Hati Senang

03-1 Khaizuran Binti ‘Atha’ (W. 173 H.) & Akultursi Budaya Persia – Sejarah Maulid Nabi

SEJARAH MAULID NABI
Meneguhkan Semangat Keislaman dan Kebangsaan
Sejak Khaizurān (173 H.) Hingga
Ḥabīb Luthfī bin Yaḥyā (1947 M. – Sekarang)

Penulis: Ahmad Tsauri
Diterbitkan oleh: Menara Publisher

Rangkaian Pos: 003 Perayaan Maulid Nabi Di Era Klasik | Sejarah Maulid Nabi
  1. 1.03-0 Perayaan Maulid Nabi Di Era Klasik – Sejarah Maulid Nabi
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 03-1 Khaizuran Binti ‘Atha’ (W. 173 H.) & Akultursi Budaya Persia – Sejarah Maulid Nabi
  3. 3.03-2 Ka’ab Bin Zuhair & Tradisi Memuji Nabi S.A.W. – Sejarah Maulid Nabi
  4. 4.03-3 Perhelatan Maulid Akbar Dari Masa Ke Masa – Sejarah Maulid Nabi

Catatan:

  1. 5). Aḥmad Khalīl Jumah, Nisā’ Min-at-Tārīkh, (Beirut: al-Yamamah, 2000), Cet ke-II, hlm. 231-254.
  2. 6). ‘Abd-ur-Raḥmān Jalāluddīn as-Suyūthī, Tārīkh-ul-Khulafā’, (Beirut: Dār al-Fikr, tth), hlm. 123.
  3. 7). Ḥasan Ibrāhīm Ḥasan, Tārīkh-ul-Islām; as-Siyāsī wad-Dīniy wa Tsaqafī wal-Ijtimā‘ī, (Beirut: Dāru Iḥyā’-it-Turāts-il-‘Arabī, 1964), juz II, cet ke-7, hlm. 369-370.
  4. 8). Antony Black, Pemikiran Politik Islam; Dari Masa Nabi hingga Masa Kini, (Jakarta: Serambi, 2006 M.), Cet ke-1, hlm. 56-74, 107-120.
  5. 9). Ḥasan Ibrāhīm Ḥasan, Tārīkh-ul-Islām; as-Siyāsī wad-Dīniy wa Tsaqafī wal-Ijtimā‘ī, (Beirut: Dāru Iḥyā’-it-Turāts-il-‘Arabī, 1964), juz II, cet ke-7, hlm. 345.
  6. 10). Dalam tradisi hukum Islam, menyerupai kelompok lain yang berbeda agama merupakan larangan. Larangan ini didasarkan kepada Hadits yang berbunyi:

    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

    Barang siapa menyerupai satu komunitas maka ia termasuk ke dalam kelompok mereka.

    Hadits ini diriwayatkan oleh Imām Aḥmad, Abū Dāwūd, dan Thabrānī. Hadits ini bersambung kepada sahabat ‘Abdullāh bin ‘Umar dengan status marfū‘ dengan kualitas hadits dha‘if. Konsep tasyabbuh ini sangat kompleks. Secara umum menyerupai non-muslim dibagi dua macam. Pertama, penyerupaan (imitasi) yang didasari rasa simpati pada agama mereka. Imitasi semacam ini dapat berupa penggunaan simbol keagamaan yang menjadi ciri khusus mereka, seperti dalam berpakaian, peribadatan, dan perayaan keagamaan. Penyerupaan semacam ini bisa menyebabkan kufur. Kedua, penyerupaan yang tanpa didasari oleh kecenderungan percaya kepada agama mereka, seperti menyerupai hal-hal di atas tanpa ada keinginan masuk kepada agama mereka. Perbuatan semacam ini hukumnya haram. Lihat az-Zabīdī, Ittiḥāf Sadāh al-Muttaqīn, hlm. 591.

  7. 11). Masyarakat Muslim awal sangat memperhatikan aturan agama. Membuat ritual keagamaan baru merupakan sesuatu yang terlarang. Hal ini didasarkan kepada sejumlah hadits. Di antaranya hadits riwayat Jābir bin ‘Abdillāh berikut:

    كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وُ كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَ كُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

    Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasā’ī dalam Sunan al-Kubrā. Para ulama menyatakan “segala hal baru” adalah bid‘ah. Maksud “hal baru” di sini bukan benar-benar semua perbuatan. Sebab para sahabat melakukan berbagai macam perbuatan atas dasar keumuman perintah Allah s.w.t. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya di akan melihat (balasan)-nya.” (Qs. az-Zalzalah: 49). “Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik.” (Qs. al-Kahfi: 30).

    Saat Rasūlullāh s.a.w. melihat banyak perbuatan “baru” yang dilakukan para sahabat yaitu yang belum pernah beliau contohkan, beliau mendiamkan. Diam beliau dalam masalah seperti ini dapat menjadi argumen kebolehan perbuatan para sahabat itu. Alasannya, Rasūlullāh s.a.w. pasti tidak akan menyetujui perbuatan tercela. Konsep ini berlaku setelah Rasūlullāh s.a.w. wafat. Keumuman hadits di atas terbatas pada perbuatan baru dalam masalah agama. Hadits yang membatasi keumuman dalam hadits itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ā’isyah:

    مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

    Barang siapa yang membuat sesuatu yang baru dalam agama ini padahal bukan bagian dari agama, maka itu tertolak.

    Kedua hadits di atas saling menjelaskan. Hanya saja, hadits ‘Ā’isyah lebih rinci karena menjelaskan sejauhmana cakupan perbuatan baru yang termasuk bid‘ah dhalālah. Hadits terakhir membatasi pada urusan agama (fī amrinā). Dalam riwayat lain. Nabi s.a.w. menjelaskan bahwa perbuatan yang baru juga bisa berupa perbuatan baik. Bila perbuatan baik itu ditiru orang lain. Inisiatornya akan mendapatkan pahala tambahan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa perbuatan baru yang baik tidak termasuk bid‘ah dhalālah. Hadits itu mengatakan:

    مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا.

    Barang siapa yang mentradisikan perbuatan baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya, dan pahala dari orang yang mengikutinya.

    Hadits ini diriwayatkan oleh Imām Muslim dalam kitab Shaḥīḥ Muslim. Apabila semua hal baru adalah sesat, dhalālah dan tertolak, pastinya Rasūlullāh s.a.w. tidak mengapresiasi orang yang mentradisikan hal baik tersebut. Contoh perbuatan baik yang tidak dicontohkan Nabi s.a.w. adalah pelaksanaan shalat Tarāwīḥ pada bulan Ramadhān yang ditradisikan oleh Khalīfah ‘Umar bin al-Khaththāb dan menambahan satu adzan dalam pelaksanaan shalat Jum‘at oleh Khalīfah ‘Utsmān bin ‘Affān. Shalat Tarāwīḥ adalah perbuatan baik. Begitu pula adzan yang ditradisikan Khalīfah ‘Utsmān. ‘Alī bin Muḥammad bin Thāhir bin Yaḥyā, Taḥqīq-ul-Bid‘ah; Dirāsatu Syāmilati Qadīman wa Ḥadītsan, (Saudi ‘Arabia: Dār al-Dhiyā’, 2010), Cet ke-1, hlm. 47-70.

  8. 12). Ḥasan Ibrāhīm Ḥasan, Tārīkh-ul-Islām; as-Siyāsī wad-Dīniy wa Tsaqafī wal-Ijtimā‘ī, (Beirut: Dāru Iḥyā’-it-Turāts-il-‘Arabī, 1964), juz II, cet ke-7, hlm. 344.
  9. 13). Khaizurān ikut mengatur jalannya pemerintahan dan terlalu banyak pemintaan yang menyulitkan al-Hādī. Sifat Khaizurān merupakan efek dari perlakuan al-Mahdī yang sangat memanjakannya. Al-Mahdī selalu mengabulkan permintaan Khaizurān bahkan menyangkut mengangkat atau mengganti pejabat. Aḥmad Khalīl Jumah, Nisā’ Min-at-Tārīkh, (Beirut: al-Yamamah, 2000), Cet ke-II, hlm. 237-241.
  10. 14).

    و قال النقاش: يستجاب الدعاء إذا دخل من باب بني شيبة، و في دار خديجة بنت خويلد (ر) ليلة الجمعة، و في مولد النبي (ص) يَوم الإثنين عند الزوال، و في دار الخيزران عند المجتبى بين العشائين.

    An-Nuqāsy (seorang sarjana al-Qur’ān abad ke-3 – penulis) mengatakan: “(pada masa ia hidup – penulis) dianjurkan berdoa pada saat masuk pintu Abī Syaibah, pada saat masuk rumah Khadījah binti Khuwailid r.a. pada malam Jum‘at, dan di tempat Nabi s.a.w. dilahirkan pada hari Senin saat siang hari, dan di “Dār” Khaizurān di antara waktu Maghrib.” Taqiyyuddīn Muḥammad bin Aḥmad bin ‘Alī al-Fāsī al-Makial-Mālikī, Syifā’-ul-gharāmi bi akhbār-il-balad-il-ḥarām, (Beirut: Dār-ul-Kutub-il-‘Ilmiyyah, 2000), cet I, Juz 1, hlm 486.

  11. 15). Muḥammad bin Aḥmad bin Jubair, Riḥlah, (Leyden: Berill, 1907), Cet, ke-III, hlm. 114.
  12. 16). Aḥmad Muthohar, Maulid Nabi: Menggapai Keteladanan Rasūlullāh s.a.w.. (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010), Cet. ke-1, hlm. 20-22.
  13. 17). Nico Kaptein menulis redaksi asli dari kitab ad-Durr-ul-Munazhzhamu fī Maulid Nabī al-Mu‘azhzham:

    وَ كَانَ الَّذِيْ يَحْمِلُ أَبِيْ (ر) عَلَى جَمْعِهِ وَ إِقْبَالِهِ عَلَى ذلِكَ بِبَصَرِ اعْتِنَائِهِ وَ سَمْعِهِ مَا قَدْ ذَكَرَهُ فِيْ أَوَّلِ الْكِتَابِ مِنْ مُتَابَعَةِ أَهْلِ الْوَقْتِ فِيْ إِقَامَةِ نَيْرُوْز و الْمَهْرَجَان عَنْ أَهْلِ الْكِتَابِ.

    Nico Kaptein, Materials for the History of the Prophet Muhammad’s Birthday Celebration in Mecca, hlm. 75.

  14. 18). Nico Kaptein, Materials for the History of the Prophet Muhammad’s Birthday Celebration in Mecca, hlm. 80.
  15. 19). Nico Kaptein, Materials for the History of the Prophet Muhammad’s Birthday Celebration in Mecca, hlm. 109-110.
Langganan buletin Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru di hatisenang.com

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas