Mustadrak 87 Ruqyah Dan Obat-obatan Itu Termasuk Takdir Allah (1/2)

Al-MUSTADRAK
(Judul Asli: Al-Mustadraku ‘alash-Shahihain)
Oleh: Imam al-Hakim

Penerjemah: Ali Murtadho
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Mustadrak Kitab 1 Bab 38 - Ruqyah Dan Obat-obatan Itu Termasuk Takdir Allah
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Mustadrak 87 Ruqyah Dan Obat-obatan Itu Termasuk Takdir Allah (1/2)
  2. 2.Mustadrak 88 Ruqyah Dan Obat-obatan Itu Termasuk Takdir Allah (2/2)

38 – الرُّقَى وَ الْأَدْوِيَةُ مِنْ قَدَرِ اللهِ – تَعَالَى –

1-38. Ruqyah Dan Obat-obatan Itu Termasuk Takdir Allah.

87 – حَدَّثَنَا أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوْبَ الْحَافِظُ، ثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى، ثَنَا مُسَدَّدٌ، ثَنَا يَزِيْدُ بْنُ زُرَيْعٍ، ثَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ رُقًى كُنَّا نَسْتَرْقِيْ بِهَا، وَ أَدْوِيَةٌ كُنَّا نَتَدَاوَى بِهَا هَلْ تَرُدُّ مِنْ قَدَرِ اللهِ – تَعَالَى – ؟ قَالَ: “هُوَ مِنْ قَدَرِ اللهِ”.

هذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ ثُمَّ لَمْ يُخْرِجَاهُ، وَ قَالَ مُسْلِمٌ فِيْ تَصْنِيْفِهِ فِيْمَا أَخْطَأَ مَعْمَرٌ بِالْبَصْرَةِ أَنَّ مَعْمَرًا حَدَّثَ بِهِ مَرَّتَيْنِ، فَقَالَ مَرَّةً: عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنِ ابْنِ أَبِيْ خُزَامَةَ، عَنْ أَبِيْهِ. قَالَ الْحَاكِمُ: وَ عِنْدِيْ أَنَّ هذَا لَا يُعَلِّلُهُ، فَقَدْ تَابَعَ صَالِحُ بْنُ أَبِي الْأَخْضَرِ مَعْمَرَ بْنَ رَاشِدٍ فِيْ حَدِيْثِهِ عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ وَ صَالِحٍ، وَ إِنْ كَانَ فِي الطَّبَقَةِ الثَّالِثَةِ مِنْ أَصْحَابِ الزُّهْرِيِّ، فَقَدْ يُسْتَشْهَدُ بِمِثْلِهِ.

87/87. Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ya‘qūb al-Ḥāfizh menceritakan kepada kami, Yaḥyā bin Muḥammad bin Yaḥyā menceritakan kepada kami, Musaddad menceritakan kepada kami, Yazīd bin Zurai‘menceritakan kepada kami, Ma‘mar menceritakan kepada kami dari az-Zuhrī, dari ‘Urwah, dari Ḥakīm bin Ḥizām, dia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasūlullāh, ruqyah-ruqyah yang kami baca dan doa-doa yang kami pakai, apakah dapat menolak takdir Allah?” Beliau menjawab: “Itu Termasuk Takdir Allah.” (1481).

Hadits ini shaḥīḥ sesuai syarat al-Bukhārī dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.

Muslim mengatakan dalam tulisannya tentang kesalahan Ma‘mar di Bashrah, bahwa dia (Ma‘mar) meriwayatkan haditsnya dua kali. Dia (Ma‘mar) berkata di tempat lain: “Dari az-Zuhrī, dari Ibnu Abī Khuzaimah, dari ayahnya.”

Al-Ḥakīm berkata: “Menurutku, hal ini tidak menjadikan hadits ini ber-‘illat, karena Shāliḥ bin Abul-Akhdhar mengikuti Ma‘mar bin Rāsyid dalam haditsnya (yang diriwayatkan) dari az-Zuhrī, dari ‘Urwah dan Shāliḥ. Sekalipun dia termasuk tingkatan ketiga dari sahabat-sahabat az-Zuhrī, tapi dia telah berhujjah dengan hadits serupa.”

Catatan:

  1. (148). Adz-Dzahabī berkata dalam at-Talkhīsh: “Hadits ini sesuai syarat al-Bukhārī dan Muslim. Muslim pun menganggap kesalahan di dalamnya pada Ma‘mar di Bashrah. Ma‘mar berkata di tempat lain: “Dari az-Zuhrī, dari Ibnu Abī Khuzaimah, dari ayahnya.”

    Al-Ḥakīm berkata: “Untuk yang pertama diikuti oleh Shāliḥ bin Abil-Akhdhar.”

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *