01-3 Iman – Risalah Qusyairiyah

Risalah Qusyairiyah - Induk Ilmu Tasawuf

Dari Buku: RISALAH QUSYAIRIYAH (INDUK ILMU TASAWUF)
(Judul Asli: Ar-Risālat-ul-Qusyairiyyatu fi ‘Ilm-it-Tashawwuf)
Oleh: Imam al-Qusyairy an-Naisabury
Penerjemah: Mohammad Luqman Hakiem, MA - Editor: Tim Risalah Gusti
Penerbit: Risalah Gusti.

Rangkaian Pos: 001 Prinsip-prinsip Tauhid Dalam Pandangan Kaum Sufi | Risalah Qusyairiyah
  1. 1.01-0 Prinsip-prinsip Tauhid Dalam Pandangan Kaum Sufi – Risalah Qusyairiyah
  2. 2.01-1 Ma‘rifatullah – Risalah Qusyairiyah
  3. 3.01-2 Sifat-sifat – Risalah Qusyairiyah
  4. 4.Anda Sedang Membaca: 01-3 Iman – Risalah Qusyairiyah
  5. 5.01-4 Rezeki – Risalah Qusyairiyah
  6. 6.01-5 Kufur – Risalah Qusyairiyah
  7. 7.01-6 Arasy – Risalah Qusyairiyah
  8. 8.01-7 Allah SWT Yang Haq – Risalah Qusyairiyah

BAB I

PRINSIP-PRINSIP TAUHID DALAM PANDANGAN KAUM SUFI

 

IMAN

Abū ‘Abdillāh bin Khafīf berkata: “Iman berarti penetapan qalbu terhadap apa yang telah dijelaskan oleh al-Ḥaqq mengenai hal-hal yang ghaib.

Abul-‘Abbās as-Sayyāriy berkata: “Pemberian Allah itu ada dua macam: “Karāmah dan Istidrāj. Segala hal yang menetap abadi dalam dirimu adalah karamah, dan segala yang sirna dari dirimu adalah istidrāj. Maka katakan saja: “Aku beriman, in syā’ Allāh!

Sahl bin ‘Abdullāh at-Tustariy menandaskan: “Orang-orang yang beriman melihat Allah s.w.t. dengan mata hati, tanpa pangkal batasan dan kawasan.

Abul-Ḥusain an-Nūriy berkata: “Qalbu adalah tempat penyaksian al-Ḥaqq . Kami tidak pernah melihat qalbu yang lebih rindu kepada-Nya, dibandingkan qalbu Muḥammad s.a.w. Lalu Allah s.w.t. memuliakannya lewat Mi‘rāj, sebagai pendahuluan terhadap penglihatan kepada Allah s.w.t. dan penyempurnaan.

Abū ‘Utsmān al-Maghribiy berkata: “Aku meyakini sesuatu seputar arah. Ketika aku datang ke Baghdād, hilanglah semua itu dari qalbuku. Lantas aku menulis surat pada sahabatku di Makkah: “Aku sekarang masuk Islam, dengan Islam yang baru (sebenarnya).” Abū ‘Utsmān ditanya soal makhluk. Jawabnya: “Cetakan dan bayangan, yang berjalan di atasnya hukum-hukum Kekuasaan Ilahi.

Al-Wāsithiy berkata: “Ketika arwah dan jasad tegak dengan seijin Allah, dan keduanya pun tampak dengan ijin-Nya, maka keduanya pun tegak tidak dengan dzātnya. Begitu juga hasrat-hasrat dan gerak, berdiri tegak, tidak dengan dzātnya, seijin Allah. Sebab gerakan-gerakan dan hasrat itu merupakan cabang bagi jasad dan arwah.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *