Renungi Hidup untuk Bersyukur – Ibnu ‘Atha’illah – Agar Rezeki yang Mencarimu

Sampul Buku Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya

Untuk tenang dalam masalah rezeki, kita perlu memaksimalkan kepasrahan kepada Allah setelah mengoptimalkan ikhtiar (tawakkal), merasa cukup dengan yang sudah ada (qanā‘ah), serta menyadari pemberian dari Allah dan menggunakannya sesuai rida-Nya (syukur). Sampai di sini kita sudah menyimak petuah-petuah pengetuk hati tentang dua syarat pertama. Maka kini saatnya mendengar nasihat tentang yang ketiga. Untuk itu kali ini kita akan sejenak kembali mengunjungi kitab Bahjat an-Nufūs karya Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh as-Sakandarī, pengarang kitab al-Ḥikam.

 

4

Renungi Hidup untuk Bersyukur

Ibnu ‘Athā’illāh as-Sakandarī (648-709 H)

 

Betapa banyak karunia yang Allah berikan. Betapa banyak pertolongan yang Allah ulurkan – yang melebihi ibu yang sang mengasihi. Sejak kecil engkau sudah dirawat dan diberi baju terbagus oleh ibumu. Jika baju itu kotor, sang ibu akan menggantinya dengan baju lain yang masih bersih. Baju yang kotor itu pun lalu dicucinya. Makan, minum, istirahat, dan tidurmu begitu diperhatikannya. Sementara engkau sendiri tak mengetahui apa yang ia perbuat.

Demikian pula keadaanmu ketika hadir di kerajaan dunia ini. Semua kebutuhanmu telah Allah siapkan. Semua sarana yang membuatmu tenteram juga Allah sediakan. Allah berfirman:

وَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ إِنَّ فِيْ ذلِكَ لَآيَاتٍ لَّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dia telah menyediakan untuk kalian seluruh yang di langit dan di bumi. Sungguh di dalamnya terdapat tanda-tanda kekuasaan bagi kaum yang berpikir.” (al-Jātsiyah [45]: 13). Allah juga berfirman:

وَ مَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

Semua nikmat yang ada padamu berasal dari Allah.” (an-Naḥl [16]: 53).

Bila akalmu lemah, tak menyadari baju yang dipakai, dan tak mengetahui nikmat lahir dan batin yang ada padamu, maka keadaanmu itu sama seperti anak kecil yang dikenakan baju paling bagus dan paling indah oleh ibunya. Si anak tentu saja tidak sadar dan tak mengetahui nilainya. Bahkan, bisa jadi baju itu dikotori dan dirobeknya. Melihat hal itu sang ibu pun dengan segera memakaikan baju lain agar auratnya tak terlihat orang. Lalu ia cuci baju yang kotor tadi dan ia jahit yang robek sementara si anak tak mengetahui karena akalnya memang masih lemah.

Wahai hamba Allah, Allah pun telah memakaikan baju makrifat, baju tauhid, baju cinta, baju iman, baju Islam, dan baju kemuliaan. Allah juga telah menyiapkan seluruh alam ini untukmu agar engkau menyucikan-Nya, bersyukur pada-Nya, dan menyembah-Nya. Allah berfirman:

وَ آتَاكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوْهُ وَ إِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

Dia telah memberi kalian semua yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, pastilah kalian tak dapat menghinggakannya. Sungguh manusia sangat zhalim dan ingkar.” (Ibrāhīm [14]: 34).

Karena itu, peliharalah semua baju tersebut. Jangan mengotorinya dengan maksiat dan jangan mengoyaknya dengan dosa. Tapi jaga dan peliharalah dengan senantiasa bersyukur, taat dan memuji-Nya. Allah berfirman:

وَ إِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَ لَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Allah telah memaklumatkan: “Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambah (nikmat) kalian. Tetapi jika kalian ingkar, sungguh siksa-Ku begitu pedih.” (Ibrāhīm [14]: 7).

Ketahuilah, siapa yang membersihkan bajunya dari kotoran, niscaya Allah senantiasa memeliharanya. Sebetulnya setiap jengkal tanah bisa dijadikan tempat sujud, namun engkau kemudian melumurinya dengan dosa. Ia juga menampakkan berbagai keindahan, hanya saja engkau membuatnya keruh dengan maksiat. Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ بَدَّلُوْا نِعْمَةَ اللهِ كُفْرًا وَ أَحَلُّوْا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ. جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَ بِئْسَ الْقَرَارُ

Tidakkah kamu lihat orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekufuran dan menempatkan kaumnya ke tempat kebinasaan, yaitu neraka Jahannam; mereka masuk ke dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (Ibrāhīm [14]: 28-29).

Perhatikan, wahai manusia, apa yang telah engkau perbuat dan apa yang telah Allah perbuat kepadamu sejak lahir sampai saat ini. Engkau akan menyadari bagaimana Dia senantiasa memberikan kemurahan, kebaikan, maaf, dan ampunan. Namun, coba engkau renungkan apa yang telah engkau perbuat kepada-Nya. Yang ada hanyalah pembangkangan, kemaksiatan, kekufuran, penyimpangan, dan ketidakpatuhan. Kalau ada yang mengasihimu karena ketaatanmu padanya, itu hal biasa dan lumrah. Tapi, yang luar biasa, ada Dzāt yang selalu mengasihimu padahal engkau selalu menentang dan membangkang kepada-Nya.

Sebagian orang ‘ārif selalu menundukkan kepala ketika meminum air dingin karena malu kepada Allah. Bahkan, kadangkala mereka meneteskan air mata karena menyadari nikmat yang Allah berikan sementara mereka merasa tak bisa berbuat banyak untuk mensyukurinya. Mereka berucap: “Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.”

“Nabi s.a.w. pernah bertanya kepada seseorang: “Apa kabarmu?” Ia menjawab: “Baik.” Nabi pun mengulangi pertanyaan itu, dan orang itu juga memberi jawaban yang sama. Nabi lalu mengulangi pertanyaan itu lagi, dan orang itu menjawab: “Baik. Saya memuji Allah ta‘ālā dan aku bersyukur kepada-Nya.” Nabi lantas berkata: “Itulah yang aku inginkan darimu.” Setiap orang bila ditanya tentang suatu hal, ia boleh jadi bersyukur sehingga menjadi orang yang taat, atau kalau tidak, ia mengeluh sehingga menjadi orang yang maksiat.”Imām al-Ghazālī.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *