Qalbu Rasul sebagai Tempat Wasilah – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Sabīl-us-Sālikīn – Jalan Para Sālik
Ensiklopedi Tharīqah/Tashawwuf

 
Tim Penyusun:
Santri Mbah KH. Munawir Kertosono Nganjuk
Santri KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan
 
Penerbit: Pondok Pesantren NGALAH

Rangkaian Pos: Unsur-unsur Thariqah - Sabil-us-Salikin
  1. 1.Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  2. 2.Mursyid sebagai Pemandu Jalan – Tugas Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin (1/2)
  3. 3.Mursyid sebagai Pemandu Jalan – Tugas Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin (2/2)
  4. 4.Mursyid Sebagai Khalifah Rasul – Tugas Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  5. 5.Sifat dan Syarat (kualifikasi) Mursyid – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  6. 6.Wasilah – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  7. 7.Anda Sedang Membaca: Qalbu Rasul sebagai Tempat Wasilah – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  8. 8.Rabithah (Merabit) – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  9. 9.Teknik Melakukan Rabithah (Merabit) & sebagai Penghalau Iblis – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  10. 10.Suluk – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  11. 11.Suluk dalam Pandangan Ibnu Taimiyah – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin
  12. 12.Beragam Thariqah Hakikatnya adalah Satu – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Qalbu Rasūl sebagai Tempat Wasīlah

 

Di dalam al-Qur’ān, Allāh s.w.t. membuat perumpamaan tentang Cahaya (nūr)-Nya yang diungkapkan dengan redaksi:

اللهُ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ مَثَلُ نُوْرِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُوْنِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَ لَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْءُ وَ لَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّوْرٌ عَلَى نُوْرٍ يَهْدِي اللهُ لِنُوْرِهِ مَن يَشَاءُ وَ يَضْرِبُ اللهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ﴿٣٥﴾

Allāh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allāh, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allāh membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allāh memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allāh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (an-Nūr [24]: 35).

Menurut Ka‘b-ul-Aḥbar dan Ibn Jarīr r.a. yang dimaksud Nūrihī alam ayat ini adalah Nūr-il-Muḥammad, Nūr Muḥammad, (Tafsīr-ul-Qurthubī, juz 12, halaman: 259). Ketika ditanya oleh Ibn Abbās tentang ayat ini, lebih lanjut Ka‘b mengatakan: “Ini adalah perumpamaan yang dibuat oleh Allāh s.w.t. untuk Nabi-Nya s.a.w. al-misykah adalah dada (jasmani)-nya, az-Zujājah adalah Qalbu (rohani)-nya, sedangkan al-Mishbāḥ adalah nubuwat”, (Tafsīr-ul-Bughawī, juz 3, halaman: 346).

Komentar senada diungkapkan oleh Ibn ‘Umar r.a. yang dikeluarkan oleh Imām ath-Thabrānī, Ibn ‘Adī, Ibn Mardawiyyah, dan Ibnu ‘Asākir: “al-misykah adalah rongga dada (jasmani) Muḥammad s.a.w., az-zujājah Qalbu (rohani)-nya sedangkan al-Mishbāḥ adalah nur yang ada di dalam Qalbunya”, (Majma‘-ul-Zawā’id, juz 7, halaman:83, al-Mu’jam-ul-Awsath, juz 2, halaman: 235, al-Mu’jam-ul-Kabīr, juz 12, halaman: 317, Tafsīr-ul-Qurthubī, juz 12, halaman: 263, Fatḥ-ul-Qadīr, juz 4, halaman: 36).

Cahaya (nūr) yang ada dalam qalbu Nabi tersebut, atau yang biasa disebut dengan Nūr Muḥammad, termasuk di dalamnya al-Qur’ān yang juga disebut dengan cahaya (nūr) yang diturunkan ke dalam qalbunya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُم بُرْهَانٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُوْرًا مُّبِيْنًا ﴿١٧٤﴾

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muḥammad dengan mu‘jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’ān).” (al-Nisā’, 4: 174)

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَ هُدًى وَ بُشْرَى لِلْمُؤْمِنِيْنَ ﴿٩٧﴾

Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibrīl, maka Jibrīl itu telah menurunkannya (al-Qur’ān) ke dalam hatimu dengan seidzin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-Baqarah [2]: 97).

Nūr Muḥammad tersebut merupakan cahaya Allāh ada di bumi sebagai satu ujung sedangkan ujung yang lain ada di sisi Allāh sendiri. Hal ini ditegaskan dengan kelanjutan firman-Nya dalam ayat yang sama:

Cahaya (Allāh) di atas cahaya (Muḥammad); Allāh menuntun kepada cahaya-Nya orang yang dikehendaki.

Maksudnya adalah bahwa cahaya Allāh berhubungan langsung dengan cahaya Muḥammad, karena pada hakikatnya cahaya Allāh dan cahaya Muḥammad adalah satu, dan di tempat lain digambarkan sebagai tali Allāh s.w.t. yang harus dipegangi kuat-kuat. Dalam kaitan ini Allāh s.w.t. berfirman:

وَ اعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَ لَا تَفَرَّقُوْا وَ اذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَ كُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ﴿١٠٣﴾

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allāh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni‘mat Allāh kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jāhiliyyah) bermusuh musuhan, maka Allāh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni‘mat Allāh orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allāh menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allāh menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Āli ‘Imrān [3]: 103).

Ayat lain yang tampaknya juga penting dikemukakan di sini untuk memahami keterkaitan Cahaya (Nūr) Tuhan dengan qalbu orang mukmin sebagai singgasana nūr itu, di samping keterkaitannya dengan hidayah, dzikir, dan perjalanan pulang menuju Tuhan adalah:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهِ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوْبُهُم مِّنْ ذِكْرِ اللهِ أُوْلئِكَ فِيْ ضَلَالٍ مُبِيْنٍ ﴿٢٢﴾

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allāh hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allāh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. az-Zumar [39]: 22).

Imām al-Qurthubī mengutip sebuah Hadits yang berasal dari Ibn Mas‘ūd yang mengatakan bahwa para sahabat bertanya kepada Nabi s.a.w. tentang ayat itu, Bagaimana dada orang itu menjadi lapang? Rasūlullāh s.a.w. menjawab: Jika cahaya (Nūr) itu masuk ke dalam qalbunya, maka ia menjadi lapang dan terbuka. Para sahabat masih bertanya: Apa tanda-tanda hal itu? Rasūlullāh s.a.w. menjawab: Melakukan perjalanan pulang ke negeri abadi (akhirat) dan meninggalkan negeri tipu daya (dunia) serta bersiap-siap menjemput kematian sebelum tiba saatnya.(Tafsīr-ul-Qurthubī (al-Jami’u li Aḥkām-il-Qur’ān), juz 15, halaman: 247).

Dari informasi di atas semakin jelas bahwa cahaya (Nūr) Allāh s.w.t. bersemayam di dalam qalbu orang yang dikehendaki lapang dadanya oleh Allāh s.w.t., dan karena kondisi orang semacam ini dioposisikan dengan orang yang berhati keras sehingga tidak berdzikir kepada Allāh s.w.t., maka berarti bahwa orang yang di dalam qalbunya terdapat cahaya (Nūr) Allāh s.w.t. tiada lain adalah ahli dzikir. Ia adalah orang yang tidak pernah lepas dari berdzikir kepada Allāh s.w.t..

Tidak seorang pun yang mendapat gelar sebagai ahli dzikir kecuali Nabi s.a.w. sendiri dan hamba-hamba Allāh s.w.t. yang oleh beliau disebut sebagai mafātiīḥ-udz-dzikr kunci-kunci dzikir; mereka adalah wali-wali Allāh yang apabila mereka dilihat orang maka orang (yang melihat) itu langsung berdzikir juga. Mereka itulah para ‘ulamā’ yang disebut sebagai waratsat-ul-anbiyā’ ahli waris para Nabi, yang kepada mereka Allāh s.w.t. mewariskan al-Qur’ān, sehingga di qalbu mereka itulah wasīlah atau Nūr Tuhan bersemayam.

Mencari dan melihat mereka adalah kewajiban yang diperintahkan Allāh s.w.t. kepada orang-orang yang beriman. Menemukan mereka berarti menemukan wasīlah. Dengan wasīlah, mereka akan dapat berhubungan langsung dengan Allāh serta memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari-Nya, sebagaimana bumi berhubungan langsung dengan matahari melalui cahayanya sehingga memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari matahari itu sendiri Rābithah (Merabit).

Unsur lain yang juga sangat fundamental dalam thariqah sebagai jalan menuju Tuhan dan sekaligus sebagai teknik berdzikir efektif adalah rābithat-ul-mursyid (merabit mursyid) yang dalam istilah Imām al-Munawī disebut dengan shuḥbat-ul-mursyid bersahabat dengan mursyid, yaitu ketika ia menyinggung cara pencapaian akhlak yang terpuji dalam al-Faydh al-Qadīr-nya: “Cara memperoleh akhlak yang terpuji adalah dengan memperbanyak dzikir sambil bersahabat dengan mursyid yang sempurna”, (Faydh al-Qadīr, juz 3, halaman: 467).

Bersahabat dengan mursyid melahirkan akhlak yang agung, menyemaikan kesadaran keagamaan yang benar, dan membangkitkan gelora cinta ilahi yang tersalur dari qalbu mursyid ke dalam qalbu murīd. Bersahabat dengan mursyid yang sempurna adalah langkah awal yang harus ditempuh dalam perjalanan menuju Tuhan. Perjalanan ini sekaligus menjadi sarana diagnosa dan terapi terhadap penyakit-penyakit yang dijangkitkan oleh virus paling ganas bernama Iblīs.

Dalam setiap qalbu terdapat apa yang disebut ḥazhzh-usy-Syaithān bagian syaithan, dan bagian inilah yang diambil Jibrīl dari qalbu Nabi Muḥammad s.a.w. pada saat Beliau s.a.w. berusia empat atau lima tahun dan pada saat menjelang keberangkatan beliau dalam perjalanan malam menuju Tuhan. (Shaḥīḥu Muslim, juz 1, halaman: 147, Shaḥīḥu Ibni Ḥibbān, juz 14, halaman: 242, al-Mustadrak, juz 2, halaman: 575, Musnadu Aḥmad, juz 3, halaman: 149, 288, Musnadu Abī Ya‘lā, juz 6, halaman: 108, 224, Musnadu Abī ‘Awānah, juz 1, halaman: 113, 125).

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *