3-4-5 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali

Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

Rangkaian Pos: 003 Tahapan Rintangan - Minhaj-ul-Abidin
  1. 1.3-1-1 Tahapan Rintangan – Harta Duniawi (1/2) | Minhaj-ul-Abidin
  2. 2.3-1-2 Tahapan Rintangan – Harta Duniawi (2/2) | Minhaj-ul-Abidin
  3. 3.3-2-1 Tahapan Rintangan – Makhluk (1/5) | Minhaj-ul-Abidin
  4. 4.3-2-2 Tahapan Rintangan – Makhluk (2/5) | Minhaj-ul-Abidin
  5. 5.3-2-3 Tahapan Rintangan – Makhluk (3/5) | Minhaj-ul-Abidin
  6. 6.3-2-4 Tahapan Rintangan – Makhluk (4/5) | Minhaj-ul-Abidin
  7. 7.3-2-5 Tahapan Rintangan – Makhluk (5/5) | Minhaj-ul-Abidin
  8. 8.3-3-1 Tahapan Rintangan – Syaithan (1/4) | Minhaj-ul-Abidin
  9. 9.3-3-2 Tahapan Rintangan – Syaithan (2/4) | Minhaj-ul-Abidin
  10. 10.3-3-3 Tahapan Rintangan – Syaithan (3/4) | Minhaj-ul-Abidin
  11. 11.3-3-4 Tahapan Rintangan – Syaithan (4/4) | Minhaj-ul-Abidin
  12. 12.3-4-1 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  13. 13.3-4-2 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  14. 14.3-4-3 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  15. 15.3-4-4 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  16. 16.Anda Sedang Membaca: 3-4-5 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  17. 17.3-5-1 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  18. 18.3-5-2 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  19. 19.3-5-3 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  20. 20.3-5-4 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  21. 21.3-5-5 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  22. 22.3-6-1 Tahapan Rintangan – Perut dan Penjagaannya | Minhaj-ul-Abidin
  23. 23.3-6-2 Tahapan Rintangan – Perut dan Penjagaannya | Minhaj-ul-Abidin
  24. 24.3-6-3 Tahapan Rintangan – Perut dan Penjagaannya | Minhaj-ul-Abidin
  25. 25.3-7-1 Tahapan Rintangan – Pasal 1 | Minhaj-ul-Abidin
  26. 26.3-7-2 Tahapan Rintangan – Pasal 2-1 | Minhaj-ul-Abidin
  27. 27.3-7-3 Tahapan Rintangan – Pasal 2-2 | Minhaj-ul-Abidin
  28. 28.3-7-4 Tahapan Rintangan – Pasal 3 | Minhaj-ul-Abidin

Pasal 3: Lisan.

 

Anda harus menjaga, membatasi dan mengendalikan lidah. Karena lidah adalah anggota tubuh yang paling usil dan durhaka, paling banyak mengakibatkan kerusakan dan permusuhan.

Aku telah meriwayatkan dari Sufyān bin ‘Abdullāh bahwasanya ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasūlullāh s.a.w.: “Wahai Rasūlullāh, apakah yang paling baginda khawatirkan atasku?” Lalu Rasūlullāh s.a.w. memegang lisannya sendiri, lalu bersabda: “(Lidah) ini.

Diriwayatkan dari Yūnus bin ‘Abdullāh, ia berkata: “Aku kuat menanggung  beratnya berpuasa pada hari yang sangat panas sambil bekerja di kota Bashrah. Tetapi, aku tidak kuat meninggalkan suatu kata yang tidak ada manfaatnya.”

Untuk itu, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh serta memperhatikan lima hal pokok berikut ini:

Pertama: Sebagaimana diriwayatkan oleh Abū Sa‘īd al-Khudrī r.a. bahwasanya apabila memasuki waktu pagi semua anggota tubuh anak Ādam, sama pada menemui lisan pagi-pagi buta seraya berkata: “Kami sangat berharap anda berlaku jujur dan lurus. Sebab, jika anda berlaku lurus, maka kami semua juga akan lurus-lurus saja. Tetapi jika anda berlaku bengkok, kami pun akan menjadi bengkok pula.”

Aku berpendapat, maksud ucapan ini – wallāhu a‘lam –  sesungguhnya lisan itu sangat berpengaruh terhadap semua anggota tubuh, adakalanya memudahkan untuk berbuat taat, namun bisa juga membuatnya terhina. Makna ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Mālik bin Dīnār, bahwa ia berkata: “Jika anda melihat hati anda mengeras, tubuh melemah dan rezeki menjadi penghalang, maka ketahuilah bahwa anda benar-benar telah mengucapkan sesuatu yang tidak berguna bagi diri anda.

Kedua: Jagalah waktu anda. Sebab kebanyakan apa yang dibicarakan oleh manusia itu selain zikir kepada Allah. Setidak-tidaknya, tentu terdapat omongan kosong yang tidak lain hanyalah menyia-nyiakan waktu saja.

Dikisahkan, bahwa Ḥasan bin Abī Sinān pernah melewati kamar yang sedang dibangun, lalu ia berkata: “Sejak kapan kamar ini mulai dibangun?” Namun serta-merta ia kembali menegur dirinya sendiri: “Hai nafsuku yang suka membujuk, anda menanyakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi anda.” Akhirnya, ia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa selama setahun.

Aku berkata, alangkah beruntungnya orang yang menaruh perhatian besar dan mengendalikan dirinya dan melepas kendali nafsunya. Semoga Allah memberikan pertolongan kepada kita.

Benarlah apa  yang dikatakan penyair dalam bait-bait syairnya berikut:

وَ اغْتَنِمْ رَكَعَتَيْنِ فِيْ ظُلْمَةِ اللَّيــــــــ

              ــــــلِ إِذَا كُنْتَ خَالِيًا مُسْتَرِيْحًا

وَ إِذَا مَا هَمَمْتَ بِالَّغْوِ فِي الْبَاــــــ

              ـــــطِلِ فَجْعَلْ مَكَانَهُ تَسْبِيْحًا

وَ لُزُوْمُ السُّكُوْتِ خَيْرٌ مِنَ النُّطْــــــــ

              ـــــقِ وَ إِنْ كُنْتَ فِي الْكَلَامِ فَصِيْحًا.

Ambil keuntungan, shalat dua rakaat di saat gelapnya malam

ketika kamu senggang dan sedang istirahat

Jika kamu ingin omong kosong dalam perkara batil

segeralah gantikan tempatnya dengan membaca tasbih

Berdiam diri adalah lebih baik dari pada berbicara

meskipun kamu orang yang pandai bicara.

Ketiga: Menjaga amal-amal saleh. Karena, barang siapa yang tidak bisa menjaga mulutnya dan banyak bicara, tentu akan terjerumus ke dalam mengumpat orang lain. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama: “Barang siapa yang banyak bicara, tentu banyak salahnya.”

Mengumpat itu bagaikan petir yang merusak ketaatan, menurut apa yang dikatakan oleh sebagian ulama: “Perumpamaan orang yang suka mengumpat orang lain itu ibarat orang yang memasang semacam alat pelempar batu. Dengannya, ia melempar kebaikan-kebaikannya ke timur ke barat, ke kanan dan ke kiri.

Telah sampai kepadaku berita dari Ḥasan Bashrī, bahwa telah dikatakan kepadanya: “Hai Abū Sa‘ad (Ḥasan Bashrī), si Fulan telah mengumpat anda.” Lalu Ḥasan Bashrī mengirim utusan membawa sebaki kurma basah untuk orang yang telah mengumpatnya dan mengatakan: “Aku telah mendengar bahwa anda menghadiahkan kebaikan anda kepadaku, maka aku suka membalas anda (dengan sebaki kurma) ini sebagai perimbangannya.

Masalah mengumpat orang lain ini pernah disebut-sebut di hadapan ‘Abdullāh bin Mubārak, lalu ia berkata: “Seandainya aku mengumpat orang lain, tentu aku lebih suka mengumpat ibuku, karena ibuku lebih berhak menerima kebaikanku.

Disebutkan pula bahwa pada suatu malam Syaikh Ḥātim al-‘Asham tidak sempat mengerjakan shalat malam, sehingga ditegur oleh istrinya. Lalu ia berkata: “Kemarin malam orang-orang itu melakukan shalat malam, namun ketika paginya mereka mengumpat aku, maka kelak pada hari kiamat, shalat malam mereka itu berada pada timbangan amal kebaikanku.

Keempat: Selamat dari marabahaya dan petaka dunia. Imām Sufyān berkata: “Janganlah anda bicara dengan mulut yang akan membuat gigi-gigi anda pecah dan rontok.

Ulama lain berkata: “Janganlah mengumbar lidah anda, sehingga eksistensi diri anda terancam bahaya dan rusak.

Ada pula yang mendendangkan syair berikut:

اِحْفَظْ لِسَانَكَ لَا تَقُلْ فَتُبْتَلَى

              إِنَّ الْبَلَاءَ مُوَكَّلٌ بِالْمَنْطِقِ.

Jagalah mulumu jangan sampai mengucapkan sesuatu yang dapat mengundang petaka

Karena petaka itu berpangkal dari ucapan.”

Perhatikan pula syair Ibnu Mubārak r.a. berikut:

أَلَا اِحْفَظْ لِسَانَكَ إِنَّ اللِّسَانَ

              سَرِيْعٌ إِلَى الْمَرْءِ فِيْ قَتْلِهِ

وَ إِنَّ اللِّسَانَ دَلِيْلُ الْفُؤَادِ

              يَدُلُّ الرِّجَالُ عَلَى عَقْلِهِ.

Ingat, jagalah mulumu, sungguh mulut itu

Sangat cepat mengundang kematian seseorang

Mulut merupakan cermin hati

Yang bisa menunjukkan kadar akal seseorang.”

Berikut ini syair Ibnu Abī Muthī‘ r.a.:

لِسَانُ الْمَرْءِ لَيْثٌ فِيْ كَمِيْنٍ

              إِذَا خَلَّى عَلَيْهِ لَهُ أَغَارَهُ

فَصُنْهُ عَنِ الْخَنَا بِلِجَامِ صُمْتٍ

              يَكُوْنُ لَكَ مِنْ بَلِيَّاتِ سَتَّارُهُ.

Mulut seseorang ibarat singa dalam kandang

Jika dilepas tentu akan menerkam pemiliknya.

Jaga mulutmu dari ucapan kotor dengan diam sebagai pengekang

Niscaya ia menjadi penutup bagimu dari timbulnya berbagai petaka.

Ada pepatah mengatakan: “Banyak kata yang mengatakan kepada pengucapnya, diam dan tinggalkan aku.

Kami memohon kepada Allah, semoga Dia berkenan memberikan petunjuk kepada kita dengan rahmat dan anugerah-Nya.

Kelima: Mengingat bahaya dan akibat-akibatnya di akhirat. Dalam hal ini, aku akan menyebutkan satu faedah penting, yaitu bahwa di dalam berbicara, anda tidak dapat terlepas dari dua hal, yaitu ucapan yang haram dan mubah, yakni berbicara berlebihan yang tidak ada manfaatnya bagi anda. Jika ucapan itu haram, maka anda akan menghadapi siksa Allah yang tidak akan mampu anda tanggung.

Diriwayatkan dari Rasūlullāh s.a.w., beliau bersabda:

لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ رَأَيْتُ فِي النَّارِ قَوْمًا يَأْكُلُوْنَ الْجِيْفَ فَقُلْتُ يَا جِبْرِيْلُ مَنْ هؤُلَاءِ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسِ.

Artinya:

Pada malam aku diisra’kan, aku melihat manusia di dalam neraka memakan bangkai. Maka aku bertanya: “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Jawab Jibril: “Mereka adalah orang-orang yang ketika di dunia suka memakan daging manusia (yakni suka mengumpat).

Rasūlullāh s.a.w. bersabda kepada Mu‘ādz:

اِقْطَعْ لِسَانَكَ عَنْ حَمَلَةِ الْقُرْآنِ وَ طُلَّابِ الْعِلْمِ وَ لَا تُمَزِّقِ النَّاسَ بِلِسَانِكَ فَتُمَزِّقَكَ كِلَابُ النَّارِ.

Artinya:

Hentikan lidah anda dari mengumpat orang yang hafal al-Qur’ān, para pencari ilmu. Dan janganlah anda mencabik-cabik manusia dengan lidah anda, agar anjing-anjing neraka tidak mencabik-cabik anda.

Dari Abī Qilābah, bahwa ia berkata: “Sesungguhnya mengumpat itu perusak hati dari petunjuk Allah.

Kita memohon anugerah dan petunjuk Allah, agar kita dijaga dan dijauhkan dari mengumpat dan menggunjing.

Demikian itu, merupakan penjelasan tentang pembicaraan yang dilarang. Sementara ucapan yang mubah, setidaknya menimbulkan empat hal, yaitu:

1. Menyibukkan Malaikat Kirāman Kātibīn (Malaikat Pencatat Amal), dengan mencatat ucapan yang tidak mengandung kebaikan dan tidak bermanfaat. Seharusnya seseorang merasa malu kepada dua malaikat pencatat amal itu, dan tidak menyakiti keduanya dengan semacam itu. Allah s.w.t. berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Artinya:

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qāf: 18).

2. Mengirim catatan kepada Allah dengan hal-hal yang main-main dan sia-sia. Karena itu, hendaklah seseorang menjaga diri dari hal tersebut dan takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Disebutkan bahwa ada sebagian ulama melihat orang yang berkata kotor, lalu ia berkata: “Wahai tuan, celaka anda, sesungguhnya anda mengirim catatan amal anda itu kepada Allah, maka perhatikan apa yang anda sampaikan kepada Allah itu.

3. Anda akan membaca buku catatan amal itu di hadapan Maha Raja, Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa pada hari kiamat, dan di depan para saksi di tengah-tengah situasi yang sangat genting dan amat dahsyat dalam keadaan dahaga, telanjang, lapar, terputus dari surga dan kenikmatan.

4. Mendapat caci maki dan ejekan lantaran apa yang anda ucapkan, dan yang pasti anda tidak akan mampu berdalil, dengan menanggung rasa malu yang sangat dalam kepada Tuhan Yang Maha Agung.

Ada yang mengatakan: “Janganlah anda berbicara berlebihan, karena akan memperpanjang penghisaban anda.

Demikianlah hal-hal pokok, cukuplah kiranya untuk dapat dijadikan peringatan bagi orang yang  memerlukannya. Dan aku telah menerangkan panjang lebar dalam kitab Asrāru Mu‘āmalāt-id-Dīn. Pelajari dan renungkan isinya, tentu anda akan memperoleh kepuasan dan kesembuhan.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *