Syarah Hikmah Ke-93 – Syarah al-Hikam – KH. Sholeh Darat

شَرْحَ
AL-HIKAM
Oleh: KH. SHOLEH DARAT
Maha Guru Para Ulama Besar Nusantara
(1820-1903 M.)

Penerjemah: Miftahul Ulum, Agustin Mufarohah
Penerbit: Penerbit Sahifa

Syarah al-Hikam

KH. Sholeh Darat
[Ditulis tahun 1868]

SYARAH HIKMAH KE-93

 

الْمُؤْمِنُ إِذَا مُدِحَ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يُثْنَى عَلَيْهِ بِوَصْفٍ لَا يَشْهَدُهُ مِنْ نَفْسِهِ.

Seorang mu’min, jika dipuji, ia malu kepada Allah karena ia dipuji dengan sifat yang tidak ia dapati pada dirinya.

 

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

الْمُؤْمِنُ إِذَا مُدِحَ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يُثْنَى عَلَيْهِ بِوَصْفٍ لَا يَشْهَدُهُ مِنْ نَفْسِهِ.

Seorang mu’min, jika dipuji, ia malu kepada Allah karena ia dipuji dengan sifat yang tidak ia dapati pada dirinya.

Orang mu’min yang hakiki (sejati) itu ketika dipuji orang, ia akan merasa malu kepada Allah, karena ia dipuji dengan sifat-sifat yang tidak ia dapati pada dirinya. Sebaliknya, ia merasa bahwa kebaikan itu semua adalah karunia Allah, ciptaan Allah dan mereka sekalipun tidak pernah merasa mampu melakukan kebaikan tersebut. Oleh karena itu, ketika ia dipuji karena suatu kebaikan, maka ia menjadi semakin malu kepada Allah, ia semakin mengagungkan Allah, semakin mencela dirinya sendiri, semakin mensyukuri anugerah Allah, maka inilah yang dinamakan syukur atas ketaatan yang menjadi sebab bertambahnya anugerah Allah kepadanya.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.