Mustadrak 16 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (1/3)

Al-MUSTADRAK
(Judul Asli: Al-Mustadraku ‘alash-Shahihain)
Oleh: Imam al-Hakim

Penerjemah: Ali Murtadho
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Mustadrak Kitab 1 Bab 9 - Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Mustadrak 16 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (1/3)
  2. 2.Mustadrak 17 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (2/3)
  3. 3.Mustadrak 18 – Ampunan bagi Orang yang Meninggal Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun (3/3)

 – مَغْفِرَةُ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ باِللهِ شَيْئًا.

1-9. Ampunan bagi Orang yang Meninggal (dalam keadaan) Tidak Menyekutukan Allah dengan Apapun.

16 – حَدَّثَنَا أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوْبَ الْحَافِظُ إِمْلَاءً، ثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ عَبْدِ اللهِ السَّعْدِيُّ، ثَنَا قُرَيْشُ بْنُ أَنَسٍ، ثَنَا حَبِيْبُ بْنُ الشَّهِيْدِ،

وَ أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْقَطِيْعِيُّ، ثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِيْ أَبِيْ، ثَنَا ابْنُ أَبِيْ عَدِيٍّ عَنْ حَبِيْبِ بْنِ الشَّهِيْدِ، ثَنَا حُمَيْدُ بْنُ هِلَالٍ، ثَنَا هَصَّانُ بْنُ كَاهِلٍ. وَ فِيْ حَدِيْثِ ابْنِ أَبِيْ عَدِيٍّ: كَاهِنٌ. قَالَ: جَلَسْتُ مَجْلِسًا فِيْهِ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنُ سَمُرَةَ وَ لَا أَعْرِفُهُ فَقَالَ: حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ – : “مَا عَلَى الْأَرْضِ نَفْسٌ تَمُوْتُ لَا تُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا تَشْهَدُ أَنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ يَرْجِعُ ذلِكَ إِلَى الْقَلْبِ مُوْقِنًا إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهَا”. قَالَ: فَقُلْتُ: أَأَنْتَ سَمِعْتَ مِنْ مُعَاذٍ؟ فَعَنَّفَنِي الْقَوْمُ، فَقَالَ: دَعُوْهُ فَإِنَّهُ لَمْ يُسِئِ الْقَوْلَ، نَعَمْ، أَنَا سَمِعْتُهُ مِنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَ زَعَمَ مُعَاذٌ أَنَّهُ سَمِعَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ – .

هذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ وَ قَدْ تَدَاوَلَهُ الثِّقَاتُ، وَ لَمْ يُخْرِجَاهُ جَمِيْعًا بِهذَا اللَّفْظِ، وَ الَّذِيْ عِنْدِيْ – وَ اللهُ أَعْلَمُ – أَنَّهُمَا أَهْمَلَاهُ لِهِصَّانَ بْنِ كَاهِلٍ، وَ يُقَالُ ابْنُ كَاهِنٍ، فَإِنَّ الْمَعْرُوْفَ بِالرِّوَايَةِ عَنْهُ حُمَيْدُ بْنُ هِلَالٍ الْعَدَوِيُّ فَقَطْ، وَ قَدْ ذَكَرَ ابْنُ أَبِيْ حَاتِمٍ أَنَّهُ رَوَى عَنْهُ قُرَّةُ بْنُ خَالِدٍ أَيْضًا، وَ قَدْ أَخْرَجَا جَمِيْعًا عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الثِّقَاتِ لَا رَاوِيَ لَهُمْ إِلَّا وَاحِدٌ، فَيَلْزَمُهُمَا بِذلِكَ إِخْرَاجُ مِثْلِهِ – وَ اللهُ أَعْلَمُ – .

16/16. Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ya‘qūb al-Ḥāfizh menceritakan kepada dengan cara imlā’ (mendikte), Ibrāhīm bin ‘Abdillāh as-Sa‘dī menceritakan kepada kami, Quraisy bin Anas menceritakan kepada kami, Ḥabīb bin asy-Syahīd menceritakan kepada kami,

Aḥmad bin Ja‘far al-Qathī‘ī mengabarkan kepada kami, ‘Abdullāh bin Aḥmad bin Ḥanbal menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, Ibnu Abī ‘Adī menceritakan kepada kami dari Ḥabīb bin asy-Syahīd, Ḥumaid bin Hilāl menceritakan kepada kami, Hashshān bin Kāhil menceritakan kepada kami – dalam hadits Ibnu Abī ‘Adī: Kāhin – , dia berkata: Aku pernah duduk di suatu majelis yang di dalamnya terdapat ‘Abd-ur-Raḥmān bin Samurah. Ketika itu aku belum mengenalnya. Dia berkata: Mu‘ādz bin Jabal menceritakan kepada kami, dia berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Tidak satu pun jiwa yang mati di atas bumi tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu pun dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah dengan hati yang penuh keyakinan kecuali Allah akan mengampuninya.

Hashshān berkata: “Aku lalu bertanya: “Apakah engkau mendengarnya dari Mu‘ādz?” Orang-orang pun mencaci-makiku. ‘Abd-ur-Raḥmān bin Samurah lalu berkata: “Biarkan dia, karena dia tidak berkata-kata kasar. Ya, aku mendengarnya dari Mu‘ādz bin Jabal.”

Mu‘ādz sendiri beranggapan bahwa dia pernah mendengarnya dari Rasūlullāh s.a.w. (731).

Hadits ini shaḥīḥ dan para periwayat tsiqah telah meriwayatkannya. Al-Bukhārī dan Muslim tidak meriwayatkannya dengan redaksi ini.

Menurutku, keduanya mengenyampingkannya karena ada Hashshān bin Kāhil, yang disebut pula sebagai Ibnu Kāhin, karena yang dikenal meriwayatkan darinya hanyalah Ḥumaid bin Hilāl al-‘Adwī. Ibnu Abī Ḥātim telah menyebutkan bahwa yang meriwayatkan darinya juga Qurrah bin Khālid. Keduanya sama-sama meriwayatkannya dari segolongan periwayat tsiqah, yang tidak ada yang meriwayatkan untuk mereka kecuali satu orang, sehingga keduanya mengganggapnya layak meriwayatkan redaksi yang serupa.

Catatan:

  1. (73). Adz-Dzahabī berkata dalam at-Talkhīsh: “Hashshān dinilai tsiqah oleh Ibnu Ḥibbān.”

    H.R. Ibnu Ḥibbān (Shaḥīḥu Ibni Ḥibbān, no. 203, pembahasan: Berbuat baik dan Mawārid-uzh-Zham‘ān, no. 5); dan Aḥmad (al-Musnad, 5/229, 318, 322).

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *