Syarah Hikmah Ke-100 – Syarah al-Hikam – KH. Sholeh Darat

شَرْحَ
AL-HIKAM
Oleh: KH. SHOLEH DARAT
Maha Guru Para Ulama Besar Nusantara
(1820-1903 M.)

Penerjemah: Miftahul Ulum, Agustin Mufarohah
Penerbit: Penerbit Sahifa

Syarah al-Hikam

KH. Sholeh Darat
[Ditulis tahun 1868]

SYARAH HIKMAH KE-100

 

اِسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوْصِيَّتِكَ دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِيْ عُبُوْدِيَّتِكَ.

Keinginanmu agar orang mengetahui keistimewaanmu adalah bukti ketidakjujuran dalam ‘ubūdiyyah-mu.

 

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

اِسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوْصِيَّتِكَ دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِيْ عُبُوْدِيَّتِكَ.

Keinginanmu agar orang mengetahui keistimewaanmu adalah bukti ketidakjujuran dalam ‘ubūdiyyah-mu.

Keinginanmu untuk memberitahukan ‘amal perbuatan dan ‘ilmumu kepada orang lain adalah bukti ketidakjujuran dalam ‘ubūdiyyah-mu.

Karena yang dinamakan jujur dalam ber‘ibādah adalah tidak bersombong diri pada makhlūq dan tidak mengharap apapun dari mereka. Sebagian ‘ulamā’ berkata: “barang siapa suka memamerkan ‘amal perbuatannya maka ia disebut orang yang riyā’, dan barang siapa yang suka memamerkan ‘ilmunya, ia termasuk yang berbohong.” Tanda seseorang yang suka memamerkan ‘amal perbuatan baiknya adalah tidak menerima jika disebut jelek dan jika dicela oleh orang yang ahli berbuat kejelekan ia akan sangat marah. Tanda seseorang yang memamerkan ‘ilmunya adalah tidak menerima dan marah ketika dianggap bodoh. Sebab timbulnya itu semua adalah ketika berada di khalayak umum, di majlis perkumpulan, dan bersama orang banyak. Oleh karena itu wahai murīd, takut (khawatirlah) kalian ketika berada pada suatu perkumpulan, dan berhati-hatilah kalian karena itu adalah tempat yang menjadikan rusaknya manusia pada umumnya. Alhasil, hendaknya seorang murīd menyembunyikan ‘amal perbuatannya dan merasa cukup atas penglihatan Allah padanya.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.