Prinsip-prinsip dasar Ilmu Tasawuf
Setiap orang yang hendak mendalami suatu disiplin ilmu, hendaklah terlebih dahulu memahami gambaran tentangnya sehingga dalam menjalankannya bisa benar-benar jelas dan terarah. Penggambaran itu hanya bisa didapat dengan mengenali prinsip dasar yang sepuluh (al-mabadi al-‘asyrah). Yaitu: definisi, objek kajian, manfaat mempelajarinya, keunggulannya, korelasinya dengan ilmu-ilmu yang lain, peletak dasarnya, namanya, sumber-sumber pengambilannya, hukum mempelajarinya dan permasalahannya.
Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui berbagai kondisi jiwa (ahwal an-nafs) yang terpuji dan tercela, cara penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela, cara menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, cara menempuh suluk menuju Allah dan berlari kepada-Nya. Di dalam satu nazham disebutkan:
Ilmu tasawuf adalah ilmu yang tidak bisa didapat
Selain oleh si cerdas yang dikenal al-haqq
Bagaimana bisa orang yang tidak bisa menyaksikannya dapat mengenalinya
Bagaimana bisa si buta menyaksikan sinar Mentari
Objek kajian ilmu tasawuf adalah perbuatan-perbuatan hati dan indera lahir (af’al al-qalb wal-hawas) serta cara penyucian dan pemurnian (tazkiyah wa tashfiyah).
Ada banyak hasil yang didapat dari tasawuf, di antaranya adalah mendidik hati dan mengetahui alam metafisika (alam gaib), dengan perasaan ruhani (dzauq) mapun dengan perasaan hati (wijdan). Hasil lainnya adalah keselamatan di akhirat, meraih ridha Allah Ta’ala, memperoleh kebahagiaan yang abadi, mengalami penyinaran dan pembeningan hati hingga bisa menyingkap berbagai perkara besar dan menyaksikan kondisi-kondisi ruhaniah yang mengagumkan, serta mampu melihat sesuatu yang tak tampak dalam penglihatan orang lain.
Ilmu tasawuf merupakan ilmu yang paling mulia karena hubungannya dengan makrifat dan cinta Allah Ta’ala. Makrifat dan cinta kepada Allah merupakan keutamaan yang bersifat mutlak.