Mustadrak 136 Membunuh Jiwa Mu‘ahadah Tanpa Alasan yang Benar, Allah Mengharamkan Surga Baginya (4/9)

Al-MUSTADRAK
(Judul Asli: Al-Mustadraku ‘alash-Shahihain)
Oleh: Imam al-Hakim

Penerjemah: Ali Murtadho
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Mustadrak Kitab 1 Bab 58 - Membunuh Jiwa Mu‘ahadah Tanpa Alasan yang Benar - Maka Allah Mengharamkan Surga Baginya
  1. 1.Mustadrak 133 Membunuh Jiwa Mu‘ahadah Tanpa Alasan yang Benar, Allah Mengharamkan Surga Baginya (1/9)
  2. 2.Mustadrak 134 Membunuh Jiwa Mu‘ahadah Tanpa Alasan yang Benar, Allah Mengharamkan Surga Baginya (2/9)
  3. 3.Mustadrak 135 Membunuh Jiwa Mu‘ahadah Tanpa Alasan yang Benar, Allah Mengharamkan Surga Baginya (3/9)
  4. 4.Anda Sedang Membaca: Mustadrak 136 Membunuh Jiwa Mu‘ahadah Tanpa Alasan yang Benar, Allah Mengharamkan Surga Baginya (4/9)
  5. 5.Mustadrak 137 Membunuh Jiwa Mu‘ahadah Tanpa Alasan yang Benar, Allah Mengharamkan Surga Baginya (5/9)
  6. 6.Mustadrak 138 Membunuh Jiwa Mu‘ahadah Tanpa Alasan yang Benar, Allah Mengharamkan Surga Baginya (6/9)
  7. 7.Mustadrak 139 Membunuh Jiwa Mu‘ahadah Tanpa Alasan yang Benar, Allah Mengharamkan Surga Baginya (7/9)
  8. 8.Mustadrak 140 Membunuh Jiwa Mu‘ahadah Tanpa Alasan yang Benar, Allah Mengharamkan Surga Baginya (8/9)
  9. 9.Mustadrak 141 Membunuh Jiwa Mu‘ahadah Tanpa Alasan yang Benar, Allah Mengharamkan Surga Baginya (9/9)

[ ص: 211 ] 136 – حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْحُسَيْنِ الْقَاضِيْ، بِمَرْوَ، وَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ مَخْلَدٍ الْجَوْهَرِيُّ، بِبَغْدَادَ قَالَ: ثَنَا الْحَارِثُ بْنُ أَبِيْ أُسَامَةَ، ثَنَا سَعِيْدُ بْنُ عَامِرٍ الضُّبَعِيُّ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ جَدِّهِ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ قَالَ: كَانَ رَجُلٌ بَطَّالٌ يَدْخُلُ عَلَى الْأُمَرَاءِ فَيُضْحِكُهُمْ، فَقَالَ لَهُ جَدِّيْ: وَيْحَكَ يَا فُلَانُ، لِمَ تَدْخُلُ عَلَى هؤُلَاءِ وَ تُضْحِكُهُمْ، فَإِنِّيْ سَمِعْتُ بِلَالَ بْنَ الْحَارِثِ الْمُزَنِيَّ – صَاحِبَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ – يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ – قَالَ: “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ، مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَرْضَى اللهُ بِهَا عَنْهُ إلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ، مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَسْخَطُ اللهُ بِهَا إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ “.

هذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ وَ قَدِ احْتَجَّ مُسْلِمٌ بِمُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، وَ قَدْ أَقَامَ إِسْنَادَهُ عَنْهُ سَعِيْدُ بْنُ عَامِرٍ كَمَا أَوْرَدْتُهُ عَالِيًا، هكَذَا رَوَاهُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَ إِسْمَاعِيْلُ بْنُ جَعْفَرٍ، وَ عَبْدُ الْعَزِيْزِ الدَّرَاوَرْدِيُّ، وَ مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ الْعَبْدِيُّ وَ غَيْرُهُمْ.

أَمَّا حَدِيْثُ الثَّوْرِيِّ:

136/136. Abul-‘Abbās ‘Abdullāh bin Ḥusain al-Qādhī menceritakan kepada kami di Marwa, dan Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin ‘Alī bin Makhlad al-Jauharī (menceritakan kepada kami) di Baghdād, dia berkata: Ḥārits bin Abī Usāmah menceritakan kepada kami, Sa‘īd bin ‘Āmir adh-Dhuba‘ī menceritakan kepada kami, Muḥammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari kakeknya ‘Alqamah bin Waqqāsh, dia berkata: Pernah ada seorang laki-laki pemberani yang menemui para amir lalu membuat mereka tertawa. Kakekku lalu berkata: “Celaka kamu wahai fulan, mengapa kamu menemui mereka dan membuat mereka tertawa? Sungguh, aku pernah mendengar Bilāl bin Ḥārits al-Muzanī, seorang sahabat Rasūlullāh s.a.w., menceritakan bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan perkataan yang mendatangkan keridhaan Allah, dia tidak menyangka bahwa kata-kata tersebut akan sampai (kepada ridha Allah), sehingga Allah meridhainya akibat kata-kata tersebut hingga Hari Kiamat. Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan perkataan yang menyebabkan kemurkaan Allah, dia tidak menyangka bahwa kata-kata tersebut sampai (menyebabkan kemurkaan Allah) sehingga Allah murka kepadanya hingga Hari Pembalasan.” (1971).

Hadits ini shaḥīḥ. Muslim berhujjah dengan Muḥammad bin ‘Amr. Sanad-nya berasal darinya dan telah diluruskan (di- shaḥīḥ-kan) oleh Sa‘īd bin ‘Amr, sebagaimana telah aku sebutkan dengan sanadāliyan [….?????]. Begitu pula yang diriwayatkan oleh Sufyān ats-Tsaurī, Ismā‘īl bin Ja‘far, ‘Abd-ul-‘Azīz ad-Darāwardī, Muḥammad bin Bisyr al-‘Abdī, dan lainnya.

Adapun hadits ats-Tsaurī adalah:

Catatan:

  1. (197). Adz-Dzahabī berkata dalam at-Talkhīsh: “Hadits ini shaḥīḥ, dan diriwayatkan oleh jamaah dari Muḥammad.
    Dalam al-Faidh, al-Munawī menisbatkannya kepada Mālik, Aḥmad, at-Tirmidzī, Ibnu Mājah, an-Nasā’ī, Ibnu Ḥibbān, dan al-Ḥakīm.
    As-Suyuthī menilainya shaḥīḥ dalam al-Jami‘-ush-Shaghīr, tapi al-Munawī tidak memberikan komentar.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *