Mustadrak 22 Sifat-sifat Orang Islam dan Mu’min

Al-MUSTADRAK
(Judul Asli: Al-Mustadraku ‘alash-Shahihain)
Oleh: Imam al-Hakim

Penerjemah: Ali Murtadho
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

13 – صِفَةُ الْمُسْلِمِ وَ الْمُؤْمِنِ

1-13. Sifat-sifat Orang Islam dan Mu’min.

22 – حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ وَ أَبُوْ بَكْرِ بْنُ سَلْمَانَ الْفَقِيْهَانِ قَالَا: ثَنَا عُبَيْدُ بْنُ شَرِيْكٍ، ثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، ثَنَا اللَّيْثُ، حَدَّثَنِيْ مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلَانَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيْمٍ، عَنْ أَبِيْ صَالِحٍ، عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ – قَالَ: “الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ، وَ الْمُؤْمِنُونَ مَنْ أَمَّنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَ أَمْوَالِهِمْ”.

قَدِ اتَّفَقَا عَلَى إِخْرَاجِ طَرَفِ حَدِيْثِ: “الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ”. [ص: 158 ] وَ لَمْ يُخَرِّجَا هذِهِ الزِّيَادَةَ وَ هِيَ صَحِيْحَةٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَ فِيْ هذَا الْحَدِيْثِ زِيَادَةٌ أُخْرَى عَلَى شَرْطِهِ مِمَّا لَمْ يُخْرِجَاهَا.

22/22. Abū Bakar bin Isḥāq dan Abū Bakar bin Salmān – dua orang ahli fikih – menceritakan kepada kami, keduanya berkata: ‘Ubaid bin Syarīk menceritakan kepada kami, Yaḥyā bin Bukair menceritakan kepada kami, al-Laits menceritakan kepada kami, Muḥammad bin ‘Ajlān menceritakan kepadaku dari al-Qa‘qā‘ bin Ḥakīm, dari Abū Shāliḥ, dari Abū Hurairah, bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Orang Islam adalah orang yang kaum muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya. Orang beriman adalah orang yang dapat memberi keamanan bagi manusia lainnya pada darah dan harta mereka.” (821).

Al-Bukhārī dan Muslim telah sepakat meriwayatkan bagian hadits: (الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ) “Orang Islam adalah orang yang kaum muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya,” dan keduanya tidak meriwayatkan tambahan ini.

Hadits ini shaḥīḥ sesuai syarat Muslim. Hadits ini juga mengandung tambahan lain sesuai syaratnya, dan al-Bukhārī serta Muslim tidak meriwayatkannya.

Catatan:

  1. (82). Adz-Dzahabī berkata dalam at-Talkhīsh: “Muslim tidak meriwayatkan bagian separuh yang kedua.”

    Lih. Musnadu Aḥmad (2/379); Sunan-ut-Tirmidzī (no. 2762); Shaḥīḥu Ibni Ḥibbān (no. 180); dan Musnad-usy-Syihāb (130, 166, 167, 179, 181, 182).

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *