Karamah Abu Muhammad Habib al-Farisi – Rezeki Para Wali & Nabi

Rezeki Para Nabi dan Wali
TIP-TIP MENGAIS REZEKI HALAL

Oleh: Yusni Amru Ghazali

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Rangkaian Pos: Karamah Para Wali Terkait Rezeki - Rezeki Para Wali & Nabi
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Karamah Abu Muhammad Habib al-Farisi – Rezeki Para Wali & Nabi
  2. 2.Karamah Syaikh Habib al-‘Ajami, Muhammad ibn Ahmad ibn Sayyid Hamdawai & Muhammad ibn Ya‘qub al-‘Araji – Rezeki Para Wali & Nabi

Empat

KARĀMAH PARA WALI TERKAIT REZEKI

 

Kisah-kisa yang di bawah ini disarikan dari sebuah kitab klasik yang sangat masyhur di kalangan umat Islam yaitu Jāmi‘u Karāmāt-il-Auliyā’ karya Syaikh al-Qādhī Yūsuf bin Ismā‘īl an-Nabhānī. Tujuan dari menampilkan kisah ini, bukan mengajak orang untuk menghasilkan uang atau rezeki dengan cara magic. Memang para wali dan nabi mampu mendapatkan rezeki dengan mudah sekali, bahkan langsung dari Allah s.w.t. Tapi, Islam tidak menganjurkan umatnya untuk mencari rezeki dengan cara instan, karena itu akan membuat orang malas berkarya. Jika kita menyadari sebagai manusia biasa yang derajatnya jauh di bawah wali apalagi nabi, sebaiknya jangan terlalu banyak mengkhayal untuk mendapatkan rezeki dengan karamah atau mu‘jizat. Kemampuan wali dan nabi mendapatkan rezeki dengan cara karamah dan mu‘jizat tidaklah bisa diteladani. Karena itu merupakan karunia dari Allah s.w.t., yang secara khusus diberikan pada sebagian hamba yang Dia kehendaki. Lalu, apa hikmah yang bisa kita petik dari kisah-kisah tersebut?

Para wali dan nabi adalah sebagian kecil dari hamba Allah s.w.t. yang melepaskan diri dari dunia ini dengan total. Ketika manusia pada umumnya bekerja keras, berangkat pagi pulang malam mencari harta dunia, mereka justru sibuk mengingat Allah s.w.t., sepenuh waktu. Mereka memandang dunia ini hina dan tak layak dijadikan tujuan. Selama kaya, populer, dan glamor itu masih di dunia, maka sifatnya hanya majazi. Para wali dan nabi adalah orang-orang ahli hakikat, yang mereka kejar adalah hal-hal yang hakiki dan itu hanya ada di kehidupan akhirat, bukan di dunia yang fanā’ ini.

Mereka yang meninggalkan dunia bahkan menghinakan dunia justru dikejar-kejar oleh dunia dan tidak pernah dibuat susah oleh masalah dunia. Inilah satu hikmah dari para wali dan nabi yang patut kita teladani. Keteguhan dan kekuatan iman mereka pada Allah, membuat mereka abai untuk memperhatikan apa pun selain Dia. Jadi, pesannya adalah jangan mudah ta‘jub pada keindahan dunia dan isinya. Kita memang tidak sederajat dengan para wali dan nabi, tapi mereka adalah suri teladan kita dalam hidup ini. Mungkin, kita tidak mampu mengabaikan dunia seperti mereka. Tapi, minimal itu akan mengubah cara pandang kita terhadap dunia ini, bahwa ia hanya sementara. Dan, tidak layak menjadi tujuan utama sehingga harus mengabaikan kehidupan ukhrawi kita. Perlu diketahui, bahwa dunia dan semua yang ada di dalamnya ini bahkan cukup didapat dengan dua rakaat shalat sunnah sebelum Shubuh. Hawa-nafsu mungkin akan berkata: “Itu kan di akhirat,” tapi ketahuilah bahwa itu lebih baik, daripada di dunia miskin dan di akhirat juga miskin. Miskin dan kaya di dunia ini hanya majazi dan sementara, tapi miskin dan kaya di akhirat adalah hakiki dan selamanya. Berikut ini kisah-kisah para wali:

 

1. Karamah Abū Muḥammad Ḥabīb al-Fārisī.

Seseorang Datang Membawa Pakaian Penuh Uang.

Al-Yāfi‘ī mengatakan: Abū Muḥammad Ḥabīb al-Fārisī mempunyai seorang istri yang buruk akhlaknya. Pada suatu hari, sang istri mengatakan: “Jika Allah belum membukakan pintu rezeki sedikit pun untukmu, pergilah bekerja!” Kemudian beliau pergi ke maqām (kubur – makam) hingga shalat ‘Isyā’. Sesampainya di rumah, beliau sangat malu melihat istri yang hatinya disibukkan dengan urusan dunia. Sang istri bertanya: “Mana gaji kamu?” Beliau menjawab: “Sungguh, Dzāt yang memberi upah sangat malu untuk memberiku dengan segera.” Beberapa hari beliau berdiam diri dengan sang istri. Beliau melakukan shalat setiap hari di maqām hingga larut malam. Kemudian, sang istri bertanya: “Di mana upah kamu setiap harinya?” Beliau menjawab: “Dzat yang mulia akan memberi upah kepadaku, namun saya justru khawatir jika upah itu datang dengan segera.” Setelah keadaan seperti itu berlangsung lama, sang istri memerintahkan kepada beliau: “Pergilah dan cari upah kamu! Atau carilah upah selain dari Dia!”

Setelah itu, beliau berjanji kepada sang istri untuk mencari upah. Beliau pergi keluar seperti biasanya. Menjelang malam hari, beliau kembali ke rumahnya dengan penuh rasa takut. Beliau kaget saat melihat hidangan yang masih hangat sudah tersaji. Sementara sang istri sangat berbinar-binar wajahnya. Sang istri mengatakan: “Telah datang kepada kita seorang utusan dari Dzāt yang menjanjikan upah kepadamu. Utusan itu mengatakan kepadaku: “Sampaikan kepada suaminya, Ḥabīb al-Fārisī bahwa dia adalah pekerja keras. Beri tahu dia bahwa saya tidak akan menunda pemberian upah karena pelit atau tidak punya. Untuk itu, bergembiralah karena akan melihat banyak hal yang menyenangkan.” Kemudian, sang istri menunjukkan pakaian-pakaian yang penuh dengan dinar kepada suaminya. Ḥabīb al-Fārisī langsung menangis. Beliau mengatakan kepada sang istri: “Ini adalah upah dari Dzāt yang Maha Mulia. Segala harta simpanan di langit dan bumi berada di bawah kekuasaan-Nya.” Mendengar perkataan itu, sang istri langsung bertobat kepada Allah s.w.t. Dia berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan buruk yang pernah dilakukannya.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *