Tanwir-al-Qulub | Bagian Kedua-Bab 5 : Tasawuf (1/4)

Menerangi Qalbu
Manusia Bumi, Manusia Langit
Pengarang : Syaikh Muhammad Amin Al Kurdi An Naqsyabandiy
Penerbit : Pustaka Hidayah , Bandung

BAB V

TASAWUF

Ketahuilah bahwa tasawuf yang juga disebut ilmu batin merupakan ilmu yang paling besar nilainya dan paling agung posisinya, serta paling tinggi pancaran sinarnya. Orang yang menjalankannya dilebihkan oleh Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya yang lain setelah para nabi dan rasul a.s., Allah menjadikan qalbu mereka sebagai tempat menyimpan berbagai rahasia. Mereka dijadikan Allah sebagai kelompok elit umat, sebagai tempat terbitnya berbagai sinar ilahiah di kalangan makhluk. Mereka adalah penolong bagi makhluk. Mereka juga merupakan poros bagi keumuman kondisi ruhani makhluk (ahwal) karena kehadiran mereka menyertai kebenaran (al-haqq).

Ath-Thayyibi berkata, “Seorang ulama, meskipun dia amat mendalam ilmunya hingga tidak ada yang menyamai zamannya, tidak pantas merasa puas dengan ilmunya sendiri. Dia mesti berkumpul bersama ahli thariqah (para penempuh jalan ruhani) agar mereka menunjukinya jalan istiqamah, hingga dia menjadi bagian dari mereka yang diajak bicara oleh al-Haqq di dalam sir-nya karena batinnya menjadi amat bening dan bebas dari berbagai kotoran. Selain itu, agar dia bisa menjauhi berbagai residu hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan ego busuk yang mengotori ilmunya. Dengan begitu, qalbunya akan siap menerima pancaran berbagai ilmu ladunni dan pengutipan langsung (iqtibas) dari lentera cahaya kenabian (misykat al-anwar an-nubuwwah).

Menurut Ath-Thayyibi, biasanya predikat seperti itu tidak mudah dicapai, kecuali dengan bimbingan seorang syaikh yang sempurna, syaikh yang mengetahui cara-cara penyembuhan berbagai penyakit jiwa, mengetahui cara penyuciannya dari berbagai najis yang bersifat maknawi, serta memiliki hikmah (kemampuan supranatural) untuk mengolahnya, baik dengan ilmu maupun dengan intuisi. Tujuannya agar nafsu yang memerintah kepada kejahatan dan racun-racunnya yang tersembunyi bisa keluar dari dalam dirinya.

Para ulama ahli thariqah sepakat mengenai keharusan mengambil seorang syaikh untuk menjadi pembimbing guna menghilangkan sifat-sifat yang menghalangi masuknya hadhrah Allah ke dalam qalbu, agar kehadiran dan kekhusukan di dalam menjalankan berbagai ritual ibadah benar-benar nyata. Kesepakatan ini merupakan bagian dari bab ma laa yatimmu al-wajib illa bihi fa huwa wajib (sesuatu yang tanpanya menjadikan kewajiban tidak sempurna, berarti sesuatu itu wajib).

Menyembuhkan penyakit-penyakit batin termasuk suatu kewajiban. Karena itu, orang yang mengidap berbagai penyakit batin itu harus mencari seorang syaikh yang dapat mengeluarkannya dari setiap dilema. Jika dia tidak mendapatkan syaikh tersebut di lingkungan tempat tinggalnya, dia harus pergi mencarinya ke daerah lain, meskipun jauh.

Al-Imam Ahmad ibn Hambal r.a pernah berkata kepada putranya, ‘Abdullah, “Wahai anakku, engkau harus mempelajari hadits, dan berhati-hatilah jangan sampai engkau duduk bersama mereka yang menamai dirinya sebagai kaum sufi. Tidak jarang diantara mereka ada yang bodoh terhadap hukum-hukum agamanya.” Namun setelah beliau bersahabat dengan Abu Hamzah al-Baghdadi dan mengetahui berbagai kondisi ruhani (ahwal) kaum sufi, al-Imam Ahmad bin Hambal berkata lagi kepada putranya, “Wahai anakku, engkau harus duduk Bersama kaum sufi karena mereka telah menambahkan banyak ilmu kepadaku, menambahkan kedekatan diri dengan Allah, rasa takut akan tertahannya rahmat, zuhud dalam dunia dan ketinggian semangat.”

Selain al-Imam Ahmad bin Hambal, al-Imam asy-Syafi’i juga sering duduk bersama kaum sufi. Bahkan al-Imam asy-Syafi’i berkata, “Seorang faqih (ahli fikih) perlu mengenal dan mengetahui benar istilah-istilah kaum sufi, agar mereka bisa memberinya manfaat ilmu yang tidak dia miliki.”

Al-Imam asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hambal sering bolak-balik untuk menghadiri majelis orang-orang sufi. Beliau hadir untuk mengikuti majelis zikir mereka. Suatu hari, mereka ditanya, “Mengapa kalian sering bolak-balik mendatangi orang-orang bodoh seperti mereka?” Al-Imam asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hambal memberikan jawaban, “Sesungguhnya mereka itu mempunyai dan mengetahui semua pokok urusan. Yaitu taqwallah (bertaqwa kepada Allah), mahabbatullah (mencintai Allah) dan ma’rifatullah (makrifat-kenal-ed. Kepada Allah).” Sebagian ulama lain berkomentar, “Siapapun Anda yang mempercayai ucapan ahli thariqah, mintalah dia berdoa untukmu, sebab dia mujabud-da’wah (doanya dikabulkan).”(bersambung)

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.