Syarah Hikmah Ke-33 – Syarah al-Hikam – KH. Sholeh Darat

شَرْحَ
AL-HIKAM
Oleh: KH. SHOLEH DARAT
Maha Guru Para Ulama Besar Nusantara
(1820-1903 M.)

Penerjemah: Miftahul Ulum, Agustin Mufarohah
Penerbit: Penerbit Sahifa

Syarah al-Hikam

KH. Sholeh Darat
[Ditulis tahun 1868]

SYARAH HIKMAH KE-33

 

وَ لَأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلًا لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَالِمًا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ. فَأَيُّ عِلْمٍ لِعَالِمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ وَ أَيُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ.

Bersahabat dengan orang bodoh yang tidak memperturutkan hawa-nafsunya itu lebih baik bagimu dari pada bersahabat dengan orang pandai yang memperturutkan hawa-nafsunya. Kepintaran apalagi yang dapat disandangkan pada orang yang pintar yang selalu memperturutkan hawa-nafsunya?. Dan kebodohan apalagi yang dapat disandangkan pada orang bodoh yang tidak memperturutkan hawa-nafsunya?

 

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

وَ لَأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلًا لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَالِمًا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ.

Bersahabat dengan orang bodoh yang tidak memperturutkan hawa-nafsunya itu lebih baik bagimu dari pada bersahabat dengan orang pandai yang memperturutkan hawa-nafsunya. Kepintaran apalagi yang dapat disandangkan pada orang yang pintar yang selalu memperturutkan hawa-nafsunya?.

Demi Allah, sesungguhnya persahabatanmu dengan orang yang bodoh dalam ‘ilmu zhāhir (‘ilmu keduniawian) yang tidak memperturutkan hawa-nafsunya itu lebih baik bagimu dan lebih bermanfaat daripada persahabatanmu dengan orang pintar ‘ilmu zhāhir yang memperturutkan hawa-nafsunya.

Persahabatan dan perkumpulan yang lebih utama adalah bersahabat dengan orang yang tidak suka menuruti hawa-nafsunya walaupun ia bodoh, dan jangan bersahabat dengan orang-orang yang suka menuruti hawa-nafsunya walaupun ia pandai. Karena persahabatan dan perkumpulan itu mempunyai dampak yang baik (positif) dan buruk (negatif) dari diri kita.

 

فَأَيُّ عِلْمٍ لِعَالِمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ.

Kepintaran apalagi yang dapat disandangkan pada orang yang pintar yang selalu memperturutkan hawa-nafsunya?

Tidak ada pengetahuan bagi orang ‘ālim yang memperturutkan hawa-nafsunya.

Walaupun ia ‘ālim atau piawai ‘ilmu zhāhir. Sebab, berkumpul dengan orang yang suka mengumbar hawa-nafsunya itu akan berdampak buruk bagi (diri)mu.

 

وَ أَيُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ

Dan kebodohan apalagi yang dapat disandangkan pada orang bodoh yang tidak memperturutkan hawa-nafsunya?

Tidak ada kebodohan bagi orang yang bodoh yang tidak suka mengumbar hawa-nafsunya.

Sebab dengan tidak memperturutkan hawa-nafsu itulah ia disebut ‘ālim, walaupun ia bodoh dalam hal ‘ilmu zhāhir.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *