Mustadrak 18 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (3/3)

Al-MUSTADRAK
(Judul Asli: Al-Mustadraku ‘alash-Shahihain)
Oleh: Imam al-Hakim

Penerjemah: Ali Murtadho
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Mustadrak Kitab 1 Bab 9 - Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun
  1. 1.Mustadrak 16 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (1/3)
  2. 2.Mustadrak 17 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (2/3)
  3. 3.Anda Sedang Membaca: Mustadrak 18 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (3/3)

18 – أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْقَطِيْعِيُّ، ثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِيْ أَبِيْ، ثَنَا عَبْدُ الرَّحْمنِ – وَ هُوَ ابْنُ مَهْدِيٍّ – ثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ صَالِحِ بْنِ أَبِيْ صَالِحٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ أُمَامَةَ، عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ – : “الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ، الْبَذَاذَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ”.

 (قَدِ احْتَجَّ) مُسْلِمٌ بِصَالِحِ بْنِ أَبِيْ صَالِحٍ السَّمَّانِ.

18/18. Aḥmad bin Ja‘far al-Qathī‘ī mengabarkan kepada kami, ‘Abdullāh bin Aḥmad bin Ḥanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, ‘Abd-ur-Raḥmān – yaitu Ibnu Mahdī – menceritakan kepada kami, Zuhair bin Muḥammad menceritakan kepada kami dari Shāliḥ bin Abī Shāliḥ, dari ‘Abdullāh bin Abī Umāmah, dari ayahnya, dia berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Berpenampilan sederhana termasuk bagian dari iman, berpenampilan sederhana merupakan bagian dari iman (yaitu tawadhu‘ dalam berpakaian).” (751).

Muslim berhujjah dengan Shāliḥ bin Abī Shāliḥ as-Sammān.

 

Catatan:

  1. (75). Adz-Dzahabī berkata dalam at-Talkhīsh: “Muslim berhujjah dengan Shāliḥ.”

    Al-Munadī berkata dalam al-Faidh: “Al-Ḥāfizh al-‘Irāqī berkata dalam al-Amalī: “Hadits ini ḥasan.”

    Ad-Dailamī berkata: “Hadits ini shaḥīḥ.”

    Abū Dāūd juga meriwayatkannya dalam at-Tarajjul. Ibnu Ḥajar berkata dalam al-Fatḥ setelah menisbatkannya: “Hadits ini shaḥīḥ.”

    H.R. Aḥmad (hlm. 7, pembahasan Zuhud); al-Baihaqī (Syu‘ab-ul-Īmān, hlm. 74); al-Qudhā’ī (Musnad-usy-Syihāb, no. 157); dan Ibnu Mājah (Sunanu Ibni Mājah, no. 4118).

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *