Wafatnya Adam a.s. dan Wasiatnya Kepada Putranya; Syits a.s. – Kisah-kisah Para Nabi – Imam Ibnu Katsir

قَصَصُ الْأَنْبِيَاءِ
Judul Asli:
QASHASH-UL-ANBIYĀ’

Penulis:
Imam Ibnu Katsir.

Judul Terjemahan:
KISAH-KISAH PARA NABI

Penerjemah: Muhammad Zaini, Lc.
Penerbit: Insan Kamil Solo.

Wafatnya Ādam a.s.; dan Wasiatnya Kepada Putranya; Syīts a.s..

 

Syīts artinya adalah karunia Allah. Mereka (Ādam dan Ḥawwā’) menamakannya Syīts, karena mereka mendapatkan karunia tersebut setelah terbunuhnya Hābīl. Abū Dzarr menuturkan sebuah hadits yang bersumber dari Rasūlullāh s.a.w.: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan seratus empat suhuf, dan lima puluh di antaranya diturunkan kepada Syīts.” (1701).

Muḥammad bin Isḥāq berkata: “Tatkala kematian menghampiri Ādam, dia berwasiat kepada Syīts dan mengajarkan pembagian waktu malam dan siang,  sekaligus mengajarkan ibadah-ibadah yang harus dilaksanakan di kedua waktu itu. Ādam juga memberitahunya, bahwa akan terjadi banjir besar setelah itu.

Muḥammad bin Isḥāq berkata: Ada yang mengatakan: “Sungguh, seluruh anak cucu Ādam hari ini nasabnya berujung kepada Syīts. Seluruh keturunan putra Ādam selain Syīts telah musnah, dan tidak ada yang tersisa.” (1712). Wallāhu a‘lam.

Ketika Ādam meninggal dunia – yaitu pada hari Jum‘at -, para malaikat pun mendatanginya dengan membawa keranda dan kain kafan dari sisi Allah, yang diambilnya dari surga dan menghibur putra dan penerima wasiatnya, yaitu Syīts a.s. Ibnu Isḥāq berkata: “Setelah itu terjadi gerhana matahari dan bulan selama tujuh hari tujuh malam berturut-turut.”

‘Abdullāh bin Imām Aḥmad berkata: (1723) Telah bercerita kepada kami Hudbah bin Khālid, telah bercerita kepada kami Ḥammād bin Salamah, dari Ḥumaid, dari al-Ḥasan, dari Yaḥyā (putra Dhamrah as-Sa‘dī), dia berkata: “Aku pernah melihat seorang lelaki tua di Madīnah sedang berbicara. Maka aku bertanya kepada orang-orang tentang orang tersebut. Mereka lantas menjawab: “Ini adalah Ubay bin Ka‘ab.” Lalu dia berkata: “Sesungguhnya Ādam a.s. ketika ajalnya tiba, dia berkata kepada anak-anaknya: “Wahai anakku, sesungguhnya aku menginginkan buah dari surga.” Mereka kemudian pergi mencarikan buah untuk Ādam.

Para Malaikat menyambut kedatangan mereka. Saat itu para malaikat membawa kain kafan dan keranda, sementara anak-anak Ādam membawa kapak, sekop, dan keranjang buah. Para Malaikat bertanya kepada mereka: “Wahai putra Ādam, apa yang kalian butuhkan dan kalian cari? Mereka menjawab: “Kembalilah. Sungguh, telah ditetapkan keputusan untuk bapak kalian (kematian).” Mereka pun kembali. Ketika Ḥawwā’ melihat para malaikat dan mengetahui kedatangan mereka, maka dia bergegas kepada Ādam untuk menjaganya. Nabi Ādam justru berkata: “Menyingkirlah. Engkau telah memberikan banyak hal untukku. Kini, cukuplah Rabb-ku yang menjadi penengah antara aku dan para malaikat.”

Maka para malaikat pun mencabut nyawanya, memandikan, mengkafani, membuatkan liang lahat untuknya, serta menshalatkannya. Kemudian mereka masuk ke dalam makamnya dan meletakkan Ādam ke dalam kuburnya. Mereka meletakkan batu bata di atasnya, kemudian mereka keluar dari dalam makamnya. Setelah itu mereka menimbunnya dengan tanah seraya berkata: “Wahai anak Ādam, ini adalah sunnah kalian”.” Sanadnya shaḥīḥ.

Ibnu ‘Asākir (1734) meriwayatkan dari jalur Syaibān bin Furūkh, dari Muḥammad bin Ziyād, dari Maimūn bin Mihrān, dari Ibnu ‘Abbās, bahwasanya Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Para malaikat bertakbir empat kali untuk Ādam, demikian juga Abū Bakar bertakbir empat kali untuk Fāthimah, ‘Umar bertakbir empat kali untuk Abū Bakar, dan Shuhaib bertakbir empat kali untuk ‘Umar.” Ibnu ‘Asākir berkata: “Perawi yang lain meriwayatkannya dari Maimūn, dia berkata dari Ibnu ‘Umar.”

Mereka berbeda pendapat tentang di mana Ādam dikuburkan. Namun pendapat yang masyhur mengatakan bahwa Ādam dikuburkan di sebuah gunung di India, sebagaimana dia diturunkan pertama kali dari surga. Ada yang mengatakan bahwa dia dikuburkan di sebuah gunung yang bernama Abū Qubais, di Makkah. Ada juga yang berpendapat bahwa, ketika terjadi banjir pada masa Nabi Nūḥ a.s., dia membawa mayat Ādam dan Ḥawwā’ dalam sebuah peti untuk dipindahkan ke Bait-ul-Maqdis. Hal itu sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Jarīr. (1745). Ibnu ‘Asākir (1756) meriwayatkan dari sebagian ulama, bahwa salah seorang di antara mereka berkata: “Sesungguhnya kepala Ādam berada di bawah masjid Ibrāhīm, dan kedua kakinya di bawah tembok (صخرة – batu) Bait-ul-Maqdis.” Ibunda Ḥawwā’ meninggal satu tahun setelah wafatnya Ādam a.s.

Para ulama berbeda pendapat tentang umur Ādam a.s., sebagaimana yang telah kami sebutkan hadits marfū‘ yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās dan Abū Hurairah dalam pembahasan sebelumnya, bahwa umur Ādam telah ditulis di Lauḥ-ul-Maḥfūzh selama seribu tahun. (1767) Hal ini tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan di dalam Taurāt, bahwa Ādam hidup selama 930 tahun. Perkataan (Ahli Kitāb) dapat disanggah, karena mengandung keraguan lantaran menyelisihi kebenaran yang terdapat di dalam al-Qur’ān yang kita miliki, dan (kemurnian) al-Qur’ān dijaga (oleh Allah).

Atau bisa jadi perkataan mereka dipadukan dengan apa yang disebutkan di dalam hadits, bahwasanya apa yang disebutkan di dalam Taurāt – jika seandainya Taurāt itu dijaga – dibawa kepada lamanya Ādam tinggal di bumi setelah diturunkan  dari surga, yaitu 930 tahun kalender Syamsiyyah, dan hal itu setara dengan 957 tahun kalender Qamariyyah. Kemudian ditambahkan dengan lamanya Ādam tinggal di surga sebelum dia diturunkan ke bumi, yaitu 43 tahun sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jarīr (1778) dan yang lainnya, sehingga genap menjadi 1000 tahun.

‘Athā’ al-Khurasānī berkata: “Tatkala Ādam meninggal dunia, maka seluruh makhluk menangisinya selama tujuh hari.” Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asākir, (1789).

Setelah Ādam meninggal dunia, maka yang melanjutkan tugas berikutnya adalah putranya yang bernama Syīts a.s.. Dia (Syīts) termasuk seorang Nabi, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits marfū‘ dari Abū Dzarr yang diriwayatkan oleh Ibnu Ḥibbān di dalam Shaḥīḥ-nya: “Sungguh, telah diturunkan lima puluh shuhuf kepada Syīts.” (17910).

Tatkala mendekati ajalnya, Syīts berwasiat kepada putranya yang bernama Unūsy untuk melanjutkan tugasnya. Setelah Unūsy meninggal, tugas tersebut dilanjutkan oleh putranya yang bernama Qainān. Sepeninggalnya, tugas itu diembankan kepada putranya yang bernama Mahlāyil. Oleh sebagian orang ‘Ajam dari wilayah Persia, dia diyakini sebagai penguasa (raja) tujuh musim. Dia juga merupakan orang pertama yang (membuat bangunan dengan) menebang pohon, membangun perkotaan, dan mendirikan benteng-benteng yang kokoh. Pada masa itu, dia juga meembangun kota Babylonia dan Sūs-ul-Aqshā, mengalahkan Iblīs dan tentaranya, serta mengusir mereka ke ujung bumi yang berbukit-bukit dan berpegunungan. Dialah yang telah membunuh sekelompok jin jahat dan hantu. Dia mempunyai mahkota yang agung, dan biasa berkuthbah di hadapan manusia. Kepemimpinannya berlangsungan selama 40 tahun.

Setelah dia meninggal dunia, maka yang melanjutkan tugasnya adalah putranya yang bernama Yard. Tatkala ajal hampir tiba, dia berwasiat kepada putranya yang bernama Khanūkh (yang terkenal dengan nama Idrīs a.s.). Wallāhu ta‘ālā a‘lam.

Catatan:

  1. 170). Periwayatannya telah disebutkan dalam bab sebelumnya.
  2. 171). Diriwayatkan oleh ath-Thabarī di dalam Tārīkh-nya. (1/152-153).
  3. 172). Periwayatan hadits ini telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya.
  4. 173). Tārīkhu Dimasyq (7/458).
  5. 174). Tārīkh-uth-Thabarī (1/161).
  6. 175). Tārīkhu Dimasyq (7/458).
  7. 176). Periwayatan hadits ini telah disebutkan dalam bab sebelumnya.
  8. 177). Tārīkh-uth-Thabarī (1/119).
  9. 178). Tārīkhu Dimasyq (7/459).
  10. 179). Periwayatan hadits ini telah disebutkan dalam bab sebelumnya.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *