Empat Kategori Utama Cinta – Kitab Cinta

KITAB CINTA: Risalah Utama Para Pecinta Sejati
Oleh: Syaikh ‘Abd-ul-Qādir ash-Shūfī

 
Penerjemah: Maufur, M.A.
Penerbit: Alifia Books

HIKMAH III

Empat Kategori Utama Cinta

 

Sekarang ini kita sedang memasuki tahapan lain dalam pembahasan kita tentang cinta Ilahi. Kita akan membahasnya lebih dalam dengan melihat pada empat kategori cinta. Dari keempat kategori ini, ahwal – keadaan-keadaan spiritual dari masing-masing kategori tidaklah dijumpai dalam kategori-kategori yang lain. Masing-masing kategori memiliki sumber khususnya sendiri dalam diri sang faqīr.

Kategori pertama memiliki dua aspek. Kategori pertama ini disebut al-hawa, hasrat seketika akan cinta, atau jatuh cinta. Ma‘na pertama dari al-hawa adalah sesuatu yang datang ke dalam hati dari sang ghaib, dari yang tersembunyi, dan melebur menjadi syahādah, menuju penampakan lahir. Untuk ini, kita akan merujuk pada al-Qur’ān dan kita akan melihat pada Surat an-Najm (53: 1).

وَ النَّجْمِ إِذَا هَوَى

Demi bintang ketika terbenam.”

Kita mendapati bahwa “terbenam” adalah makna untuk kata hawa itu sendiri. Kata kerja lampaunya adalah ha-wi-ya, kata kerja saat ini-nya adalah ya-h-wa, kata bendanya adalah ha-wa yang bermakna “jatuh cinta”. Dari akar kata yang sama, muncullah kata benda huwiy yang berarti “jatuh”. Maksud kami, cinta ini adalah sesuatu yang jatuh ke dalam hati.

Jatuh hati ini disebabkan oleh satu atau lebih dari tiga kejadian. Kejadian pertama adalah nazhar, yang berarti tatapan. Karenanya, hal pertama yang akan membuat sesuatu jatuh ke dalam hati dan menyebabkan kerusakan ini adalah tatapan itu. Tatapan adalah sesuatu yang akan membawa sang faqīr pada kerinduan dan cinta Allah s.w.t. Nazhar melibatkan aspek-aspek transmisi paling samar dan halus dalam tashawwuf antara sang syaikh dan sang murīd yang sungguh-sungguh, antara sang pencari dan sang wilayat. Transmisi ini terjadi karena perjumpaan dengan sang wali Allāh – dan dia mungkin tidak sadar bahwa dirinya adalah seorang wali Allāh, tapi dengan tatapannya si murīd akan terpengaruh.

Kejadian kedua adalah sama‘ yang anda tahu bermakna “pendengaran”. Sang faqīr mendengar kabar tentang sang Kekasih dalam dīwān sang Syaikh. Dia mendengar kabar-kabar sang Kekasih dalam tulisan-tulisan agung dan mendalam dari para ahli tashawwuf, atau dengan mendengarkan senandung al-Qur’ān hingga menggerakkan hatinya dan terjadilah dentingan begitu cinta muncul dan menyusup ke dalam hatinya.

Kejadian ketiga yang menyebabkan jatuh hati adalah iḥsān. Itu terjadi ketika sang pencari menjumpai tindakan mulia, menjumpai seseorang yang bertindak dengan kemuliaan, dengan keagungan yang menyentuh dan membangunkan hati. Ingat, pengertian iḥsān didasarkan pada hadis terkenal yang mengawali kitab hadits Imām Muslim, ketika Rasūlullāh s.a.w. ditanya oleh Malaikat Jibrīl: “Apakah Islām itu?” “Apakah īmān itu?” “Apakah iḥsān itu?” Jawaban untuk iḥsān adalah: “Menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan sekalipun tidak melihat-Nya kamu tahu Dia melihatmu.” Inilah pengetahuan akan esensi sifat iḥsān. Jadi, jatuh hati bisa terjadi karena perjumpaan dengan seseorang yang mengamalkan iḥsān ini. Penyebabnya bisa berupa sebuah tindakan lahir yang mulia, tapi biasanya iḥsān inilah yang membangkitkan cinta, pertemuan dengan seseorang yang mengamalkan kesadaran ini bahwa mereka sedang diawasi oleh Allah s.w.t.

Sekarang ini, pembahasannya semakin mendalam dan karenanya kita mesti berkonsentrasi. Aspek kedua dari al-hawa, bahwa hasrat itu haruslah sejalan dengan syarī‘at suci. Untuk ini, kita akan menuju pada Surat Shād (38) pada paruh pertama ayat 26:

يَا دَاودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيْفَةً فِي الأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَ لاَ تَتَّبِعِ الْهَوى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ

Hai Dāūd, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalīfah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan benar dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.

Hai Dāūd! Sesungguhnya kami telah menjadikan kamu seorang Khalīfah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan benar” – dengan benar maksudnya adalah bil-ḥaqq – “dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu,” –di sini kita mendapati kata hawa. “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.

Sekarang berkonsentrasilah, karena ini sangat penting sekali. Kita bisa mengatakan, dengan isyarah, bahwa ayat ini sedang menyampaikan: “Jangan ikuti arahan cintamu, tapi jadilah kekasih-Ku karena inilah yang aku perintahkan padamu.” Mengertikah anda? Tahukah anda apa artinya ini? Jika dorongan cinta berasal dari kesadaran anda maka cinta itu bisa tersesat. Lihatlah ayat itu sekali lagi:

يَا دَاودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيْفَةً فِي الأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَ لاَ تَتَّبِعِ الْهَوى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ

Hai Dāūd, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalīfah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan benar dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.

Jadi, kita mempertentangkan bil-ḥaqq dengan “Jangan sampai tersesat dari Sabīl Allāh.”

Sekarang kita akan beralih pada kategori kedua dari empat kategori utama, yakni al-ḥubb. Anda bisa mengartikan al-ḥubb sebagai cinta suci. Ketika badai cinta menerpa, semua ikatannya menjadi suci, dan endapannya – berupa segala hal yang terikat pada mā siwallāh, sesuatu yang selain Allah – turun ke dasar gelas, dan kemudian dzāt itu menjadi bersih. Ungkapan terkenal Imām al-Junaid, ketika berbicara tentang ma‘rifah, adalah: “Bersihnya Anggur ma‘rifah adalah bersihnya gelas.” Jelaslah bahwa itulah ma‘rifah. Untuk ini, kita akan merujuk pada dīwān Syaikh Muḥammad bin al-Ḥabīb, raḥimahullāh, dan qashīdah-nya “Penampakan sang Dzāt”. Kita akan melihat pada bait-bait pembukanya:

أَشَمْسٌ بَدَا مِنْ عَالَمِ الْغَيْبِ ضَوْؤُهَا
أَمِ انْكَشَفَتْ عَنْ ذَاتِ لَيْلَى سُتُوْرُهَا
نَعَمْ تِلْكَ لَيْلَى قَدْ أَبَاحَتْ بِحُبِّهَا
لِخِلٍّ لَهَا لَمَا تَزَايَدَ شَوْقُهَا
فَأَضْحَى أَسِيْرًا فِيْ مُرَادِ غَرَامِهَا
وَ نَادَتْ لَهُ الأَشْوَاقُ هذِيْ كُؤُوْسُهَا
فَمَا بَرِحَتْ حَتَّى سَقَتْهُ بِكَأْسِهَا
فَلاَ لَوْمَ فَاشْرَبْ فَالشَّرَابُ حَدِيْثُهَا
وَ مَا هِيَ إِلاَّ حَضْرَةُ الْحَقِّ وَحْدَهَا
تَجَلَّتْ بِأَشْكَالٍ تَلَوَّنَ نُوْرُهَا

Sudahkah matahari bersinar dari alam Ghaib, atau
Sudahkah tabir-tabir Layla tersingkap dari Dzāt-Nya?
Ya, kerinduan Laylā akan Kekasih-Nya telah tumbuh,
Membuat ia mengungkapkan cintanya.
Karena itu dia telah menjadi tahanan hasrat-Nya yang
Membawa dan kerinduan-kerinduan yang dikumandangkan oleh piala-pialaNya.
Dia tidak pergi hingga Dia memberinya minum dari
Piala-pialaNya, Jangan takut! Munimlah – karena anggur adalah perkataan-Nya.
Dan Dia tidak lain adalah Kehadiran sang Kebenaran,
Sendirian, yang menampakkan Diri-Nya dalam bentuk-bentuk dengan setiap cahayanya yang berwarna-warni.

Sekarang, mari kita melihat juga pada Syaikh al-Faytūrī, raḥimahullāh, dan syair (qashīdah) kelima dalam dīwān-nya.

Beliau mengatakan:

اُتْرُكْ يَا مُرِيْدْ نَفْسَكْ مَا تُرِيْدْ
إِنْ رُمْتَ الْمَزِيْدْ مِنْ أَسْرَارِ اللهْ
أُدْخُلِ الطَّرِيْقْ وَ الْزَمِ الرَّفِيْقْ
يُسْقِيْكَ الْعَثِيْقْ مِنْ خَمْرَةِ اللهْ
يُعْطِيْكَ الْحَبِيْبْ سِرَّهُ الْعَجِيْبْ
هِمْ بِهِ وَ غِبْ فِيْ أَنْوَارِ اللهْ
ذَابَتِ الأَشْبَاحْ لَمَّا حِبِّيْ بَاحْ
بِاسْمِهِ الْفَتَّاحْ لِمُرِيْدِ اللهْ
دَارَتِ الأَقْدَاحْ بَيْنَنَا يَا صَاحْ
فَاحَ السِّرُّ فَاحْ مِنْ مِشْكَاةِ اللهْ
أَدْنَ لِدَنِ الرَّاحْ شَرَبْهُ مُبَاحْ
بِهْ حَقًّا تَرْتَاحْ تَرَى وَجْهَ اللهْ

Wahai Murīd! Tinggalkan keinginan nafsumu jika kamu
Berharap tambahan rahasia-rahasia Allah!
Masukilah jalan itu dan berpeganglah pada sang kawan,
Dia akan memberimu anggur terbaik Allah untuk engkau minum.
Sang Kekasih akan memberimu rahasia agung-Nya,
Hauslah akan cinta pada-Nya, dan menghilanglah dalam cahaya-cahaya Allah.
Bentuk-bentuk itu melebur ketika Kekasihku membeberkan
Nama pintu bagi dia yang menginginkan Allah.
Gelas-gelas itu berputar di sekililing kita, wahai kawan,
Rahasia itu menebar wewangian semerbak dari relung Allah.
Mendekatlah pada kendi anggur kesenangan itu,
Meminumnya tidaklah dilarang! Sungguh, engkau akan senang dengannya – engkau akan menyaksikan Wajah Allah!

Sekarang anda mulai memahami bahwa dalam kedua dīwān itu para syaikh menggunakan bahasa yang sudah lazim di kalangan mereka. Syaikh Muḥammad bin al-Ḥabīb maupun Syaikh al-Faytūrī, raḥimahumullāh, menggunakan istilah-istilah ini. Tapi orang harus tahu bahwa istilah-istilah itu memiliki pergeseran makna dan tidak tetap. Dalam syair pertama, Syaikh Muḥammad bin al-Ḥabīb merujuk pada kisah terkenal Laylā-Majnūn yang merupakan kisah paling umum, terpopuler, dan paling banyak diceritakan – bukan sebagai metafora, melainkan penggambaran kisah cinta antara Laylā dan Majnūn.

Laylā juga berarti “malam” dan Majnūn berarti “gila”, sehingga kisah ini mengindikasikan seseorang yang benar-benar mabuk oleh cinta, gila dengan cinta. Laylā – “kata ganti perempuan” dalam penggunaan gramatikal karena kata itu merujuk pada Dzāt Allah s.w.t. Jadi, ketika para syeikh itu merujuk pada Laylā, mereka sedang merujuk pada Dzāt Allah, dan pengaruh sang Dzāt yang menyingkap dirinya sendiri – Laylā yang menyingkap dirinya sendiri – adalah apa yang telah membuat Majnūn mabuk dan hancur. Inilah yang dalam bahasa tashawwuf disebut fanā’ fillāh.

Pada saat bersamaan ada tawaran untuk minum, dan anda akan melihat perumpamaan cangkir, atau piala, serta anggur dan percampuran keduanya. Puisi-puisi itu mulai menorehkan potret-potret ini ke dalam pikiran anda untuk membawa anda lebih jauh pada kekaguman dalam kondisi spiritual anda sendiri.

Karena itu, semua yang kita lihat dalam kedua diwan itu adalah soal penyucian cinta, cinta yang menjadi ḥubb – kehilangan semua keterkaitannya dengan ghair (selain Allah). Kita menjumpai dalam al-Qur’ān sebuah petunjuk jelas tentang perbedaan antara orang yang mencicipi anggur ini dan mereka yang tidak. Kita melihat dalam Surat al-Baqarah, dan bagian pertama ayat 165:

وَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا للهِ

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangatlah besar cintanya kepada Allah.

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” Dengan kata lain, mereka mencintai apa yang ada di dunia ini, mereka mencintai yang ghair. “Adapun orang-orang yang beriman sangatlah besar cintanya kepada Allah.” Mereka inilah orang-orang yang mencicipi minuman anggur itu.

وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا للهِ

Ayat ini sungguh penting. Kita melihat suatu pembedaan antara orang-orang yang menyembah tandingan Allah, mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, dan mereka yang memiliki iman dan karenanya memiliki cinta yang sangat pada Allah. Sekarang, tinggalkan sejenak ayat itu sementara kita menuju pada Surat Āli ‘Imrān (3: 10):

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوْا لَن تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَ لاَ أَوْلاَدُهُم مِّنَ اللهِ شَيْئًا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka.

Ayat ini mengandung pernyataan yang sungguh mengagumkan. Orang-orang kafir adalah mereka yang tidak menyembah dan menaati Allah. Sebaliknya, mereka mencintai harta benda dan anak-anak mereka. Padahal Allah s.w.t. berfirman bahwa yang demikian itu sungguh tidak ada manfaatnya. Sekarang, kita kembali lagi pada Surat al-Baqarah (2: 165):

وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا للهِ

Adapun orang-orang yang beriman sangatlah besar cintanya kepada Allah.

Cinta mereka terhadap Allah mendominasi jenis cinta lain yang mereka punya di dunia ini. Keseimbangan ini harus dicapai agar anda bisa menggapai nilai dan makna hidup. Anda HARUS mengubah keseimbangan itu. Anda harus memantapkan dalam diri anda bahwa cinta pada Allah mendominasi segala aspek dunia.

Kategori ketiga adalah al-‘isyq yang berarti cinta buta. In syā’ Allāh, kita akan membahasnya secara lebih detail lagi, bahkan kita akan merincinya secara sangat ilmiah agar anda bisa memahaminya. Al-‘isyq adalah hasrat. Kita harus seperti seorang dokter yang melakukan dan memahami pemeriksaan medis tanpa menjumpai kesulitan apa pun. Kita harus melihat dan memahaminya dengan sungguh-sungguh. Kita akan kembali membiacarakan hal ini dalam pembahasan kita selanjutnya.

Aspek keempat cinta, aspek terakhir dari pendefinisian yang terdiri dari empat bagian, yaitu al-wadd, yang berarti kesetiaan cinta. Ia tak berubah, itulah yang dinamakan ketetapan cinta. Cinta tidak pernah goyah atau terguncang. Inilah yang kita sebut dengan “keteguhan” – thabat al-ḥubb. Hal ini sangat penting karena di sinilah, dalam al-Qur’ān, terletak pentingnya al-wadd, dari ketetapan cinta ini. Al-wadd dijelaskan dalam ayat-ayat yang memisahkan para Pecinta dari para hamba Allah yang lain. Cermatilah Surat Maryam (19: 93-96):

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ الأَرْضِ إِلاَّ آتِي الرَّحْمنِ عَبْدًا، لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَ عَدَّهُمْ عَدًّا، وَ كُلُّهُمْ آتِيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا، إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمنُ وُدًّا

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang (wuddan).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan ber‘amal shāliḥ, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang (wuddan).” Jadi, anda melihat bahwa di hari akhir nanti, Allah memberikan kategori berbeda kepada para Pecinta-Nya. Inilah keadaan-keadaan yang sudah ditetapkan dan dikehendaki bagi sang fuqarā’.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.