004 4-10 Dalil-dalil Tentang Diperbolehkannya Memperingati Maulid Nabi S.A.W. – Wajibkah Memperingati Maulid Nabi S.A.W.?

Wajibkah
Memperingati Maulid
Nabi s.a.w.?

Diterjemahkan dari:
Ḥaulal Iḥtifāl Bidzikri al-Maulidin Nabawī asy-Syarīf
Karya:
As-Sayyid Muḥammad bin ‘Alawī al-Mālikī al-Ḥasanī

Penerjemah: Muhammad Taufiq Barakbah
Penerbit: Cahaya Ilmu

Rangkaian Pos: 004 Dalil-dalil Tentang Diperbolehkannya Memperingati Maulid Nabi S.A.W.

Keempat

Nabi s.a.w. sangat memperhatikan keterikatan waktu dengan peristiwa-peristiwa keagamaan yang agung yang telah berlalu dan lewat. Lalu jika tiba waktu yang bertepatan dengan peristiwa itu beliau menjadikannya sebuah kesempatan untuk memperingatinya dan menghormati hari tersebut karena adanya peristiwa yang terkait dan karena itu merupakan waktu terjadinya peristiwa tersebut.

Rasūlullāh s.a.w. sendirilah yang membuat dasar dari aturan ini. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits shaḥīḥ bahwasanya beliau s.a.w. ketika sampai di Madīnah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Āsyurā’, beliau lalu bertanya tentang hali itu. Kemudian ada yang berkata: “Sesungguhnya mereka berpuasa (pada hari itu) karena Allah menyelamatkan Nabi mereka (Mūsā) dan menenggelamkan musuh mereka (Fir‘aun beserta bala tentaranya), oleh karena itu mereka berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat tersebut.” Rasūlullāh s.a.w. lalu bersabda:

نَحْنُ أَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ

Artinya: “Kami lebih berhak atas Mūsā daripada kalian.

Lalu beliau menyuruh (para sahabat) untuk juga berpuasa.

 

Kelima

Bahwa pembacaan kisah maulid yang mulia dapat menghantarkan kita untuk mengucapkan shalawat dan salam atas beliau s.a.w. sebagaimana hal itu dianjurkan dalam al-Qur’ān, dengan Firman Allah Yang Maha Tinggi:

إِنَّ اللهَ وَ مَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

Artinya:

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi, (oleh karena itu) wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu untuk Nabi, dan ucapkanlah salam hormat kepadanya.” (QS. al-Aḥzāb: 56).

Segala sesuatu yang dapat menghantarkan kepada sesuatu yang dianjurkan oleh agama maka sesuatu tadi juga dianjurkan menurut syari‘at. Lalu berapakah kiranya manfaat dan imdādāt (uluran pertolongan ilahi) yang diperoleh dari shalawat Nabi. Yang mana pena pun tersungkur sujud dalam miḥrāb al-Bayān (101) karena tak mampu memperinci satu-persatu pengaruhnya dan kilauan cahayanya.

 

Keenam

Kisah Maulid yang mulia berisi tentang sejarah kelahiran beliau s.a.w. yang mulia, mu‘jizat-mu‘jizat, sejarah hidup, dan pengenalan terhadap beliau s.a.w. Bukankah kita disuruh mengenal beliau dan dituntut untuk mengikuti beliau serta meneladani segala amal perbuatan beliau juga mempercayai mu‘jizat-mu‘jizat beliau, dan membenarkan tanda-tanda kenabian beliau s.a.w.?! Sedangkan kitab-kitab maulid menyampaikan dan menyajikan itu semua dengan bentuk yang sempurna.

 

Ketujuh

Sebagai bentuk usaha kita untuk membalas jasa beliau s.a.w. dengan melaksanakan sebagian kewajiban kita terhadap beliau s.a.w. dengan cara menjelaskan sifat-sifat beliau s.a.w. yang sempurna, dan akhlak beliau s.a.w. yang utama. Dan sungguh dahulu para penyair telah datang kepada Rasūlullāh s.a.w. dengan maksud menyampaikan kasidah-kasidah yang berisi pujian kepada beliau s.a.w. Rasūlullāh s.a.w. menyetujui perbuatan mereka dan membalasnya dengan kebaikan dan doa untuk mereka. Jika beliau senang terhadap orang-orang yang memujinya maka bagaimanakah beliau tidak senang terhadap orang-orang yang mengumpulkan syamā’il (sifat-sifat dan segala hal yang menyangkut) beliau yang mulia? Sungguh hal itu termasuk pendekatan diri kepada beliau s.a.w. dengan mengundang atau mencari rasa cinta dan ridha beliau.

 

Kedelapan

Mengenai syamā’il, mu‘jizat, dan irhash (112) beliau dapat menambah kesempurnaan keimanan kita kepada beliau s.a.w. serta menambah kecintaan kita kepada beliau. Sebab tabiat manusia adalah senang dengan keindahan, baik fisik maupun mental, ilmu maupun amal, keadaan dan i‘tiqad dan tak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dari akhlak dan syamā’il beliau s.a.w. pertambahan kecintaan dan kesempurnaan keimanan kepada Nabi adalah dua hal yang dituntut oleh syari‘at maka begitu pula segala sesuatu yang menyebabkan keduanya juga merupakan hal yang dianjurkan oleh syari‘at.

 

Kesembilan

Penghormatan kepada beliau s.a.w. adalah sesuatu yang disyari‘atkan dan bergembira dengan hari kelahiran beliau yang mulia dengan menampakkan kegembiraan dan membuat acara jamuan dan perkumpulan majlis zikir serta memuliakan orang-orang fakir termasuk sebagian dari perwujudan yang paling agung dari rasa penghormatan, kebahagiaan, kegembiraan, dan syukur kepada Allah atas petunjuk-Nya kepada Agama yang Lurus yang telah diberikan kepada kita, dan atas kurnia-Nya kepada kita yaitu diutusnya Nabi Muḥammad s.a.w.

 

Kesepuluh

Dari sabda beliau tentang keutamaan Hari Jum‘at dan penjelasan tentang keistimewaannya, yaitu:

وَ فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ.

Artinya: “Dan pada hari itu diciptakanlah Ādam.

Kita dapat mengambil kesimpulan tentang kemuliaan setiap waktu yang diduga kuat bahwa saat itu adalah waktu kelahiran seorang dari para nabi a.s. Lalu bagaimana halnya dengan hari yang saat itu dilahirkan Nabi yang paling utama dan Rasūl yang termulia (yakni Rasūlullāh s.a.w.)?

Penghormatan ini tidaklah dikhususkan untuk hari itu saja tetapi juga berlaku bagi hari-hari yang semisalnya secara berulang sebagaimana hari jum‘at. Itu sebagai perwujudan syukur atas nikmat, perwujudan keistimewaan posisi kenabian, dan untuk menghidupkan kembali kejadian-kejadian bersejarah yang sangat penting yang tercatat dalam sejarah kemanusiaan, tampak pada kening waktu, dan terekam dalam lembaran keabadian. Sebagaimana dapat pula diambil kesimpulan tentang penghormatan terhadap tempat yang mana di sana adalah tempat lahirnya seorang nabi dari perintah Jibrīl kepada Nabi Muḥammad s.a.w. untuk melakukan shalat dua rakaat di Betlehem. Lalu Jibrīl berkata kepada beliau: “Tahukah engkau di mana engkau shalat tadi?” Nabi menjawab: “Tidak”. Jibrīl menjawab: “Engkau shalat di Betlehem, tempat dilahirkannya ‘Īsā. Kisah itu terdapat pada hadits Syaddād bin Aus yang diriwayatkan oleh al-Bazzār, Abū Ya‘lā, dan ath-Thabrānī. Al-Ḥāfizh al-Ḥaytsamī berkata dalam kitabnya Majma‘-uz-Zawā’id jilid 1 halaman 47: “Para perawinya adalah shaḥīḥ (kuat, dapat dipercaya)”. Riwayat ini juga dinukil oleh al-Ḥāfizh Ibnu Ḥajar dalam kitab-nya al-Fatḥ jilid 7 halaman 199, namun ia diam tidak memberi komentar atau status hadits tersebut.

Catatan:

  1. 10). Al-Bayān adalah gaya bahasa yang indah. Yang merupakan pokok bahasan ilmu Balāghah (stilistika/gaya bahasa), yang merupakan satu dari sekian cabang Ilmu-ilmu Bahasa ‘Arab. [penerjemah].
  2. 11). Mu‘jizat adalah kelebihan atau hal-hal yang di luar kebiasaan yang dikaruniakan oleh Allah kepada seorang nabi setelah ia diutus sebagai nabi. Sedangkan irhash adalah hal-hal yang menakjubkan yang diberikan pada seorang nabi sebelum ia diangkat sebagai nabi. [penerjemah].

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.