Dua Sifat yang Paling Dicintai Allah, Sifat al-Hilm dan al-Anāh – Al-Hilm – Ibnu Abid-Dunya

MENJINAKKAN MARAH DAN BENCI
NASIHAT-NASIHAT TENTANG KESABARAN DAN MURAH HATI

 
Diterjemahkan dari al-Hilm
Karya Ibnu Abid-Dunya
 
Penerjemah: Nani Ratnasari
Penyunting: Toto Edidarmo
 
Penerbit: AL-BAYAN MIZAN

خصلتان يحبهما الله الحلم والأناة

Dua Sifat yang Paling Dicintai Allah, Sifat al-Ḥilm (Kehaliman) dan Sifat al-Anāh (Lemah-lembut, Penuh Pertimbangan).

21 – حدثنا إبراهيم بن سعيد الجوهري، نا عبد الله بن عبد الوهاب، نا بشر بن المفضل، نا قرة، عن أبي جمرة، عن ابن عباس، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لأشج عبد القيس: «إن فيك خصلتين (1) يحبهما الله الحلم، والأناة (2)»
__________
(1) الخصلة: خلق في الإنسان يكون فضيلة أو رزيلة
(2) الأناة: التمهل والتثبت والانتظار والتأخر

Ibrāhīm ibn Sa‘id al-Jauharī menceritakan dari ‘Abdullāh ibn ‘Abd-il-Wahhāb, dari Basyīr ibn al-Mufadhdhal Naqirah, dari Abū Ḥamzah, dari Ibn ‘Abbās bahwa Nabi s.a.w. bersabda kepada Asyuj ‘Abd-ul-Qais: “Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah, yaitu murah hati (ḥilm) dan lemah lembut (anāh).” (11)

 

22 – حدثني إبراهيم بن سعيد، نا عبد العزيز القرشي، عن سفيان، قال معاوية، لعمرو بن الأهتم: أي الرجال أشجع؟ قال: من رد جهله بحلمه، قال: أي الرجال أسمى؟ قال: من بذل دنياه في صلاح دينه

Ibrāhīm ibn Sa‘īd menceritakan dari ‘Abd-ul-‘Azīz al-Qurasyī, dari Sufyān, dari Mu‘āwiyah bertanya kepada ‘Amr ibn al-Ahtam: “Siapakah orang yang layak disebut paling berani?” Dia menjawab: “Orang yang membalas kejahilan dengan murah hati dan kesabaran (ḥilm).” “Siapakah laki-laki yang paling tinggi kedudukannya?” Dia menjawab: “Orang yang mengusahakan dunianya untuk kemaslahatan agamanya.” (22)

Catatan:

  1. (1). Hadits ini diriwayatkan oleh Imām Muslim dalam Kitāb Īmān, Bab Perintah Īmān kepada Allah dan Rasūl-Nya. Diriwayatkan bahwa Mundzir al-Asyuj bertanya: “Ya Rasūlullāh, apakah aku yang membentuk kedua sifat ini ataukah Allah?” Rasūlullāh menjawab: “Allah-lah yang membentukmu dengan kedua sifat tersebut.” Mundzir al-Asyuj berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah membentuk bagiku kedua sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasūl-Nya.”

    Begitu juga oleh Abū Dāūd, no. 5225; Aḥmad, juz 4, h. 205, 206; ath-Thabrānī, al-Kabīr, juz 5, h. 317; al-Baghawī, Syarḥ-us-Sunnah, juz 13, h. 172; al-Baihaqī, Sunan-ul-Baihaqī, juz 5, h. 104; Ibn Ḥibbān, h. 1391; dalam at-Targhīb wat-Tarhīb, juz 3, h. 418; Kanz-ul-‘Ummāl, no. 5836-7; dan Misykāt-ul-Mashābiḥ, no. 5054. Al-Bukhārī dalam Adab-ul-Mufrad, h. 585, Fatḥ-ul-Bārī, juz 10, h. 459. Dan, al-Haitsamī dalam Majma‘-uz-Zawā’id, juz 5, h. 64.

    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan murah hati (ḥilm) dan ketenangan dalam menghadapi setiap persoalan. Ketika seorang hamba berpegang kepada dua sifat: murah hati dan lemah lembut, ia akan mendapatkan cinta Allah s.w.t.

  2. (2). Dalam atsar ini dijelaskan bahwa kedudukan tinggi seseorang tidak dilihat dari jabatannya dan rumah yang mewah, tetapi dilihat dari upaya yang sungguh-sungguh untuk kemaslahatan agamanya. Dengan demikian, alangkah merugi orang yang menjual agama semata-mata karena harta benda yang cepat lenyap dan orang yang melepaskan agama karena syahwat yang fanā’; begitu juga orang yang meninggalkan agamanya karena jamuan malam yang sifatnya sementara. Pernyataan ini sesuai dengan pernyataan Imām Mālik ketika ditanya: “Wahai Imām, siapakah orang yang hina?” Ia menjawab: “Orang yang menjual agama dengan dunianya.” Oleh karena itu, para ‘ulamā’ dan dai mengharapkan mereka yang telah menjual agama segera bangun dari tidur mereka (sadar) dan kembali kepada agama yang benar.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.