0-2 Pendahuluan (Terjemahan Matan) – Kisah Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW

Kisah Isra’ Mi‘raj Rasulullah s.a.w.
Terjemah dari Kitab Dardir Bainama Qishshat-ul-Mi‘raj
Oleh: asy-Syeikh Najmuddin al-Ghaithi

Penerjemah: Achmad Sunarto
Penerbit: MUTIARA ILMU Surabaya

Rangkaian Pos: 000 Pendahuluan (Terjemahan Matan) - Kisah Isra' Mi'raj Rasulullah SAW

(Māsyithah – Mu’minah dari keluarga Fir‘aun)

Mendadak Nabi s.a.w. mencium aroma yang sangat harum.

“Aroma apa ini, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi kepada Jibrīl.

“Ini adalah aroma Māsyithah binti Fir‘aun dan putra-putranya”, jawab Jibrīl. “Pada suatu hari ketika sedang menyisiri putri Fir‘aun, tiba-tiba sisirnya terjatuh. “Dengan menyebut nama Allah, celakalah Fir‘aun”, kata Māsyithah dengan spontan.

“Jadi anda punya Tuhan selain ayahku, ya?” tanya si kecil putri Fir‘aun.

“Ya”, jawab Māsyithah berterus terang.

“Kalau begitu, apakah aku boleh memberitahukan hal ini kepada ayahku?”, tanyanya.

“Boleh”, jawab Māsyithah dengan jujur.

Anak kecil tersebut kemudian memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Seketika Māsyithah dipanggil Fir‘aun.

“Benarkah kamu punya Tuhan selain aku?”, tanya Fir‘aun.

“Benar”, jawab Masyīthah. “Tuhanku dan Tuhan anda adalah Allah.”

Māsyithah punya dua orang anak dan seorang suami. Fir‘aun menyuruh untuk mendatangkan mereka. Ia membujuk Māsyithah dan suaminya supaya mereka keluar dari agama Islam. Tetapi mereka menolak.

“Bagaimana kalau aku akan membunuh kalian berdua?”, tanya Fir‘aun mengancam.

“Baik, silahkan saja terserah anda. Tetapi tolong nanti kuburkan mayat kami di dalam satu liang lahat”, jawab Māsyithah.

“Baik, akan aku penuhi permintaanmu itu”, kata Fir‘aun.

Fir‘aun kemudian menyuruh untuk membawakan sebuah baskon berukuran sangat besar yang terbuat dari timah. Dan setelah dipanaskan dengan air yang sangat mendidih, ia menyuruh Māsyithah dan keluarganya untuk memasukinya. Satu persatu mereka memasuki bejana tersebut. Dan ketika tiba giliran anak bungsunya yang masih menyusu, tiba-tiba ia berkata:

“Wahai bunda, ayo masuklah dan jangan ragu-ragu, karena anda di pihak yang benar.”

Tak pelak Māsyithah keluarganya pun akhirnya sama masuk ke dalam bejana dari timah berisi air yang sangat mendidih tersebut.

Kata Ibnu Sa‘īd, ada empat orang yang sudah bisa berbicara ketika masih berada dalam ayunan: yakni anak Māsyithah, saksi nabi Yūsuf, anaknya si Juraij, dan ‘Īsā putra Maryam.

(Siksaan bagi Orang yang Merasa Berat Melaksanakan Shalat Fardhu)

Selanjutnya Nabi s.a.w. mendapati beberapa orang yang tengah memecahkan kepala sendiri. Dan setelah memar sampai hancur, keadaannya kembali lagi seperti semula. Hal itu terus mereka lakukan tanpa bosan-bosan sedikit pun.

“Siapa mereka, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Mereka adalah orang-orang yang kepalanya terasa berat untuk diajak shalat fardhu”, jawab Jibrīl.

(Siksaan bagi Orang yang Tidak Mau Menunaikan Zakat)

Kemudian Nabi s.a.w. mendapati beberapa orang yang tubuhnya bagian depan maupun bagian belakang sama-sama tambahan. Mereka sedang digembalakan laksana sekawanan unta dan domba. Mereka memakan buah dhari‘, buah zaqqum, dan batu-batu dari neraka Jahannam.

“Siapa mereka, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Mereka adalah orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat hartanya, dan Allah sama sekali tidak berbuat zalim kepada mereka”, jawab Jibrīl.

(Siksaan bagi Suami yang Suka Menggauli Wanita Pelacur)

Selanjutnya Nabi s.a.w. mendapati beberapa orang yang di depan mereka ada daging matang di dalam sebuah periuk, dan di dekat mereka juga ada daging busuk, tetapi mereka justru memilih memakan daging yang busuk dan membiarkan daging yang matang.

“Siapa mereka, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Mereka adalah termasuk umat anda yang sebenarnya mereka sudah memiliki seorang istri baik-baik dan halal, tetapi mereka justru lebih suka memilih menggauli wanita pelacur, bahkan menginap di rumahnya sampai pagi”, jawab Jibrīl.

(Siksaan bagi Mereka yang Suka Menghalang-halangi Orang Dari Jalan Allah)

Selanjutnya Nabi s.a.w. mendapati sebilah papan kayu di tepi jalan yang selalu membuat robek pakaian setiap orang yang melewatinya.

“Apa itu, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Itu adalah seperti perumpamaan beberapa orang dari umat anda yang gemar duduk-duduk iseng di pinggir jalan untuk mengganggu orang lain yang lewat. Mereka suka menghalang-halangi dari jalan Allah”, jawab Jibrīl.

(Siksaan bagi Mereka yang Suka Memakan Harta Riba)

Selanjutnya Nabi s.a.w. melihat seseorang yang sedang berenang di sebuah sungai darah seraya menelan batu.

“Apa itu, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Itu adalah seperti perumpamaan seseorang yang suka memakan harta riba”, jawab Jibrīl.

(Siksaan bagi Mereka yang Suka Meminta Amanat Tapi Sudah Tidak Sanggup Mengembannya)

Selanjutnya Nabi s.a.w. mendapati seseorang yang tengah mengumpulkan setumpuk kayu bakar yang tidak kuat dipikulnya, tetapi ia justru terus menambahinya.

“Apa itu, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Itu adalah seseorang dari umat anda yang mendapat beberapa amanat dari orang lain. Sebenarnya ia sudah tidak sanggup mengembannya, tetapi masih terus meminta amanat-amanat yang lain”, jawab Jibrīl.

(Siksaan bagi Para Muballigh yang Suka Menebarkan Fitnah)

Selanjutnya Nabi s.a.w. mendapati beberapa orang yang sedang menggunting bibir dan lidahnya dengan menggunakan gunting dari besi. Dan setiap kali sudah tergunting bibir dan lidahnya itu kembali utuh lagi seperti sedia kala tanpa ada bekas luka, dan begitu seterusnya.

“Siapa mereka, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Itu adalah para muballigh yang suka menebarkan fitnah. Mereka itu termasuk umat anda yang pandai mengatakan apa yang tidak mereka lakukan”, jawab Jibrīl.

(Siksaan bagi Orang-orang yang Suka Menyerang Kehormatan Orang Lain)

Selanjutnya Nabi s.a.w. mendapati beberapa orang yang memiliki kuku terbuat dari timah yang mereka gunakan untuk mencakar-cakar muka dan dada mereka sendiri.

“Siapa mereka, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain, dan suka menyerang kehormatan-kehormatannya”, jawab Jibrīl.

(Siksaan bagi Orang-orang yang Suka Cakap Besar)

Selanjutnya Nabi s.a.w. mendapati seonggok batu kecil yang mengeluarkan seekor sapi berukuran sangat besar. Dan setiap kali si sapi berusaha ingin kembali masuk dari tempat di mana ia keluar namun tidak mampu.

“Siapa orang itu, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Ia adalah seseorang dari umat anda yang suka berbicara dengan kata-kata besar. Belakangan ia menyesalinya, tetapi ia tidak sanggup menariknya kembali”, jawab Jibrīl.

(Godaan Panggilan Orang Yahudi)

Ketika Nabi s.a.w. tengah bergerak meneruskan perjalanan, tiba-tiba ada yang memanggil dari arah kanan:

“Wahai Muḥammad, lihat aku. Aku ingin bertanya kepadamu.” Tetapi beliau tidak mau menjawabinya.

“Siapa orang itu, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Yang memanggil anda tadi adalah seorang Yahudi. Kalau saja anda tadi menjawabi panggilannya, niscaya umat anda akan menjadi orang-orang Yahudi”, jawab Jibrīl.

(Godaan Panggilan Orang Nashrani)

Ketika Nabi s.a.w. tengah bergerak meneruskan perjalanan, tiba-tiba ada yang memanggil dari arah kiri:

“Wahai Muḥammad, lihat aku. Aku ingin bertanya kepadamu.” Tetapi beliau tidak mau menjawabinya.

“Siapa orang itu, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Yang memanggil anda tadi adalah seorang Nashrani. Kalau saja anda tadi menjawabi panggilannya, niscaya umat anda akan menjadi orang-orang Nashrani”, jawab Jibrīl.

(Godaan Panggilan Dunia)

Ketika Nabi s.a.w. tengah bergerak meneruskan perjalanan, ada seorang wanita yang tampak sepasang lengannya terbuka dan ia memiliki segala kecantikan yang diciptakan oleh Allah ta‘ālā mengatakan kepada beliau:

“Wahai Muḥammad, lihat aku. Aku ingin bertanya kepadamu. Tetapi beliau tidak menoleh ke arahnya.

“Siapa wanita itu, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Wanita itu tadi adalah perumpamaan dunia. Kalau saja anda tadi menjawabi panggilannya, niscaya umat anda akan lebih memilih dunia daripada akhirat”, jawab Jibrīl.

(Godaan Panggilan Iblīs)

Ketika Nabi s.a.w. tengah bergerak meneruskan perjalanan, tiba-tiba ada seorang kakek yang memanggil beliau seraya menjauh dari jalan. Ia mengatakan: “Kemarilah, wahai Muḥammad.”

“Jangan mau, teruslah berjalan, wahai Muḥammad”, kata Jibrīl.

“Siapa orang itu, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Itu tadi adalah Iblīs sang musuh Allah yang ingin supaya anda cenderung kepadanya”, jawab Jibrīl.

(Godaan Panggilan Sisa Umur Dunia)

Ketika Nabi s.a.w. tengah bergerak meneruskan perjalanan, tiba-tiba ada seorang nenek yang memanggil beliau dari tepi jalan: “Wahai Muḥammad, tunggu aku. Aku ingin bertanya kepadamu.” Tetapi beliau sama sekali tidak mau menoleh ke arahnya.

“Siapa wanita itu, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi.

“Itu tadi adalah perumpamaan sisa umur dunia. Jadi sisa umur dunia adalah seperti umur si nenek yang sudah tua renta tersebut”, jawab Jibrīl.

2 Komentar

  1. Hasan berkata:

    Gak bisa di gownload

    1. Di kolom “Bagikan (‘Amal Jariyah)” di bagian bawah artikel, silakan klik tombol + warna biru. Kemudian akan keluar menu banyak pilihan. Silakan pilih yang berjudul “PrintFriendly”. Semoga bermanfaat. ?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.