Pengertian Shufi dan Tashawwuf – Tashawwuf dan Thariqah – Sabil-us-Salikin (1/3)

Sabīl-us-Sālikīn – Jalan Para Sālik
Ensiklopedi Tharīqah/Tashawwuf

 
Tim Penyusun:
Santri Mbah KH. Munawir Kertosono Nganjuk
Santri KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan
 
Penerbit: Pondok Pesantren NGALAH

Rangkaian Pos: Tashawwuf dan Thariqah - Sabil-us-Salikin (Bab II)

BAB II 

TASHAWWUF DAN THARĪQAH

Pengertian Shūfī dan Tashawwuf

Para ‘Ulamā’ memberikan pengertian berbeda-beda atas makna shūfī dan tashawwuf. Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

مَنْ سَمِعَ صَوْتَ اَهْلِ الصُّوْفِ يَدْعُوْنَ فَلَمْ يُؤْمِنْ عَلَى دُعَائِهِمْ كُتِبَ مِنَ الْغَافِلِيْنَ

Barang siapa mendengar suara ahli tashawwuf yang sedang berdo’a dan dia tidak mengucapkan amin atas do’anya maka dia termasuk golongan orang yang lalai.(Tahdzīb al-Asrār fī Ushūl at-Tashawwuf, halaman: 11).

Berikut ini pendapat para ‘ulamā’ shūfī tentang pengertian shūfī dan tashawwuf yang dijelaskan dalam kitab Tahdzīb al-Asrār fī Ushūl at-Tashawwuf, halaman: 11-22:

  1. Ibrāhīm bin Adham, tashawwuf adalah luhurnya sebuah tujuan yang dicita-citakan setiap umat agar terhindar dari tergelincirnya langkah dan melakukan zuhud (mencegah) dari apa-apa yang dihalalkan oleh Allāh s.w.t., bukan dari sesuatu yang diharamkan Allāh s.w.t.
  1. Sarrī as-Saqathī, shūfī adalah seseorang yang tidak pernah padam dari cahaya ma‘rifat Allāh s.w.t. sebab cahaya sifat wirā‘ī dirinya, orang yang tidak berbicara dengan bāthin ilmu yang bisa merusak zhāhirnya ilmu, orang yang tidak tertarik dengan kemuliaan yang bisa merusak batas-batas aturan.
  1. Dzun-Nūn al-Mishrī, ketika di tanya apakah tashawwuf itu lafazh yang musytaq atau julukan? beliau berkata: tashawwuf adalah menutupi dan menyimpan amal yang bisa menyebabkan riyā’.
  1. Syaikh Imām al-Junaidī, tashawwuf adalah;

a. Meninggalkan ikhtiyār.

b. Menjauhi sesuatu yang tidak pantas.

c. Seseorang yang mempunyai 8 sifat yaitu sakhā’ (dermawan), shabar, ridhā, isyārah, ghurbah (menyendiri), berpakaian shūfī, siyāḥah (perjalanan ruhani), dan merasa faqīr.

al-Junaidī juga menjelaskan bahwa orang shūfī memiliki tiga sifat, yakni:

a. Bagaikan bumi, yang semua orang menempatinya baik orang yang taat atau orang tidak taat.

b. Bagaikan mendung yang menaungi siapa saja.

c. Bagaikan hujan yang menyirami orang taat dan yang tidak taat.

  1. Abū Ja‘far al-Naisābūrī, shūfī adalah seseorang yang perilaku dan perbuatannya suka memaafkan (pemaaf), mengajak untuk berbuat kebaikan (amar ma‘rūf), dan menjauhi dari sifat-sifat bodoh.
  1. Abū ‘Utsmān al-Ḥairī, siapakah orang shūfī itu? Beliau berkata:

a. Orang-orang mu‘min yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allāh… (QS. al-Aḥzāb: 23).

b. Orang yang tidak membanggakan amalnya, karena orang yang membanggakan amalnya berarti meremehkan nikmat Tuhannya.

  1. Abū Yazīd al-Busthāmī, tashawwuf adalah membuang nafsu dalam ibadah, menyandarkan hati pada sifat ketuhanan, berperilaku dengan akhlaq yang luhur dan melihat Allāh s.w.t. secara utuh. Tashawwuf juga dapat ditinjau dari tiga sisi:

a. Syarī‘at: membersihkan hati dari kotoran dan berperilaku baik pada sesama makhluq dan mengikuti Rasūl pada semua syarī‘atnya.

b. Ḥaqīqat: tidak ada kejelekan, tidak ada kehidupan, tidak ada keburukan, terbebas dari menghamba kepada syahwat (nafsu), keluar dari syubhat, melebur sifat-sifat kemanusiaan, meninggalkan semua yang dicintai dan cukup dengan Allāh.

c. Al-Ḥaqq: Allāh al-Ḥaqq memilih Shūfīkarena sifatnya yang bersih, sehingga dikatakan golongan yang bersih.

  1. Sahl bin ‘Abdullāh, Shūfī adalah: orang yang darahnya selalu dialirkan, miliknya selalu dimubahkan, tidak melihat sesuatu kecuali dari Allāh, mensucikan Allāh pada semua ciptaan-Nya. Dan tashawwuf adalah: Menghindari perselisihan, merasa tenang terhadap Allāh s.w.t, berlindung kepada Allāh s.w.t, dan menjauhi makhluq.
  1. Abū Ḥusain al-Nūrī, tashawwuf ialah meninggalkan semua bagian nafsu, bisa menguasai waktu. Dan orang Shūfī adalah; mereka yang merasa tenang ketika tidak ada, dan mengalah ketika ada, mereka yang meninggalkan kepentingan nafsu dan memilih kepentingan Allāh s.w.t, serta mereka yang menemukan dan memahami keberadaannya.
  1. Jābir bin Dāwūd, tashawwuf ialah mengharapkan Allāh yang Ḥaqq pada makhluk tanpa perantara makhluq.
  1. Muḥammad bin ‘Alī al-Tirmidzī, orang Shūfī ialah orang yang tujuan dan cita-cita utamanya adalah Allāh yang Ḥaqq.
  1. Abū-l-‘Abbās bin Masrūq, orang yang berpura-pura tashawwuf akan disiksa dengan siksa yang tidak pernah diberikan kepada seorang makhluq di alam ini, sedangkan orang yang ber-tashawwuf dengan sungguh-sungguh akan diberi keni‘matan yang tidak pernah diberikan kepada seorang makhluq di alam ini.
  1. Muznī al-Kabīr, tashawwuf adalah berbudi pekerti dan mengosongkan tangan dari beberapa harta dan membersihkan jiwa dari berangan-angan serta menjaga Allāh yang Ḥaqq pada setiap keadaan.
  1. al-Walīd bin Qāsim, tashawwuf adalah menjaga gerak-gerik sifat dari mengikuti jejak syahwat (hawa-nasfu) dan bersegera memilih Allāh yang Ḥaqq dalam segala keinginanya.
  1. Abū Ḥusain bin Hindun, tashawwuf adalah memurnikan cinta.
  1. al-Kattānī, tashawwuf berarti bersih dan menyaksikan, tashawwuf juga berarti budi pekerti, seseorang yang tambah tashawwuf-nya berarti bertambah pula akhlaqnya. Orang Shūfī ialah orang yang ta‘at dan ketika beribadah dianggap masih melakukan kesalahan dan membutuhkan banyak istighfār.
  1. Abū ‘Alī ar-Rudzbārī, tashawwuf adalah:

a. Membersihkan budi pekerti dari kotoran seorang hamba.

b. Nama untuk orang-orang yang dipercaya oleh Allāh dan orang-orang yang dicintai oleh Allāh.

c. Menetap atau mendiami pada pintu Allāh sekalipun ditolak.

d. Membatasi kebebasan, dan

Abū ‘Alī al-Rudzbārī juga berkata: bahwa Shūfī ialah barang siapa yang melepas setiap gerakan dengan berfikir dan tunduk pada jalur takdir serta tidak memperoleh teman kecuali secukupnya.

  1. Ḥusain bin Manshūr, Shūfī adalah:

a. Seseorang yang tidak bisa menerima orang lain dan tidak diterima orang lain.

b. Seseorang yang mempunyai sifat dari Allāh s.w.t.

c. Orang yang mempunyai sifat seperti yang di-isyārah-kan oleh Allāh s.w.t. di dalam al-Qur’ān.

  1. Asy-Syiblī, Shūfī adalah:

a. Orang yang selalu menepati janji-janji Allāh s.w.t.

b. Orang yang tidak memandang di dunia dan akhirat bersama dengan selain Allāh s.w.t.

c. Orang yang memutuskan hubungan yang tidak bisa menjadi lantaran kepada Allāh s.w.t. seperti yang dilakukan oleh Nabi Mūsā yang memutskan hubungannya dengan kaumnya sehingga melakukan khalwat (menyendiri).

d. Orang yang tidak memiliki sesuatu dan tidak dimiliki oleh sesuatu.

e. Bagaikan anak kecil yang berada dipangkuan Allāh s.w.t. (dalam kekuasaan) yang Ḥaqq.

Imām as-Syiblī juga mengatakan bahwa tashawwuf adalah membatasi gerakanmu dan menjaga setiap nafasmu, serta terjaga dari memperhatikan alam semesta (perhatiannya hanya kepada dunia).

  1. Ruwaim, tashawwuf adalah:

a. Permulaan menggunakan ruh jika mampu, jika tidak mampu jangan sekali-kali sibuk dengan sesuatu yang tidak berguna.

b. Meninggalkan keutamaan di antara dua hal dan melakukan segala ‘amal kebaikan.

Imām Ruwaim juga berkata: Shūfī ialah melakukan segala ‘amal kebaikan.

  1. ‘Amr bin ‘Utsmān al-Makkī, orang Shūfī adalah orang yang menggunakan keutamaan waktu yang ada.
  1. Abū-l-‘Abbās bin ‘Athā’:

a. Orang Shūfī adalah orang yang jiwanya bersih dari kotoran dan sifat-sifat indrawi.

b. Keutamaan orang Shūfī adalah mengalahkan seluruh manusia dengan kepasrahannya.

c. Permulaan tashawwuf adalah sālik berdiri di depan Allāh yang Ḥaqq sepertihalnya mayit bearada di tangan orang yang sedang memandikannya, mayit tetap dalam kekuasaan orang yang memandikan dan tidak ada pilihan lain bagi mayit tersebut.

  1. ‘Abbās al-Jarīrī, Shūfī adalah tidak menghiraukan terhadap keni‘matan yang dianggap baik dan cobaan yang dianggap jelek. Sedangkan tashawwuf adalah:

a. Memperhatikan keadaan hati dan tetap teguh pada akhlaq/etika.

b. Manusia yang paling utama ketika menyibukkan dirinya dengan memanfaatkan semua waktu yang ada.

  1. Qays bin ‘Abd-il-‘Azīz, tashawwuf adalah sabar terhadap rekayasa nafsu dan menghindari sesuatu yang dianggap jinak.
  1. Aḥmad Rajā’ al-Makkī, orang Shūfī adalah orang yang cara makannya seperti orang yang sakit dan tidurnya seperti orang yang tenggelam, sedangkan tashawwuf ialah tunduk kepada Allāh yang Ḥaqq.
  1. Yaḥyā al-‘Alawī, tashawwuf adalah menetapi (menguatkan) sirrī sampai tidak tersisa (habis).
  1. Abū ‘Abdillāh al-Qurasyī, tashawwuf adalah mengawali dengan menghilangkan sifat-sifat insāniyyah (manusiawi) dan diakhiri dengan mengikat sifat-sifat ‘ubūdiyyah (menghamba).
  1. Abū-l-Ḥadīd, tashawwuf adalah Allāh memuliakanmu di kerajaan-Nya seperti Allāh memuliakan selainmu di kerajaan-Nya. (tidak merasa lebih mulia dari orang lain/tawāddhu‘).
  1. Abū Khashīb, tashawwuf adalah budi pekerti yang tidak sepatutnya digunakan kecuali untuk taat kepada Allāh s.w.t
  1. Fāris al-Baghdādī, perilaku Shūfī ada 3, antara lain; sadar dan mengambil ‘ibārat, malu dan memohon ampun, serta menerima teguran dan menerima alasan.
  1. An-Nashībī, Shūfī adalah orang yang tidak mengenal lelah untuk mencari Allāh s.w.t. dan tidak menggelisahkan sebab.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *