Dua Jenis Manusia – Al-Hilm – Ibnu Abid-Dunya

MENJINAKKAN MARAH DAN BENCI
NASIHAT-NASIHAT TENTANG KESABARAN DAN MURAH HATI

 
Diterjemahkan dari al-Hilm
Karya Ibnu Abid-Dunya
 
Penerjemah: Nani Ratnasari
Penyunting: Toto Edidarmo
 
Penerbit: AL-BAYAN MIZAN

الناس رجلان . . . . عاقل وجاهل

Ada Dua Jenis Manusia: Orang Berakal dan Orang Bodoh

38 – حدثنا إسحاق بن إسماعيل، نا جرير، عن ليث، عن سالم بن عطية، قال: قال الربيع بن خيثم: «الناس رجلان عاقل وجاهل، فأما العاقل فلا تؤذه، وأما الجاهل فلا تجاره»

Isḥāq ibn Ismā‘īl meriwayatkan dari Jarīr, dari Laits, dari Sālim ibn ‘Athiyyah, dari Rabī‘ ibn Khaitsam yang berkata: “Ada dua jenis manusia: yang cerdas (berakal) dan yang bodoh. Orang yang cerdas (berakal), jangan kau sakiti; dan orang yang bodoh, jangan kau temani.

 

39 – حدثني هارون بن أبي يحيى، عن جعفر بن سعيد القرشي، قال: قال معاوية، لعرابة بن أوس بم سدت قومك؟ قال: كنت أحلم عن جاهلهم وأعطي سائلهم وأسعى في حوائجهم (1)
__________
(1) الحوائج: المطالب

Dari Hārūn ibn Abī Yaḥyā, dari Ja‘far ibn Sa‘īd al-Qurasyī, Mu‘āwiyah bertanya kepada ‘Arābah ibn Aus: “Bagaimana kau memperlakukan kaummu?” ‘Arābah ibn Aus menjawab: “Aku bersikap lemah lembut (hilm) kepada orang jahil di antara mereka, memberi orang yang meminta di antara mereka, (11) dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka.” (22)

 

40 – حدثني هارون بن أبي يحيى، عن شيخ، من طيئ قال: «قال معاوية: يا معشر طيئ من سيدكم؟ قالوا: خريم بن أوس: من احتمل شتمنا وأعطى سائلنا وحلم عن جاهلنا واغتفر فضل ضربنا إياه بعصينا»

Dari Hārūn ibn Abī Yaḥyā, seorang syaikh dari Thayyi’ bercerita, Mu‘āwiyyah bertanya: “Wahai orang Thayyi’, siapa pemimpin kalian?” Mereka menjawab: “Kharīm ibn Aus (33), orang yang suka memaafkan cacian kami, memberi kepada orang yang meminta di antara kami, bersikap lembut (ḥilm) kepada orang jahil di antara kami, dan, yang lebih utama lagi, dia selalu memaafkan pembangkangan kami kepadanya.”

Catatan:

  1. (1). Memberi orang yang meminta-minta adalah perbuatan yang dianjurkan dalam Islam. Nabi s.a.w. telah mencontohkan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Jābir. Nabi s.a.w. tidak pernah berkata “tidak” jika diminta sesuatu dan tangan beliau tidak pernah menyakiti orang sedikit pun. Abū Sulaimān adh-Dhabbī berkata: “Rumah Ibrāhīm a.s. mempunyai delapan pintu. Dari pintu mana saja orang meminta, beliau selalu memberinya.”
  2. (2). Abū Ḥātim al-Bastī berkata: “Setiap Muslim wajib menasihati Muslim lainnya dan berusaha untuk menghilangkan kesusahan dan kesedihan mereka. Sebab, siapa saja yang menghilangkan kesusahan saudaranya, temannya, atau tetangganya yang Muslim, Allah akan membebaskan kesusahannya di akhirat. Siapa saja yang dapat memenuhi kebutuhannya, Allah akan memenuhi kebutuhannya di akhirat. Sebaik-baik hamba Muslim adalah orang yang mengetahui kefakiran saudaranya atau orang lain. Dan, sejelek-jelek hamba adalah orang yang menelantarkan saudaranya dalam kesusahan dan banyak memiliki kebutuhan, sebagaimana sejelek-jeleknya negeri adalah negeri yang tidak subur dan tidak aman.”

    Al-Karizī berkata:

    Sebaik-baik hari bagi pemuda adalah hari yang bermanfaat
    Dengan membiasakan diri untuk bekerja dan berusaha
    Kebaikan tidak akan diperoleh dengan kejahatan
    Seseorang tidak akan pernah menuai panen, kecuali
    Ia menanam terlebih dahulu
    Masa tidak hanya sehari
    Seseorang kadang di atas dan kadang di bawah

    Ḥasan berkata: “Saudaraku, orang yang menunaikan kebutuhan orang lain lebih aku sukai daripada orang yang beri‘tikāf selama dua bulan. Ketahuilah, memenuhi kebutuhan orang lain termasuk sifat yang mulia.”

  3. (3). Kharīm ibn Aus termasuk sahabat yang mulia. Biografinya dapat dilihat dalam Kitab Ḥilyat-ul-Auliyā’, juz 1, h. 363.

    Cepat marah merupakan suatu kebiasaan bodoh dan menjauhinya termasuk keutamaan orang berakal. Kemarahan dapat mengakibatkan penyesalan. Oleh karena itu, kemarahan harus segera diperbaiki dengan membiasakan diri dalam bersabar dan murah hati.

    Imām al-Bukhārī meriwayatkan dari Abū Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi s.a.w. dan berkata: “Ya Rasūlullāh, ajari aku sesuatu.” Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Engkau tidak boleh marah.”

    Imām al-Bukhārī dan Muslim meriwayatkan dari Abū Hurairah, Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah.

    Ḥasan berkata: “Wahai anak Ādam, setiap kali marah berarti engkau telah melompat dan setiap kali melompat hampir saja engkau masuk ke dalam neraka.

    Ja‘far ibn Muḥammad berkata: “Kemarahan adalah kunci setiap kejahatan.

    Imām al-Ghazālī berkata: “Amarah adalah nyala api dalam setiap hati. Api dapat mengalahkan hati. Hati yang kalah dapat jatuh dalam kesombongan yang terkubur dalam hati orang yang durhaka, seperti bara api yang keluar dari besi. Sudah jelas bagi orang yang mampu melihat dengan cahaya keyakinan bahwa manusia bisa mencabut akar setan yang terlaknat. Siapa saja yang dalam dirinya berkobar api kemarahan, ia telah menjadi teman bagi setan. Setan mengatakan: “Engkau menciptakan aku api dan Engkau menciptakan manusia dari tanah.” Sesungguhnya, keadaan tanah adalah diam dan menetap. Sedangkan, keadaan api berkobar dan menyala. Buah dari kemarahan adalah iri dan dengki. Binasalah orang yang memiliki dua sifat ini karena seluruh amalnya akan rusak.”

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.