Shahih Bukhari no.82 s.d 84 : Berfatwa Dengan Isyarat Tangan Atau Anggukan Kepala

Dari Kitab:
Sahīh al-Bukhārī
Oleh: Abū ‘Abd Allāh Muhammad ibn Ismā‘īl ibn Ibrāhīm ibn al-Mughīrah ibn Bardizbah al-Ju‘fī al-Bukhārī

Rangkaian Pos: Shahih Bukhari Kitab 3 (Kitab Ilmu)

صحيح البخاري ٢٨: حَدَّثَنَا مُوْسَى بْنُ إِسْمَاعِيْلَ قَالَ: حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ قَالَ: حَدَّثَنَا أَيُّوْبُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ سُئِلَ فِيْ حَجَّتِهِ فَقَالَ: ذَبَحْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ فَأَوْمَأَ بِيَدِهِ قَالَ: وَ لَا حَرَجَ قَالَ: حَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَذْبَحَ فَأَوْمَأَ بِيَدِهِ وَ لَا حَرَجَ.

Shahih Bukhari 82: Telah menceritakan kepada kami Mūsā bin Ismā‘īl berkata: Telah menceritakan kepada kami Wuhaib berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayyūb dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbās; bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam ditanya seseorang tentang haji yang dilakukannya, orang itu bertanya: “Aku menyembelih hewan sebelum aku melempar jumrah”. Beliau memberi isyarat dengan tangannya, yang maksudnya “tidak apa-apa. “Dan aku mencukur sebelum menyembelih”. Beliau memberi isyarat dengan tangannya yang maksudnya “tidak apa-apa.

Derajat: Ijmā‘ ‘Ulamā’: Shaḥīḥ.

Pembanding: SB: 121, 1607, 1608, 1620. 6173; SM: 2304, 2305; ST: 839; SN: 3017; SIM: 3041; MA: 2516. 6201; SD: 1828.

صحيح البخاري ٣٨: حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ قَالَ: أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِيْ سُفْيَانَ عَنْ سَالِمٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: يُقْبَضُ الْعِلْمُ وَ يَظْهَرُ الْجَهْلُ وَ الْفِتَنُ وَ يَكْثُرُ الْهَرْجُ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ مَا الْهَرْجُ فَقَالَ هكَذَا بِيَدِهِ فَحَرَّفَهَا كَأَنَّه يُرِيْدُ الْقَتْلَ.

Shahih Bukhari 83: Telah menceritakan kepada kami al-Makkī bin Ibrāhīm berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ḥanzhalah bin Abī Sufyān dari Sālim berkata: Aku mendengar Abū Hurairah dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Ilmu akan diangkat dan akan tersebar kebodohan dan fitnah merajalela serta banyak timbul kekacauan”. Ditanyakan kepada Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasūlullāh, apa yang dimaksud dengan kekacauan?” Maka Rasūl shallallāhu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Begini”. Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangannya lalu memiringkannya. Seakan yang dimaksudnya adalah pembunuhan.

Derajat: Ijmā‘ ‘Ulamā’: Shaḥīḥ.

Pembanding: MA: 7234, 7533, 9162, 10369.

صحيح البخاري ٤٨: حَدَّثَنَا مُوْسَى بْنُ إِسْمَاعِيْلَ قَالَ: حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ فَاطِمَةَ عَنْ أَسْمَاءَ قَالَتْ: أَتَيْتُ عَائِشَةَ وَ هِيَ تُصَلِّي فَقُلْتُ: مَا شَأْنُ النَّاسِ فَأَشَارَتْ إِلَى السَّمَاءِ فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ فَقَالَتْ: سُبْحَانَ اللهِ قُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ بِرَأْسِهَا أَيْ نَعَمْ فَقُمْتُ حَتَّى تَجَلَّانِي الْغَشْيُ فَجَعَلْتُ أَصُبُّ عَلَى رَأْسِي الْمَاءَ فَحَمِدَ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ أَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: مَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ أَكُنْ أُرِيْتُهُ إِلَّا رَأَيْتُهُ فِيْ مَقَامِيْ حَتَّى الْجَنَّةُ وَ النَّارُ فَأُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُوْنَ فِيْ قُبُوْرِكُمْ مِثْلَ أَوْ قَرِيْبَ لَا أَدْرِيْ أَيَّ ذلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ يُقَالُ مَا عِلْمُكَ بِهذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُوقِنُ لَا أَدْرِيْ بِأَيِّهِمَا قَالَتْ أَسْمَاءُ: فَيَقُوْلُ: هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَ الْهُدَى فَأَجَبْنَا وَ اتَّبَعْنَا هُوَ مُحَمَّدٌ ثَلَاثًا فَيُقَالُ: نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوْقِنًا بِهِ وَ أَمَّا الْمُنَافِقُ أَوِ الْمُرْتَابُ لَا أَدْرِيْ أَيَّ ذلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ: فَيَقُوْلُ: لَا أَدْرِيْ سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُوْلُوْنَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ.

Shahih Bukhari 84: Telah menceritakan kepada kami Mūsā bin Ismā‘īl berkata: Telah menceritakan kepada kami Wuhaib berkata: Telah menceritakan kepada kami Hisyām dari Fāthimah dari Asmā’ berkata: Aku menemui ‘Ā’isyah (-di rumah Nabi saw-ed) saat dia sedang shalat. Setelah itu aku tanyakan kepadanya: “Apa yang sedang dilakukan orang-orang?”(-rumah Nabi saw dan mesjid bersebelahan sehingga terlihat aktifitas Nabi saw dan orang-orang-ed). ‘Ā’isyah memberi isyarat ke langit. Ternyata orang-orang sedang melaksanakan shalat (gerhana matahari). Maka ‘Ā’isyah berkata: “Maha suci Allah”. Aku tanyakan lagi: “Satu tanda saja?” Lalu dia memberi isyarat dengan kepalanya, maksudnya mengangguk tanda mengiyakan. Maka aku pun ikut shalat namun timbul perasaan yang membingungkanku, hingga aku siram kepalaku dengan air. Dalam khutbahnya (terdengar oleh Asmā’-ed), Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam memuji Allah dan mensucikan-Nya, lalu bersabda: “Tidak ada sesuatu yang belum diperlihatkan kepadaku, kecuali aku sudah melihatnya dari tempatku ini hingga surga dan neraka, lalu diwahyukan kepadaku: bahwa kalian akan terkena fitnah dalam kubur kalian semisal atau hampir berupa fitnah, (yang aku sendiri tidak tahu apa yang diucapkan Asmā’– ini perkataan rijalul sanad/perawi-ed)) di antaranya adalah fitnah al-Masīḥ-ad-Dajjāl-; “ lalu akan ditanyakan kepada seseorang (di dalam kuburnya): “Apa yang kamu ketahui tentang laki-laki ini (ditampakkan sosok Nabi Muhammad saw maksudnya-ed)?” Adapun orang beriman atau orang yang yakin, (Asmā’ kurang pasti mana yang dimaksud di antara keduanya- ini perkataan rijalul sanad/perawi-ed)) akan menjawab: “Dia adalah Muḥammad Rasūlullāh, telah datang kepada kami membawa penjelasan dan petunjuk. Maka kami sambut dan kami ikuti. Dia adalah Muḥammad,” diucapkannya tiga kali. Maka kepada orang itu dikatakan: “Tidurlah dengan tenang, sungguh kami telah mengetahui bahwa kamu adalah orang yang yakin”. Adapun orang Munāfiq atau orang yang ragu, (Asmā’ kurang pasti mana yang dimaksud di antara keduanya- ini perkataan rijalul sanad/perawi-ed)), akan menjawab: “aku tidak tahu siapa dia, aku mendengar manusia membicarakan sesuatu maka aku pun mengatakannya”.

Derajat: Ijmā‘ ‘Ulamā’: Shaḥīḥ.

Pembanding: SB: 178; MA: 24815.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.