Syarah Hikmah Ke-70 – Syarah al-Hikam – KH. Sholeh Darat

شَرْحَ
AL-HIKAM
Oleh: KH. SHOLEH DARAT
Maha Guru Para Ulama Besar Nusantara
(1820-1903 M.)

Penerjemah: Miftahul Ulum, Agustin Mufarohah
Penerbit: Penerbit Sahifa

Syarah al-Hikam

KH. Sholeh Darat
[Ditulis tahun 1868]

SYARAH HIKMAH KE-70

 

نِعْمَتَانِ مَا خَرَجَ مَوْجُوْدٌ عَنْهُمَا وَ لَا بُدَّ لِكُلِّ مُكَوَّنٍ مِنْهُمَا نِعْمَةُ الْإِيْجَادِ وَ نِعْمَةُ الْإِمْدَادِ.

Ada dua ni‘mat yang pasti dialami dan dirasakan oleh semua makhlūq. Yaitu, ni‘mat penciptaan dan ni‘mat pemenuhan kebutuhan.

 

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

نِعْمَتَانِ مَا خَرَجَ مَوْجُوْدٌ عَنْهُمَا وَ لَا بُدَّ لِكُلِّ مُكَوَّنٍ مِنْهُمَا.

Ada dua ni‘mat yang pasti dialami dan dirasakan oleh semua makhlūq.

Ada dua keni‘matan yang tak pernah terlewatkan oleh segala yang maujūd atau makhlūq.

نِعْمَةُ الْإِيْجَادِ وَ نِعْمَةُ الْإِمْدَادِ.

Yaitu, ni‘mat penciptaan dan ni‘mat pemenuhan kebutuhan.

(Ni‘mat yang tak pernah terlewatkan oleh makhlūq). Yaitu ni‘mat al-ījād dan ni‘mat al-imdād.

Ni‘mat al-ījād adalah menciptakan dari tiada menjadi ada, ketika Ia berkehendak melanjutkan keberadaanmu, maka Ia memberi ni‘mat al-imdād yaitu menghilangkan ketiadaan dan menggantinya dengan keberlangsungan wujūd. Ketika ni‘mat al-ījād tiada, maka tidak satupun yang dikeluarkan dari ketiadaan menuju ada. Jika ni‘mat al-imdād tiada, maka wujūd atau keberadaan sesuatu menjadi tidak sempurna dan keberadaannya tidak bisa langgeng.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.