hidupnya. Sesungguhnya di antara para hamba-Ku ada yang hanya pantas menjadi orang sakit, yang seandainya ia Ku jadikan sehat, niscaya kesehatan itu merusak hidupnya. Sungguh Aku mengatur para hamba-Ku. Sungguh Aku Maha Mengetahui segala sesuatu tentang mereka lagi Maha Melihat mereka.

Memang benar Nabi s.a.w. telah bersabda: “Orang-orang miskin dari kaum muslim akan masuk surga sebelum orang-orang kaya,” namun dalam hadits lainnya disebutkan bahwa ketika Rasūlullāh s.a.w. mengajarkan dzikir sesudah shalat kepada orang-orang miskin, dzikir itu juga didengar oleh orang-orang kaya, sehingga mereka pun membaca dzikir yang sama. Hal ini kemudian diadukan kepada Nabi s.a.w. Beliau pun bersabda: “Itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada siapa pun yang Dia kehendaki.

ORANG MISKIN MASUK SURGA DULUAN KARENA HISAB MEREKA RINGAN, SEDANGKAN ORANG KAYA MASUK SURGA BELAKANGAN KARENA PROSES HISAB MEREKA LEBIH LAMA. Apabila pahala kebaikan salah seorang di antara orang kaya itu, setelah dihisab, ternyata melebihi pahala kebaikan orang miskin, maka derajatnya di surga pun lebih tinggi kendati ia masuk surga belakangan.

Sebagaimana halnya tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab – yang salah satunya adalah Ukasyah ibn Muḥshan al-Asadī; bisa saja seseorang yang menjalani hisab lebih dulu derajatnya di surga lebih tinggi daripada mereka yang masuk surga tanpa hisab. Hanya, bedanya, mereka yang masuk surga lebih dulu bisa beristirahat dari proses hisab yang melelahkan.

Demikianlah pembahasan mengenai kemiskinan yang disebutkan dalam al-Qur’ān dan sunnah.

Ada pula pemahaman sekelompok orang bahwa al-faqr (kefakiran) merupakan istilah yang mengungkapkan sikap zuhud, ketekunan ibadah, dan akhlak yang mulia. Orangnya disebut al-faqīr, meskipun dia kaya. Sebaliknya, orang yang tak bersikap demikian, tidak disebut al-faqīr, meskipun dia miskin. Pengertian al-faqr ini terkadang disebut dengan tashawwuf.

Sementara itu, ada juga yang membedakan antara al-faqīr dan sufi. Ada pula yang berpendapat bahwa penyebutan al-faqīr lebih utama, juga ada yang berpendapat kalau penyebutan sufi lebih utama.

Seyogianya masalah ini tak ditinjau dari kata-kata dan istilah yang dipakai, tapi dari keterangan al-Qur’ān dan sunnah; di sana Allah menyatakan bahwa para kekasih-Nya memiliki sifat iman dan takwa. Jadi, siapa saja yang lebih besar keimanan dan ketakwaannya, dialah yang lebih mulia. Mau kaya atau miskin, sama saja. Wallāhu a‘lam.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *