Syarah Hikmah Ke-32 – Syarah al-Hikam – KH. Sholeh Darat

شَرْحَ
AL-HIKAM
Oleh: KH. SHOLEH DARAT
Maha Guru Para Ulama Besar Nusantara
(1820-1903 M.)

Penerjemah: Miftahul Ulum, Agustin Mufarohah
Penerbit: Penerbit Sahifa

Syarah al-Hikam

KH. Sholeh Darat
[Ditulis tahun 1868]

SYARAH HIKMAH KE-32

 

أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَ غَفْلَةٍ وَ شَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ وَ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَ يَقَظَةٍ وَ عِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا.

Pangkal segala maksiat, kelalaian dan syahwat adalah pengumbaran nafsu. Dan pangkal dari segala ketaatan, kewaspadaan, dan kebajikan adalah pengekangan nafsu.

 

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَ غَفْلَةٍ وَ شَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ

Pangkal segala maksiat, kelalaian dan syahwat adalah pengumbaran nafsu..

Pangkal segala macam maksiat, lalai dari mengingat Allah dan syahwat nafsu adalah rela menuruti hawa-nafsu.

Para ‘ulamā’ ahli hakikat sudah bersepakat, bahwa pangkal dari segala macam maksiat dan berpaling dari Allah adalah suka menuruti nafsu. Mengetahui hawa-nafsu itu wajib hukumnya, karena seseorang tidak akan bisa memerangi hawa-nafsunya jika tidak mengetahuinya. Nafsu adalah perkara yang kasat mata dan menjadi kekuatan hidup manusia. Ia menjadi gerak atau diamnya laku tubuh manusia, yang menyinari jasad. Ketika ia padam, cahayanya terputus pada zhāhir dan bāthin jasad, ketika hanya tertidur maka cahaya tersebut hanya terputus dari zhāhir jasadnya saja, dan ini dinamakan nafsu rūḥ-ul-ḥayawān.

Sifat nafsu itu ada tujuh:

  1. Nafsu ammārah, yaitu nafsu yang cenderung pada tabiat jasmani, cenderung pada ke-ladzat-an atau keni‘matan sementara. Yang dimaksud syahwat di sini adalah ingin makan yang enak, tidur yang nyenyak, mengikuti perbuatan syaithān dan senang dunia. Dunia menurut nafsu ammārah itu bagaikan mempelai perempuan yang dihias dan dipersiapkan dan nafsu sangat ingin memeluknya.
  2. Nafsu lawwāmah, nafsu yang hadir ketika mengingat Allah, melaksanakan perintah-Nya dan berbuat kebajikan. Ketika melakukan perbuatan tercela, nafsu ini menyalahkan dirinya sendiri atas perbuatan aniaya yang diperbuat, kemudian memperbaikinya.
  3. Nafsu mulhimah, nafsu yang menghilangkan sifat waswas, ḥadīts nafsi (bisikan nafsu). Nafsu ini seringkali mengikuti nafsu ilhām para malaikat tentang kebenaran dan mengikuti apa yang telah diperintahkan Allah. Jika, kebodohan nafsunya masih tersisa, ia menjadi rusak, walaupun badannya sudah rusak, nafsunya masih tetap.
  4. Nafsu muthma’innah, nafsu yang bercahaya sebab cahaya hati, mampu membuang sifat-sifat yang tercela, seperti ‘ujub dan takabbur, mempunyai sifat yang baik seperti tawādhu‘, ikhlāsh dan lainnya, tenang atau menerima apa yang diberikan Allah, tidak terombang-ambing.
  5. Nafsu rādhiyah, merasa telah melebur, sebab dirinya adalah sesuatu yang fanā’ (111), ia menjadi jernih dengan tajalliy kepada Allah.
  6. Nafsu mardhiyyah, bisa dicapai dengan maqām baqā’ (122).
  7. Nafsu ‘ubūdiyyah, nafsu yang suka mengabdi atau menghamba, ya‘ni melakukan segala ‘amal perbuatan yang sifatnya mengabdi kepada Allah.

Nafsu tidak bisa menjadi sempurna, juga tidak bisa naik derajatnya pada derajat tertinggi kecuali setelah melakukan suluk dengan mengikuti salah satu tharīqat yang bisa mengantar kepada Allah. Maka, hendaklah engkau mencari guru tharīqat (mursyid) yang bisa menunjukkan jalan kepadamu. Jika engkau tidak mencari atau mempunyai guru, engkau tidak akan bisa mencapai derajat ini walaupun ‘ibādahmu layaknya ‘ibādahnya jinn dan manusia.

Oleh karena itu, terdapat perbedaan antara sālik dan ‘ābid. Terkadang seorang ‘ābid melaksanakan ‘ibādah selama 500 tahun, tidak bisa meneruskan perjalanan, yang bisa ditempuh oleh sālik hanya dengan sekali perjalanan. Dan kesemuanya tidak bisa dicapai kecuali oleh mereka yang sudah pernah merasakannya. Tharīqat yang paling dekat adalah tharīqat naqsyabandiyyah (Ini pendapat sang penulis -S.H.). Memerangi hawa-nafsu fardhu ‘ain hukumnya, inilah yang disebut peperangan yang besar.

Nafsu ammārah itu memiliki tujuh kepala dari syaithān;

Pertama; syahwat,

Kedua; ghadhab (benci dan marah-marah),

Ketiga; takabbur (dirinya merasa lebih baik dari orang lain),

Keempat; dengki,

Kelima; sombong (baik menyombongkan badan (jasmani) atau ruhaninya seperti ‘ilmu, sombong lisannya karena lebih banyak berdzikir, banyak pujian dan lain-lain),

Keenam; rakus,

Ketujuh; riyā’.

Syahwat itu bisa dipadamkan melalui riyādhah, menghindar dari perkumpulan manusia ketika makan dan minum. Ghadhab bisa dipadamkan dengan sifat lapang dada. Takabbur bisa dibunuh dengan sifat tawādhu‘. Dengki bisa dibunuh melalui keyakinan bahwa pemilik segala yang ada hanya Allah, manusia hanyalah hamba-Nya, dan Allah memberi sesuatu kepada hamba-Nya sesuai kehendak-Nya. Sombong dan rakus bisa dibunuh melalui qanā‘ah – menerima (apa yang diberikan). Riyā’ bisa dipadamkan melalui ikhlāsh. Karena itu, hendaknya engkau gigih dalam membunuh nafsu sebelum ruhmu dicabut.

Ketahuilah, sesungguhnya orang yang tidak mengenal nafsunya ketika masih hidup, ia tidak akan pernah mengenal nafsunya kecuali setelah terpisahnya nafsu dari badannya (mati), sehingga ia tidak bisa mengenal Tuhannya. Sebagaimana firman Allah:

وَ مَنْ كَانَ فِيْ هذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى.

Barang siapa yang ketika di dunia buta (tidak mengetahui sifat nafsunya), maka di akhiratnya juga buta (dari ma‘rifat Allah).” (QS. al-Isrā’ [17]: 72).

Tidak akan bisa mengetahui atau mendeteksi nafsu kecuali dengan cahaya yang mana Allah meletakkannya di dalam hati kita, dan Allah tidak akan menempatkan cahaya pada hati seorang hamba kecuali hamba yang memegang teguh syarī‘at, yang memegang teguh ajaran Nabi s.a.w., serta riyādhah, dan ber-mujāhadah dan menjauhkan hatinya dari mencintai dunia, menjauhi sifat-sifat tercela yang sudah dijelaskan, dan mengisi dengan sifat-sifat terpuji menurut syara‘ seperti tawādhu‘, ikhlāsh dan lainnya. Dan kesemuanya bisa didapat melalui tarbiyyah atau pengajaran seorang guru mursyid. Jangan mengira hasilnya cahaya tersebut dengan melalui banyak muthāla‘ah atau mempelajari kitab-kitab tashawwuf atau lainnya, ia tidak akan bisa walaupun dengan ber-mujāhadah.

Jangan takut akan matinya nafsu, tabiat nafsu bagaikan bayi, jika disapih mau menurut, walaupun dengan cara yang susah-payah dalam waktu yang sebentar. Imām Bushiriy berkata:

وَ النَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى حُبِّ الرَّضَاعِ وَ إِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمُ.

Nafsu itu bagaikan bayi, jika kau biarkan, tumbuhlah ia dengan suka menetek, jika kau sapih, maka tersapihlah ia.

 

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

وَ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَ يَقَظَةٍ وَ عِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا

Dan pangkal dari segala ketaatan, kewaspadaan, dan kebajikan adalah pengekangan nafsu.

Sumber dari segala ketaatan dan mengenal Allah sebab engkau tidak mau menuruti nafsu.

Dengan engkau mengekang nafsu, kau akan mendapatkan ketaatan (pada dirimu) dan ma‘rifat Allah, sebab dengan tidak menuruti kemauan nafsu, ia tidak ingin memperindah dirinya dan tidak ingin menempatkan (segala keinginan) pada nafsunya. Barang siapa yang seperti ini halnya, berarti ia adalah orang yang waspada hatinya kepada jalan kebenaran, jika api syahwat telah padam dari dalam dirinya, ia akan memiliki sifat yang ‘adil. Jika bersifat ‘adil, ia akan menjauhi perkara yang dilarang oleh Allah serta menjaga atau melaksanakan segala perintah-Nya. Inilah yang dimaksud berhasilnya ketaatan.

Syaikh Dhiyā’-ud-Dīn bin Mushthafā berkata:

Wahai murīd, ketahuilah, bahwasanya tercapainya ‘amal terpuji itu dengan tiga cara:

  1. Takut kepada Allah, dalam keadaan samar maupun zhahir, ya‘ni dalam keadaan sepi maupun dalam keramaian.
  2. Rela dengan taqdīr (yang ditentukan) Allah, sedikit ataupun banyak.
  3. Memperlakukan makhluq Allah dengan baik, di depan maupun di belakang. Jangan hanya berperilaku baik di hadapan seseorang, sementara di belakangnya kau menggunjing.

 

Ujian terbesar itu ada tiga:

Pertama, Takut kepada makhluq.

Kedua, Bersedih dalam memikirkan rezeki.

Ketiga, Menuruti hawa-nafsu.

Ni‘mat dan kesehatan yang paling besar itu ada tiga:

Pertama, percaya kepada Allah dalam segala sesuatu atau keadaan.

Kedua, rela dengan taqdīr Allah pada setiap keadaan, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin.

Ketiga, menjaga (diri dari) keburukan manusia. Wallāhu a‘lam.

Catatan:

  1. 11). Istilah fanā’ oleh kaum sufi dipakai untuk menunjukkan gugurnya sifat-sifat tercela, sementara baqā’ untuk menandakan kemunculan sifat-sifat terpuji. Jika dalam diri seorang sālik tidak terdapat salah satu dari dua sifat ini, maka pasti ada yang lain. Tegasnya, sālik yang fanā’ (kosong) dari sifat-sifat tercela, maka ia akan terisi oleh sifat terpuji. Sebaliknya, sālik yang kalah oleh sifat-sifat tercela maka sifat-sifat terpujinya tertutup.
    Abul-Qāsim al-Qusyairī memaparkan proses fanā’ dan baqā’ ini. Seorang sālik, menurutnya, pastilah mempunyai 3 perkara yang terkandung pada dirinya: af‘āl, akhlāq dan aḥwāl. Af‘āl (perbuatan) bersifat ikhtiyār, akhlāq adalah perangai yang sifatnya berubah seiring tingkat pelatihannya melalui pembiasaan, sementara aḥwāl adalah titik tolak pertama seorang sālik. Aḥwāl ini, menurutnya, hanya bisa muncul setelah af‘āl seorang sālik benar-benar bersih (dari sifat-sifat yang tercela).
    Dengan demikian, jika seorang sālik turun ke gelanggang kehidupan untuk memerangi perangnya dengan hatinya, lalu mem-fanā’-kan (meniadakan) sifat-sifat tercela dengan kesungguhan maka Allah s.w.t. menganugerahinya perbaikan akhlāq. Demikian halnya dengan aḥwāl, salik yang berjuang membersihkan dirinya dengan lisan syarī‘at maka ia fanā’ (kosong) dari syahwatnya. Jika ia kosong dari syahwatnya maka dengan niat dan ikhlasnya ia baqā’ (eksis) dalam ‘ubūdiyyah-nya. Lihat: Abul-Qāsim ‘Abd-ul-Karīm Hawāzin al-Qusyairī an-Naisābūrī, ar-Risālah al-Qusyairiyyah, al-Maktabah al-‘Ashriyyah, cet. ke-1, Libanon, 2001, hal. 67.
  2. 12). Lihat catatan kaki sebelumnya.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *