Al-Wahhab, ar-Razzaq, al-Fattah, al-‘Alim, al-Qabidh, al-Basith – Asma’-ul-Husna – Ibnu ‘Ajibah

Buku Saku
ASMĀ’-UL-ḤUSNĀ

 
Mengerti Ma‘na dan Penerapan
Nama-nama Indah Allah
Dalam Kehidupan Sehari-hari.
 
 
Diterjemahkan dari Tafsīr-ul-Fātiḥat-il-Kabīr
Karya: Ibnu ‘Ajībah al-Ḥusainī
 
Penerjemah: Zainal ‘Arifin
Penerbit: Zaman
 
(Diketik oleh: Ibu Zulma)

الْوَهَّابُ
Al-Wahhāb
(Maha Pelimpah Nikmat)

 

“Al-Wahhāb” artinya banyak memberi anugerah secara terus-menerus tanpa mengharap ganti, tanpa alasan, tanpa menuntut hak, dan tanpa meminta imbalan.

Tidak bisa dimungkiri, Allah menganugerahkan ni‘mat berlimpah, kelembutan dan pengabulan, serta pemberian terus-menerus. Allah memberi sebelum diminta dan mengaruniakan keutamaan yang tak terhitung jumlahnya.

Orang yang mengetahui bahwa Allah adalah al-Wahhāb, ia pasti akan mensyukuri ni‘mat-Nya, memohon kemurahan rahmat-Nya, dan tidak terlalu berlebihan meminta kepada-Nya.

= Ta’alluq =

Memohon kemurahan pemberian-Nya, meminta anugerah-Nya, selalu mensyukuri ni‘mat-Nya, dan membaguskan ‘ibādah kepada-Nya. Engkau pun berkata dalam munajatmu: “Wahai Dzāt Maha Pelimpah ni‘mat, anugerahilah aku limpahan ni‘mat-Mu sampai aku bisa meraih ridhā-Mu dengannya.”

= Taḥaqquq =

Menyalurkan pemberian Allah tanpa harus pernah takut miskin. Menyerahkan jiwa raga kepada Allah yang telah menciptakan dan membaguskan penciptaan. Hanya kepada-Nya lah kita mohon petunjuk dan taufīq.

 

الرَّزَّاقُ
Ar-Razzāq
(Maha Pemberi Rezeki)

 

“Ar-Razzāq” artinya yang menciptakan dan yang memberi segala ciptaan apa yang dapat membuat bentuk dan materinya tetap bertahan. Rezeki adalah sesuatu yang pasti membawa manfaat. Rezeki dibagi menjadi dua: halal dan haram. Rezeki yang selaras dengan idzin-Nya adalah halal, dan rezeki yang tak mendapat idzin-Nya adalah haram. Tapi, semua itu adalah rezeki Allah.

Orang yang mengetahui bahwa Allah adalah ar-Razzāq, ia akan segera menuju dan segera mendekat kepada-Nya dengan senantiasa bertawakkal. Allah berfirman: Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi bagi siapa yang Dia kehendaki (ar-Ra‘d [13]: 26).

Seorang lelaki datang menemui Ḥātim al-Ashamm dan bertanya: “Dari mana engkau makan?” Ḥātim menjawab: “Dari anugerah-Nya.” Lelaki itu bertanya lagi: “Apakah Dia melemparkan untukmu roti dari langit?” Ḥātim menjawab: “Seandainya bumi ini bukan milik-Nya, Dia pasti melemparkan untukku roti dari langit.”

Al-Qusyairī berkata: “Jiwa butuh makan. Jiwa akan tenang bila makanannya terpenuhi. Hati juga perlu makan, begitu pula sirr dan rūḥ. Makanan hati adalah ketenangan, makanan sirr adalah dzikir, dan makanan rūḥ adalah sama‘ karena ia bersumber dari kebenaran dan kembali kepada-nya.”.

Wujūd kasar (manusia dan binatang, basyariyyah) butuh santapan indriawi, yaitu makanan dan minuman. Jiwa, akal, hati, rūḥ, dan sirr perlu santapan ma’nawi. Santapan jiwa adalah menjauhkan diri atas syahwat dan hawa nafsu. Itulah santapan dan obat jiwa. Santapan akal adalah ‘ilmu. Santapan hati adalah dzikir. Santapan ruh adalah berpikir dan merenung.

Santapan sirr adalah memantapkan diri hadir di hadapan Allah dan lalu terus meningkat dalam ma‘rifat.

= Ta‘alluq =

Memohon rezeki Allah, baik rezeki indriawi maupun ma‘nawi, lalu meyakini bahwa Dia menjamin rezekimu. Engkau mesti menyingkirkan keraguan tentang jaminan-Nya dan tidak bergantung pada perantara datangnya rezeki. Engkau hanya harus percaya kepada pemilik dan pencipta perantara.

‘Ulamā’ mengatakan, ‘ilmu seluruhnya terangkum dalam dua kalimat: Pertama, jangan menyusahkan diri untuk menggapai apa yang telah dijamin untukmu. Kedua, jangan menyia-nyiakan apa yang telah diamanahkan kepadamu.

= Takhalluq =

Memberi rezeki kepada orang yang telah menjadi tanggunganmu. Tak memberi rezeki kepada orang yang telah ditetapkan rezekinya, baik kerabat maupun bukan.

= Taḥaqquq =

Melenyapkan dirimu dengan kesaksian Allah al-Wahhāb. Engkaupun akan memberi tanpa ambil peduli, tanpa perhitungan, atau mengharap balasan.  Saat itulah rezeki indriawi dan ma‘nawi akan tersalurkan melalui tanganmu, karena dirimu telah mencapai derajat quthb-ul-wujūd (eksistensi tertinggi); seluruh eksistensi bergantung padamu. Hakikatnya, itu tak lain adalah Dzāt wajib alwujūd (yang wajib ada).

 

الْفَتَّاحُ
Al-Fattāḥ
(Maha Membuka)

 

Menurut sebagian ‘ulamā’, al-Fattāḥ berma‘na al-Ḥākim (hakim), karena orang ‘Arab biasa menggunakan kata: “Fattāḥ” untuk menyebut hakim. Allah berfirman: Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan dengan adil. Engkaulah pemberi keputusan terbaik (al-A‘rāf [7]: 89). Disebut alFattāḥ karena Allah akan membuka apa yang tertutup antara mereka lewat keputusan-Nya.

Menurut ‘ulamā’ lain, alFattāḥ berma‘na yang membuka simpanan rezeki dan rahmat untuk semua jenis makhlūq. ‘Ulamā’ lain berpendapat, ma‘nanya adalah pencipta kemenangan. Artinya, pemberi karunia dengan menampakkan kemenangan dan kelapangan setelah kesempitan.

Orang yang mengetahui bahwa Allah adalah al-Fattāḥ, ia akan memercayakan segala urusan kepada-Nya, memasrahkan segala kepedihan kepada-Nya, dan mengembalikan segala sesuatu kepada-Nya.

= Ta‘alluq =

Senantiasa meminta perlindungan-Nya dan mengiba kepada-Nya agar membuka hal-hal yang bersifat material dan immaterial yang tertutup darimu. Setiap saat engkau mesti meminta tambahan ‘ilmu atas apa yang engkau ketahui, karena ilmu-Nya tak terhingga. Oleh karena itu, orang ‘ārif (ahli ma‘rifat) yang sempurna akan selalu memperoleh ilmu baru setiap saat.

= Takhalluq =

Engkau mesti jadi pembuka ‘ilmu, pekerjaan, harta, hakikat, cita-cita, atau keadaan bagi orang lain.

= Taḥaqquq =

Keluar dari sempitnya alam fisik menuju luasnya alam rūḥ, atau keluar dari alam dunia menuju alam malakūt. Dengan demikian, engkau dapat menundukkan pandangan orang lain hanya dengan pandangan dan niat.

Dalam sebuah atsar disebutkan, Allah memiliki beberapa orang yang siapa pun melihat mereka maka ia akan langsung Bahagia dan takkan bersedih selamanya, yaitu orang-orang yang mengenal Allah (al‘ārif billāh, ahli ma‘rifat). Berkat mereka, negeri dan hamba-hamba Allah ini hidup.

Seorang penyair menuturkan:

Berkat kalian, seluruh bumi yang kalian tinggalin menjadi hidup
Seolah-olah kalian menjadi hujan yang mengguyur bumi.
Melihat kalian, mata melihat pemandangan yang elok.
Seolah-olah kalian rembulan di mata manusia.

Semoga Allah memberi kita kemanfaatan lantaran mereka dan membuat kita melangkahkan kaki di jalan mereka. Amin.

 

الْعَلِيْمُ
Al-‘Alīm
(Maha Mengetahui)

 

Al-‘Alīm” artinya yang menguasai seluruh pengetahuan, baik berupa pengetahuan yang jā’iz (mungkin), wājib, maupun mustaḥīl. Tidak ada sesuatu sekecil atom yang luput dari pengetahuan-Nya di alam semesta. Allah mengetahui merayapnya semut hitam di bebatuan hitam pada malam gulita, gerakan partikel di atmosfer, semua yang tampak dan tersembunyi, bisikan hati, dan gerak pikiran.

Orang yang mengetahui bahwa Allah adalah al-‘Alīm dan merasa cukup dengan pengetahuan-Nya, ia pasti akan memercayakan segala sesuatu kepada-Nya dan akan menghadapkan wajah ke arah-Nya dalam segala hal.

= Ta‘alluq =

Memohon agar Allah menganugerahi ‘ilmu-Nya yang tersembunyi dan berupaya sekuat tenaga mencarinya.

= Takhalluq =

Mendalami ‘ilmu syarī‘at dan ‘ilmu tarekat, lalu menyelami ‘ilmu hakikat dengan rasa (dzawq), kondisi (ḥāl), dan maqam. Jika itu dilakukan, engkau akan menjadi salah satu pewaris para nabi. Engkau telah memperoleh seluruh bagian warisan.

= Taḥaqquq =

Engkau mesti menjadi inti sekaligus materi ‘ilmu. Dari dirimu, seluruh ‘ilmu pengetahuan disalin. Dengan telaahmu, simpanan-simpanan pemahaman dibuka. Hanya Allah pemilik keutamaan yang Agung.

 

الْقَابِضُ الْبَاسِطُ
Al-Qābidh, Al-Bāsith
(Maha Menyempitkan, Maha Melapangkan)

 

Allah berfirman: Allah menahan (yaqbidhu) dan melapangkan (yabsuthu) (al-Baqarah [2]: 245]).

Ma‘nanya, menahan rūḥ saat jasad mati dan membentangkan rūḥ saat jasad hidup.

Menurut pendapat lain: “al-Qābidh” berarti yang menahan hati, ya‘ni yang membuat hati murung dan sedih. Sedangkan “al-Bāsith” berarti yang membentangkan hati, yaitu yang membuatnya senang dan gembira.

Pendapat lain mengatakan, “al-Qābidh” berarti yang menahan rezeki, yang menyempitkannya. Sedangkan “al-Bāsith” berarti yang membentangkan rezeki, melapangkan dan meluaskannya.

Menurut kalangan shūfī, al-qabadh dan al-basth adalah dua keadaan yang senantiasa silih berganti di ruang hati. Bila rasa takut (khawf) dominan pada diri seseorang hamba, berarti ia tengah disempitkan (maqbūdh). Bila rasa harap (rajā’) yang dominan, berarti ia tengah dilapangkan (mabsūth). Inilah keadaan orang-orang yang berusaha mencapai Allah (sa’irīn)

Orang-orang yang sudah sampai kepada Allah (wāshilūn), rasa takut dan rasa harap mereka seimbang. Mereka tidak lagi terpengaruh oleh al-qabadh dan al-basth. Penulis al-Ḥikam berkata: “Allah memberimu kelapangan supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan. Allah memberimu kesempitan supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan. Allah mengeluarkanmu dari keduanya supaya engkau menjadi milik Allah, bukan milik sesuatu pun selain-Nya.”

Al-Qusyairī berkata: “Bila Allah memperlihatkan kepada seorang hamba tanda-tanda keindahan-Nya, berarti dia melapangkan (basth). Bila Allah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda keagungan-Nya, berarti Dia menyempitkannya (qabdh). Jadi, qabdh membuat hati menjadi murung dan albasth membuatnya menjadi gembira.”

Allah menempatkan seorang hamba pada kondisi-kondisi manusiawi, lalu menyempitkannya sehingga ia tidak mampu menahan bahkan beban seekor semut kecil sekalipun. Lalu, Allah sesekali mencabut sifat-sifat kemanusiaannya sehingga ia mampu menahan beban apa pun yang dipikulkan ke pundaknya.

Asy-Syiblī berkata: “Orang yang mengenal Allah, langit dan bumi bisa ia sembunyikan di balik helai bulu matanya. Orang yang tidak mengenal Allah, ia langsung panik saat sehelai sayap nyamuk menempel di tubuhnya.”

Ahli ma‘rifat berkata: “Bila Allah menyempitkan, Dia akan melakukannya sampai tidak ada lagi kekuatan. Bila Allah melapangkan, Dia akan melakukannya sampai tidak ada lagi kemampuan. Segala sesuatu berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.”

Orang yang mengetahui bahwa Allah adalah al-Qābidh dan al-Bāsith, ia takkan mencela satu pun makhlūq, takkan menghadapkan atau memalingkan hati kepada satu pun makhlūq, tak kan berputus asa dari-Nya saat ditimpa musibah dan takkan merasa tenang saat diberi sesuatu.

= Ta‘alluq =

Memohon kepada Allah supaya disempitkan dalam segala hal yang tidak diridhāi-Nya, seperti kesenangan duniawi dan hawa nafsu. Memohon dilapangankan dalam segala hal yang diridhāi-Nya dan yang dapat mendekatkan mu kepada ridhā-Nya. Lalu, memohon kepada-Nya supaya diberi qabdh dan basth dengan baik, lalu dikeluarkan dari keduanya menuju penyaksian-Nya dan ma‘rifat-Nya.

= Takhalluq =

Menyempitkan apa yang dilarang-Nya dan melapangkan apa yang diridhāi-Nya. Bila itu dilakukan melalui upaya (mujāhadah) maka itu adalah takhalluq. Jika itu sudah menjadi karakter maka itu adalah taḥaqquq.

= Taḥaqquq =

Penyempitan dan pelapanganmu adalah berkah Allah. Sebab, engkau bersama Allah (billāh) dan milik Allah (lillāh), bukan milik sesuatu pun selain-Nya. Semoga Allah memberimu petunjuk. Amin

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *