Hati Senang

4-2 Siapakah yang Boleh Melakukan Tayammum? – Bidayat-ul-Mujtahid

Bidāyat-ul-Mujtahid
Oleh: Ibnu Rusyd


Penerjemah: Beni Sarbeni, ‘Abdul Hadi, Zuhdi.
Penerbit: PUSTAKA AZZAM

Buku 1

Rangkaian Pos: 004 Kitab Tayammum | Bidayat-ul-Mujtahid
  1. 1.4-1 Praktek Bersuci yang dapat Diganti dengan Tayammum – Bidayat-ul-Mujtahid
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 4-2 Siapakah yang Boleh Melakukan Tayammum? – Bidayat-ul-Mujtahid
  3. 3.4-3 Syarat-syarat  yang Membolehkan Tayammum? – Bidayat-ul-Mujtahid

Catatan:

  1. 128). Shaḥīḥ. Hadits ini secara lengkap terdapat dalam riwayat Abū Dāūd:

    خَرَجْنَا فِيْ سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلًا مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِيْ رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ: هَلْ تَجِدُوْنَ لِيْ رَخْصَةً فِي التَّيَمُّمِ؟ فَقَالُوْا: مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَ أَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ، فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أُخْبِرَ بِذلِكَ، فَقَالَ: قَتَلُوْهُ قَتَلَهُمُ اللهُ، أَلَا سَأَلُوْا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوْا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَ يَعْصِرَ أَوْ يَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَ يَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ.

    Kami keluar dalam sebuah perjalanan, lalu seseorang dari kami tertimpa batu di kepalanya, kemudian dia bermimpi (basah), lalu bertanya kepada para sahabatnya, dia berkata: “Apakah kalian menilai ada keringanan bagiku untuk bertayammum? Mereka menjawab: “Kami berpendapat tidak ada keringanan bagimu selama kau dapat menggunakan air.” Akhirnya dia pun mandi dan meninggal dunia. Ketika Nabi s.a.w. datang, hal itu diadukan kepada beliau, maka beliau bersabda: “Mereka telah membunuhnya, Allah akan membunuh mereka, tidakkah sepatutnya mereka bertanya apabila mereka tidak mengetahui sesuatu, sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya, padahal ia cukup bertayammum dan membalut lukanya dengan sepotong kain lalu mengusap/membasahi di atasnya, dan membasuh seluruh bagian tubuhnya.” Syaikh al-Albānī – di dalam Shaḥīḥ Sunan Abī Dāūd – menyatakan bahwa hadits tersebut ḥasan tanpa sabda beliau: padahal ia cukup bertayammum”. HR. Abū Dāūd (336), ad-Dāruquthnī (1/190), al-Baihaqī (1/227), dan dalam bab ini juga terdapat riwayat dari Ibnu ‘Abbās yang diriwayatkan oleh Abū Dāūd (337), Ibnu Mājah (572), dan Aḥmad (1/330).

Langganan buletin Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru di hatisenang.com

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas