skip to Main Content
Mengaji Al-Hikam Syaikh Abu Madyan – Bab Tentang Dzikir

Dari Buku:

Mengaji al-Hikam
(Jalan Qalbu Para Perindu Tuhan)
Oleh: Syaikh Abu Madyan al-Ghauts
(Judul Asli: Syarḥ al-Ḥikam al-Ghautsiyyah)


Disertai ulasan oleh: Ibn ‘Ilan al-Shiddiq al-Syafi‘i
Penerjemah:
Penerbit: Zaman

(29)

Hati Ahli Dunia dan Hati Kaum Arif

 

جَعَلَ اللهُ قُلُوْبَ أَهْلِ الدُّنْيَا مَحَلاًّ لِلْغَفْلَةِ وَ الْوَسْوَسِ، وَ قُلُوْبَ الْعَارِفِيْنَ مَكَانًا لِلذِّكْرِ وَ الاِسْتِئْنَاسِ.

Allah menjadikan hati ahli dunia sebagai tempat kelalaian dan bisikan, sementara hati kaum ‘arif sebagai tempat zikir dan kedekatan.

Jika kau duduk bersama ahli dunia, kelalaian mereka mengalir kepadamu dan bisikan mereka membungkus hatimu. Sebaliknya, jika kau duduk bersama kalangan ‘arif, cahaya mereka akan menerangimu dan rahasia mereka meliputi hatimu.

Jika bertanya tentang seseorang, tanyakan temannya

Karena setiap orang biasanya akan mengikuti temannya.

Saudaraku, jangan berguru kecuali kepada orang yang ucapannya membuatmu terjaga dan perilaku serta ahwalnya membangkitkan menuju Allah. Nabi s.a.w. bersabda: “Seseorang akan dibangkitkan sesuai dengan agama sahabatnya. Ketika itu, hendaknya setiap kalian memperhatikan dengan siapa bersahabat.” (64)

Allah s.w.t. berfirman: “Wahai orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kalian bersama mereka yang jujur.” (65)

Saudaraku, jangan bersahabat kecuali dengan orang yang jujur. Jangan bergaul dan berteman kecuali dengan orang yang saleh. Berusahalah agar rasa takut menjadi penggerakmu menuju jalan ini sehingga semua rintangan lenyap dari hatimu.

 

(48)

Hingga Zikirmu kepada-Nya Melampaui Ingatanmu kepada Dirimu Sendiri

 

تَوَكَّلْ عَلَى اللهِ حَتَّى يَكُوْنَ الْغَالِبُ ذِكْرَهُ عَلَى ذِكْرِكَ، فَإِنَّ الْخَلْقَ لَنْ يُغْنُوْا عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا

Peliharalah sikap tawakal kepada Allah sehingga zikir mengingat-Nya mengalahkan ingatanmu pada dirimu. Sebab, makhluk tidak bisa menolongmu sama sekali dari Allah.

Jika kau telah mengetahui bahwa zikir merupakan pangkal segala kebahagiaan maka hampirilah Dia sepenuh dirimu. Tenggelamlah dalam zikir kepada-Nya. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Penghuni surga tidak merasakan penyesalan sama sekali ketika memasuki surga kecuali atas waktu yang mereka lewatkan di dunia tanpa zikir kepada Allah.” (79)

Karena itu, wahai saudaraku, paculah dirimu untuk meraih keutamaan itu. Pergunakan semua kesempatan yang kau miliki untuk mendapatkan kedudukan yang mulia. Tegakkan tawakalmu sehingga zikir kepada Allah menguasai dirimu. Jadilah hamba-Nya, perhatikan larangan dan perintah-Nya, hisablah dirimu, serta rendahkanlah ia dengan selalu menegurnya.

 

(83)

Hadirkan Hati Saat Berzikir

 

الذِّكْرُ شُهُوْدُ الْمَذْكُوْرِ، وَ دَاوَمُ الْحُضُوْرِ، مَنْ لَمْ يَغْفُلْ عَنْ ذِكْرِكَ، فَلاَ تَغْفُلْ عَنْ ذِكْرِهِ، وَ مَنْ لَمْ يَغْفُلْ عَنْ بِرِّكَ، فَلاَ تَغْفُلْ عَنْ شُكْرِهِ

Zikir adalah menyaksikan yang dizikirkan dengan hati yang senantiasa hadir. Zat yang tidak pernah lalai mengingatmu tak boleh kau lupakan. Zat yang tidak pernah lupa berbuat baik kepadamu, tak boleh lupa kau syukuri.

Wahai salik, Syekh r.a. menjelaskan kepadamu makna zikir sekaligus mendorongmu untuk menetapinya. Syekh r.a. menyebutkan sejumlah manfaat zikir berikut sebab yang akan mengantarkanmu kepada-Nya.

Kesimpulannya, zikir lisan berujung pada penyaksian objek zikir ketika orang yang berzikir memasuki maqam ihsan. Karena Syekh termasuk golongan yang mencapai tingkatan sempurna, tingkatan yang disebutkan di sini adalah puncak zikir orang yang sudah sampai kepada-Nya. Zikir tingkatan pertama adalah zikir hati dan zikir kalangan yang telah sampai adalah zikir ruh. Perbedaan antara keduanya bagaikan kulit almond dan kulit dari kulitnya, serta biji almond dan inti dari bijinya.

Zikir lisan seperti lapisan tipis kulit terluar. Zikir hati laksana kulit lapisan kedua. Zikir ruh adalah buah yang terbungkus kulit, sementara zikir yang disebutkan oleh Syekh merupakan inti buah. Zikir ruh laksana biji terdalam pada buah almond.

Maqam ini disebutkan oleh penulis al-Ḥikam al-‘Athā’iyyah, Syekh Ibn ‘Atha’illah, dengan satu pernyataan yang singkat dan menakjubkan: “Jangan tinggalkan zikir dengan dalih hatimu tidak hadir bersama Allah. Sebab, kelalaianmu dari berzikir kepada-Nya lebih berbahaya daripada kelalaianmu ketika berzikir kepada-Nya. Teruslah berzikir, dan berharaplah semoga Dia menaikkanmu dari yang lalai menuju zikir yang sadar. Lalu dari zikir yang sadar menuju zikir yang dibarengi kehadiran hati. Kemudian dari zikir yang disertai kehadiran hati menuju zikir yang disertai perasaan lenyap dari segala sesuatu selain objek zikir (Allah). Perubahan seperti itu tidaklah sulit bagi Allah.”

Selanjutnya, Syekh r.a. menyebutkan sesuatu yang bisa mendorongmu untuk berzikir secara total. Ia mengatakan: Allah s.w.t. dengan keagungan dan kemuliaan-Nya tidak pernah lupa mengingatmu, jadi mengapa kau yang fakir dan hina lupa mengingat-Nya?! Sikapmu itu benar-benar menggambarkan pengabdian yang buruk dan kebodohan akan keagungan kedudukan-Nya! Dia tetap menganugerahkan nikmat kendati kau melupakan-Nya. Dia juga tidak pernah luput berbuat baik kepadamu sehingga mengapa kau tidak berusaha, mengerahkan jiwa dan ragamu untuk mengabdi kepada-Nya disertai syukur sepenuh hati?

Renungkanlah hikmah nan agung dan mulia ini yang diungkapkan oleh sang ‘arif, kemudian tanamkan dalam hatimu pemahaman itu. Sungguh ia telah berusaha menarikmu beserta seluruh kecenderunganmu kemudian menggiringmu dengan rantai kerinduan menuju Tuhan. Kau mesti sungguh-sungguh mengamalkan hikmah dan anjurannya. Setiap salik harus berlomba-lomba menggapai kedudukan mulia itu. Begitu banyak ayat dan hadits yang bertutur tentang keutamaan zikir. Dada manusia telah dipenuhi pemahaman mengenainya, dan tak terhitung lagi buku yang membahasnya. Karena itu, kami tidak akan berpanjang lebar menyebutkan sesuatu yang sudah sangat terang laksana siang. Apakah sesuatu yang teramat jelas masih membutuhkan dalil dan bukti?! Tentu kesehatan otak ini harus dipertanyakan jika masih mempertanyakan dalil bagi terangnya siang. Karena itu, wahai saudaraku, berzikirlah mengingat Allah, pemelihara semesta. Agar engkau bisa menetapinya, bersahabatlah dengan kalangan saleh.

 

(84)

Sadar Bersama Ahli Zikir

 

مَنْ جَالَسَ الذَّاكِرِيْنَ، اِنْتَبَهَ مِنْ غَفْلَتِهِ، وَ مَنْ خَدَمَ الصَّالِحِيْنَ، اِرْتَفَعَ لِخِدْمَتِهِ.

Jika kau duduk bersama ahli zikir, kau akan sadar dari lalaimu. Jika kau mengabdi kepada orang saleh, kau menjadi mulia karenanya.

Duduk dan bersahabatlah dengan para ahli zikir agar keterjagaan mereka mengalir dan membuatmu terjaga. Mengabdilah dengan tulus dan baik kepada orang-orang saleh sehingga pengabdian kepada mereka menaikkan kedudukanmu.

Syekh al-Suhrawardi berkata: “Suatu ketika aku dan paman berada di masjid al-Khafif. Ia terus berjalan dan berputar-putar di sisi masjid. Ketika kutanyakan kenapa, ia menjawab: “Aku mencari satu kelompok yang jika pandangan mereka tertuju kepada seseorang, itu akan serupa ramuan ajaib yang bisa mengubah tembaga menjadi emas. Apabila pandangan mereka dari kejauhan memiliki keistimewaan semacam itu, apalagi jika mereka diperhatikan dan dicintai, apalagi jika mereka dijadikan teman duduk dan sahabat, serta apalagi jika kita tunduk dan merendah kepada mereka. Sungguh kemuliaan mereka akan menarik kita ke dalamnya.”

Karena itu, Syekh Abul-Hasan al-Syadzili r.a. berkata: “Kura-kura bertelur dan membesarkan anak-anaknya dengan memandangi mereka dari kejauhan. Pandangannya benar-benar istimewa. Apabila hewan saja memiliki pandangan istimewa semacam itu maka apalagi pandangan seorang wali?! Apalagi pandangan orang yang sibuk mengabdi dan mencintai-Nya?!

Sahl al-Tustari r.a. berkata: “Allah menatap suatu kaum sebagai pembelaan dan penjagaan kepada mereka. Dia menatap suatu kaum yang berada dalam hati suatu kelompok. Maka, cintailah para wali Allah agar kalian berada dalam hati mereka. Jika begitu, ketika Allah menatap mereka, Dia juga melihatmu di dalam hati mereka sehingga kau pun mendapat curahan rahmat-Nya.”

Ku punya pimpinan yang mulia

Kakinya berada di atas dahiku

Jika aku tak termasuk golongannya

Mencintainya jadi kemuliaan bagiku.

Imam al-Syafi‘i bertutur:

Ku cintai orang saleh, tapi aku tak termasuk golongan mereka.

Hanya saja ku berharap, bersama mereka ku dapatkan syafaat

Sungguh ku benci orang yang berdagang maksiat

Meski daganganku dan dagangannya tiada beda.

Saudaraku, jika kau memahami hal itu, kau harus duduk dan melayani mereka. Dengan cara itu, kau akan meniti jalan yang paling mulia. Jika kau mendapat karunia itu, ikuti dan contohlah akhlak mereka. Tempuhilah jalan mereka, pasti kau akan mendapat anugerah seperti yang mereka raih.

 

(122)

Tuhan Hadir Saat Kau Tenggelam dalam Zikir

 

مَشَاهِدُ الْحُضُوْرِ اسْتِغْرَاقُ الْقَلْبِ فِي الذِّكْرِ.

Saat hati tenggelam dalam zikir, kau akan menyaksikan kehadiran-Nya.

Ketika kau menyaksikan objek zikir, berarti kau hadir bersama Allah. Ketenggelaman hati dalam zikir terwujud ketika hatimu didominasi penyaksian Zat yang kau zikirkan. Ketika hatimu didominasi penyaksian kepada Allah, lenyaplah segala sesuatu selain Dia. Satu-satunya yang tersisa dalam hatimu adalah Tuhan. Dalam kondisi seperti itu, hati tenggelam dalam zikir, tidak merasakan siapa pun selain Dia. Itulah puncak tingkatan zikir. Jika kau dapat mereguk nikmat tingkatan ini, berarti kau mulai menempuh jalan menuju kebahagiaan paling tinggi. Kau hidup seperti para wali yang mulia. Kau akan menikmati berbagai nikmat dan kehormatan yang didapatkan penduduk surga.

(131)

Zikir adalah Menyaksikan Hakikat dan Melenyapkan Tabiat

 

الذِّكْرُ مَا غَيَّبَكَ عَنْكَ بِوُجُوْدِهِ، وَ أَخَذَكَ مِنْكَ بِشُهُوْدِهِ.

Zikir adalah sesuatu yang melenyapkan dirimu dengan wujud-Nya serta menarikmu dari dirimu dengan penyaksian-Nya. Zikir adalah menyaksikan hakikat dan lenyapnya tabiat.

Jika dirimu lenyap akibat penyaksianmu kepada-Nya, berarti kau telah mencapai puncak tingkatan zikir. Saat itulah kau menyaksikan hakikat dan melenyapkan tabiat. Siapa pun yang telah menyaksikan hakikat, tabiatnya akan lenyap. Dan siapa pun yang tabiatnya telah lenyap, ia akan fana dari sifat-sifatnya dan unsur kemanusiaannya. Semua itu bersumber dari makna Lā ilāha illallāh dan perwujudan adab Muhammadur Rasūlullāh.

Saudaraku, tanamlah Lā ilāha illallāh di tanah hatimu dan siramilah dengan air sungai Muhammadur Rasūlullāh. Dengan begitu, kau akan sampai kepada Tuhan.

Saudaraku, kau harus diam, menyendiri, lapar, dan terjaga agar tanah tempatmu menaman Lā ilāha illallāh menjadi subur dan gembur. Jangan memperbanyak makan, tidur, dan berbicara karena semua itu akan menyesatkan hati dan menghancurkan fondasi bangunannya.

 

(143)

Tanda Allah Menghendaki Kebaikan untukmu

 

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا آنَسَهُ بِذِكْرِهِ، وَ وَفَّقَهُ لِشُكْرِهِ

Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, Dia jadikan hamba itu senang mengingat-Nya dan mendapat taufik untuk bersyukur kepada-Nya.

Orang yang benar-benar berzikir mengingat Allah akan melupakan segala sesuatu yang lain. Dalam hatinya hanya ada Allah. Dia memenuhi hatinya dan menyingkirkan segala sesuatu yang lain.

Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Barang siapa yang sibuk dengan berzikir kepada-Ku sehingga lupa meminta, Aku akan memberinya sebaik-baik yang Kuberikan pada para peminta.

Apabila Allah menjadikan seseorang senang berzikir mengingat-Nya sehingga ia terus berzikir baik ketika sendiri maupun di keramaian, dan ia diberi kenikmatan dalam berzikir, lidahnya difasihkan untuk zikir, adakah kedudukan yang lebih baik dari itu?! Adakah nikmat lain yang mampu menandinginya?! Seorang salik tentu mengharapkan anugerah seperti itu, apalagi jika disertai taufik sehingga ia selalu bersyukur kepada-Nya. Semua anggota tubuhnya diarahkan untuk mentaati perintah dan larangan-Nya. Ini merupakan kebahagiaan sempurna yang hanya dapat diraih dengan karunia-Nya. Orang yang mendapatkannya hanyalah yang telah meraih pertolongan dari-Nya. Keselamatan dan kebahagiaan bagi mereka.

Saudaraku, manfaatkanlah waktumu untuk terus berzikir kepada-Nya. Kerahkan seluruh perhatianmu untuk menetapi perintah dan larangan-Nya. Jauhilah makhluk dan berusahalah untuk mengabdi kepada Sang Khalik.

 

Catatan:

64). H.R. Abū Dāūd (4/259), at-Tirmīdzī (4/589), dan Aḥmad (2/303).

65). At-Taubah: 119

79). H.R. ath-Thabrānī dalam al-Kabīr (20/93), al-Baihaqī dalam asy-Syu‘ab (1/392).

159). H.R. at-Tirmīdzī dan ‘Abdur-Razzāq.


  • Diposting Pada: 7:06 AM 02/09/2017
  • Dalam Kategori: Dzikir
  • Terdiri Dari: 1597 Kata
  • Dilihat: 231 Kali.
Back To Top