Mustadrak 29 Bukanlah Seorang Mu’min yang Suka Banyak Mencela, Mengutuk, Berbuat Keji, dan yang Suka Berkata Kotor (1/8)

Al-MUSTADRAK
(Judul Asli: Al-Mustadraku ‘alash-Shahihain)
Oleh: Imam al-Hakim

Penerjemah: Ali Murtadho
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Mustadrak Kitab 1 Bab 16 - Bukanlah Seorang Mu’min yang Suka Banyak Mencela, Mengutuk, Berbuat Keji, & yang Suka Berkata Kotor
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Mustadrak 29 Bukanlah Seorang Mu’min yang Suka Banyak Mencela, Mengutuk, Berbuat Keji, dan yang Suka Berkata Kotor (1/8)
  2. 2.Mustadrak 30 Bukanlah Seorang Mu’min yang Suka Banyak Mencela, Mengutuk, Berbuat Keji, dan yang Suka Berkata Kotor (2/8)
  3. 3.Mustadrak 31 Bukanlah Seorang Mu’min yang Suka Banyak Mencela, Mengutuk, Berbuat Keji, dan yang Suka Berkata Kotor (3/8)
  4. 4.Mustadrak 32 Bukanlah Seorang Mu’min yang Suka Banyak Mencela, Mengutuk, Berbuat Keji, dan yang Suka Berkata Kotor (4/8)
  5. 5.Mustadrak 33 Bukanlah Seorang Mu’min yang Suka Banyak Mencela, Mengutuk, Berbuat Keji, dan yang Suka Berkata Kotor (5/8)
  6. 6.Mustadrak 34 Bukanlah Seorang Mu’min yang Suka Banyak Mencela, Mengutuk, Berbuat Keji, dan yang Suka Berkata Kotor (6/8)
  7. 7.Mustadrak 35 Bukanlah Seorang Mu’min yang Suka Banyak Mencela, Mengutuk, Berbuat Keji, dan yang Suka Berkata Kotor (7/8)
  8. 8.Mustadrak 36 Bukanlah Seorang Mu’min yang Suka Banyak Mencela, Mengutuk, Berbuat Keji, dan yang Suka Berkata Kotor (8/8)

16 – لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لَا اللَّعَّانِ وَ لَا الْفَاحِشِ وَ لَا الْبَذِيِّ

1-16. Bukanlah Seorang Mu’min yang Suka Banyak Mencela, Mengutuk, Berbuat Keji, dan yang Suka Berkata Kotor.

29 – حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ أَيُّوْبَ الْفَقِيْهُ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ غَالِبٍ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ، ثَنَا إِسْرَائِيْلُ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيْمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ – قَالَ: “لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَ لَا اللَّعَّانِ، وَ لَا الْفَاحِشِ، وَ لَا الْبَذِيِّ”.

هذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، فَقَدِ احْتَجَّا بِهؤُلَاءِ الرُّوَاةِ عَنْ آخِرِهِمْ، ثُمَّ لَمْ يُخْرِجَاهُ، وَ أَكْثَرُ مَا يُمْكِنُ أَنْ يُقَالَ فِيْهِ أَنَّهُ لَا يُوْجَدُ عِنْدَ أَصْحَابِ الْأَعْمَشِ، وَ إِسْرَائِيْلُ بْنُ [ ص: 161 ] يُوْنُسَ السَّبِيْعِيُّ كَبِيْرُهُمْ وَ سَيِّدُهُمْ، وَ قَدْ شَارَكَ الْأَعْمَشَ فِيْ جَمَاعَةٍ مِنْ شُيُوْخِهِ، فَلَا يُنْكَرُ لَهُ التَّفَرُّدُ عَنْهُ بِهذَا الْحَدِيْثِ. وَ لِلْحَدِيْثِ شَاهِدٌ آخَرُ عَلَى شَرْطِهِمَا.

29/29. Abū Bakar Aḥmad bin Isḥāq bin Ayyūb al-Faqīh menceritakan kepada kami, Muḥammad bin Ghālib menceritakan kepada kami, Muḥammad bin Sābiq menceritakan kepada kami, Isrā’īl menceritakan kepada kami dari al-A‘masy, dari Ibrāhīm, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullāh, dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: “Bukanlah seorang mu’min yang banyak mencela manusia, yang banyak mengutuk, yang banyak berbuat keji, dan yang suka berkata kotor.” (891).

Hadits ini shaḥīḥ sesuai dengan dua orang syaikh yang sama-sama berhujjah dengan para periwayat tersebut dari yang paling akhir, kemudian keduanya tidak meriwayatkannya.

Kemungkinan yang paling diasumsikan tentang hal ini adalah karena tidak adanya tokoh-tokoh tua dan senior pada sahabat-sahabat al-A‘masy dan Isrā’īl bin Yūnus as-Sabī‘ī. Al-A‘masy sendiri bergabung dengan beberapa gurunya, sehingga periwayatannya yang menyendiri dalam hadits ini tidak perlu diingkari.

Hadits ini juga memiliki syāhid (penguat) lain yang sesuai syarat al-Bukhārī dan Muslim, yaitu:

Catatan:

  1. (89). Adz-Dzahabī tidak mengomentarinya dalam at-Talkhīsh.

    Al-Munawī berkata dalam al-Faidh: “At-Tirmidzī berkata: “Hadits ini ḥasan gharīb”. Tapi dia tidak menjelaskan alasan hadits tersebut tidak dinyatakan shaḥīḥ.”

    Ibn-ul-Qaththān berkata: “Tidak layak hadits ini dianggap shaḥīḥ, karena di dalamnya terdapat Muḥammad bin Sābiq al-Baghdādī, yang dinilai dha‘īf, sekalipun dia masyhur. Tapi mungkin ada sebagian mereka yang menganggapnya tsiqah.”

    Ad-Dāraquthnī berkata: “Hadits ini diriwayatkan secara marfū‘ dan mauqūf, tapi lebih tepat dikatakan mauqūf.

    H.R. at-Tirmidzī (Sunan-ut-Tirmidzī, 1977); al-Baihaqī (as-Sunan-ul-Kubrā, 10/193, 243); Ibnu Ḥibbān (Shaḥīḥu Ibni Ḥibbān, no. 48, pembahasan: Berbuat baik); al-Bukhārī (al-Adab-ul-Mufrad, no. 312, 332); dan Ibnu Abid-Dunya (no. 324, pembahasan: Diam).

    At-Tirmidzī berkata: “Hadits ini ḥasan gharīb.”

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *