Asal Iblis – Bagaimana Menolak Sihir dan Kesurupan Jinn

Bagaimana Menolak Sihir dan Kesurupan Jinn
Judul Asli: (Al-Mu‘aliju bil-Qur’ani baina Sihr-il-Kihani wa Mass-il-Jinni)
Penulis: Ali Murtadha as-Sayyid
 
Penerjemah: Abd. Rohim Mukti, LC.M.M
Penerbit: Maktabah al-Qur’an

Asal Iblīs

 

Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan serta mengklasifikasikan asal usul Iblīs. Apakah ia dari golongan malaikat atau dari golongan jinn. Sungguh sangat banyak perselisihan pendapat dalam pengelompokan ini.

Pendapat yang benar menurut sebagian ahli ilmu adalah sesungguhnya Iblīs adalah dari golongan jinn yang telah Allah ciptakan dari api, sesuai sabda Rasūlullāh s.a.w.:

(خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَ خُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَ خُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ). (رواه مسلم)

Malaikat diciptakan dari cahaya; sedangkan jinn diciptakan dari nyala api; dan Ādam diciptakan sebagaimana yang telah disifatkan kepada kalian (dari tanah).” (HR. Muslim).

Ḥasan al-Bashrī berkata: “Tidak benar sama sekali jika dikatakan bahwa Iblīs berasal dari golongan malaikat walaupun hanya sekedip mata. Iblīs berasal dari golongan jinn, seperti halnya Ādam adalah asal-usul manusia. Iblīs termasuk dalam perintah Allah bersama malaikat karena ia bersama malaikat pada waktu itu, dan sama seperti mereka dalam hal ibadah.”

Mengapa Iblīs keluar dari sifat-sifat kemalaikatan yang mulia dan taat kepada perintah Tuhannya?

Jawabannya adalah karena ketika Iblīs durhaka kepada Allah, maka Allah menjelaskan bahwa asal-usulnya adalah dari golongan jinn, sehingga ia keluar dari asalnya itu dan tampak dalam barisan orang yang diberi kewajiban beribadah yang memiliki ikhtiar. Berbeda dengan malaikat yang tetap berada pada penciptaan Allah. Mereka tidak durhaka terhadap perintah Allah dan mengerjakan semua perintah-Nya. Allah s.w.t. berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Ādam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblīs” Dia adalah dari golongan jinn, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (al-Baqarah: 34).

Iblīs kemudian keluar dari surga dengan takdir Allah sebagai fitnah bagi hamba dari hamba-hambaNya yang Dia kehendaki. Allah berfirman:

Tuhan berfirman: “Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaithan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (al-Isrā’: 63-64).

Syaithan keluar dari surga untuk menunggu adzab dan kesengsaraan yang abadi yang tidak terputus. Allah s.w.t. berfirman:

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari Kiamat.” (al-Ḥijr: 34-35).

Oleh karena itu, ketika Iblīs mengetahui bahwa tempat kembalinya adalah pengusiran dan keputusasaan dari rahmat Allah, maka ia pun segera mengibarkan panji pendurhakaan dengan semangat yang berkobar-kobar. Ia juga bersumpah dengan keagungan Allah akan menjerumuskan hamba-hambaNya, sebagaimana sabda Rasūlullāh s.a.w.:

(إِنَّ الشَّيْطَانَ قَالَ للهِ عَزَّ وَ جَلَّ: وَ عِزَّتِكَ يَا رَبِّ لَا أَبْرَحُ أُغْوِيْ عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِيْ أَجْسَادِهِمْ فَقَالَ الرَّبُّ: وَ عِزَّتِيْ وَ جَلَالِيْ لَا أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُوْنِيْ) (رواه أحمد).

Syaithan telah berkata kepada Allah: “Demi keagungan-Mu wahai Tuhanku. Aku tidak akan berhenti untuk menjerumuskan hamba-hambaMu selagi ruh mereka masih berada dalam jiwa-jiwa mereka.” Maka Allah menjawab: “Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tidak akan berhenti memberi ampunan kepada mereka selagi mereka meminta ampunan kepada-Ku.” (HR. Aḥmad).

Ketika Iblīs mengetahui bahwa sesungguhnya setiap permasalahan tidak berada di tangannya, untuk menyesatkan orang yang ia suka dan memberi petunjuk kepada orang yang ia suka, ia berkata:

Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlas di antara mereka.” (Shād: 83).

Syaithan pun mengerti bahwa ia tidak memiliki sesuatu pun kecuali bujukan-bujukan dan penyesatan. Ia pun tahu tidak akan dapat mencapai keinginan dan cita-citanya untuk menyesatkan orang-orang yang saleh yang ikhlas. Ia hanya dapat memengaruhi orang yang mengikutinya dan menjadikannya sebagai pemimpin, sebagaimana firman Allah s.w.t.:

Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (al-Ḥijr: 42).

Iblīs pun bangkit untuk memainkan perannya dalam mengingkari setiap ketaatan dan menunggu untuk menghadang setiap jalan yang dapat mencegah orang dari kebenaran. Sebagaimana perkataan:

“…. Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (al-A‘rāf: 16).

Syaithan mengajak ke arah kejelekan, kekejian, menebar fitnah, dan mengobarkan api peperangan. Tidaklah Allah menguasakan kepada Iblīs pekerjaan-pekerjaan jahat dan mungkar yang keji, kecuali hanya idzin Allah yang bersifat takdir dan bukan atas idzin yang bersifat syar‘i. Sesungguhnya Allah tidak pernah memerintahkan kepada kemungkaran dan tidak meridhai kekufuran atas hamba-hambaNya, Allah s.w.t. berfirman:

Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu….” (az-Zumar: 7).

Allah memberi idzin kepada Iblīs dalam hal yang jelek dan sesat karena kenyataan bagi orang mu’min berlawanan dengan perilaku syaithan dalam hal-hal ibadah, taat, mujāhadah, istiqāmah, kedudukan, dan membedakan antara yang hak dan yang batil – yang tidak dapat diwujudkan kecuali dengannya. Oleh karena itu, penciptaan Iblīs merupakan kebaikan yang dimaksudkan untuk yang selainnya dan bukan kejelekan yang dimaksudkan untuk dzāt Iblīs itu sendiri. Demikian pula apa saja yang membuat Allah murka, maka itu merupakan kejelekan yang tidak diinginkan.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.