Mustadrak 17 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (2/3)

Al-MUSTADRAK
(Judul Asli: Al-Mustadraku ‘alash-Shahihain)
Oleh: Imam al-Hakim

Penerjemah: Ali Murtadho
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Mustadrak Kitab 1 Bab 9 - Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun
  1. 1.Mustadrak 16 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (1/3)
  2. 2.Anda Sedang Membaca: Mustadrak 17 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (2/3)
  3. 3.Mustadrak 18 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (3/3)

]ص: 155 ] 17 – حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوْبَ، ثَنَا أَبُوْ جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ دَاوُدَ الْمُنَادِيْ، ثَنَا يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ، أَنْبَأَنَا أَبُوْ غَسَّانَ مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ – : “الْحَيَاءُ وَ الْعِيُّ شُعْبَتَانِ مِنَ الْإِيْمَانِ، وَ الْبَذَاءُ وَ الْبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنَ النِّفَاقِ”.

هذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَ لَمْ يُخْرِجَاهُ، وَ قَدِ احْتَجَّا بِرُوَاتِهِ عَنْ آخِرهِمْ.

17/17. Abul-‘Abbās Muḥamamd bin Ya‘qūb menceritakan kepada kami, Abū Ja‘far Muḥammad bin ‘Ubaidillāh bin Abī Dāūd al-Munādī menceritakan kepada kami, Yazīd bin Hārūn menceritakan kepada kami, Abū Ghassān Muḥammad bin Mutharrif menceritakan kepada kami dari Ḥassān bin ‘Athiyyah, dari Abū Umāmah al-Bahilī, dia berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Malu dan enggan berbicara (yang menjadikan dosa) adalah dua cabang dari keimanan, sedangkan kata-kata kotor dan bicara berlehih-lebihan adalah termasuk nifaq.” (741).

Hadits ini shaḥīḥ sesuai syarat al-Bukhārī dan Muslim, dan keduanya tidak meriwayatkannya. Keduanya sama-sama berhujjah dengan para periwayatnya dari yang paling akhir.

 

Catatan:

  1. (74). Adz-Dzahabī berkata dalam at-Talkhīsh: “Hadits ini shaḥīḥ sesuai syarat al-Bukhārī dan Muslim.”

    Al-Munadī berkata dalam al-Faidh: “Al-Ḥāfizh al-‘Iraqī berkata dalam al-Amalī: “Hadits ini ḥasan.”

    H.R. at-Tirmidzī (Sunan-ut-Tirmidzī, no. 2077); Aḥmad (al-Musnad, 5/269); Ibn-ul-Mubārak (az-Zuhd, no 49); Ibnu Abī Syaibah (al-Mushannaf, no 11/44); dan Ibnu Abid-Dunyā (Makārim-ul-Akhlāq, no. 74).

    At-Tirmidzī berkata: “Hadits ini ḥasan.”

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *