Hati Senang

3-4-2 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali


Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

Rangkaian Pos: 003 Tahapan Rintangan - Minhaj-ul-Abidin
  1. 1.3-1-1 Tahapan Rintangan – Harta Duniawi (1/2) | Minhaj-ul-Abidin
  2. 2.3-1-2 Tahapan Rintangan – Harta Duniawi (2/2) | Minhaj-ul-Abidin
  3. 3.3-2-1 Tahapan Rintangan – Makhluk (1/5) | Minhaj-ul-Abidin
  4. 4.3-2-2 Tahapan Rintangan – Makhluk (2/5) | Minhaj-ul-Abidin
  5. 5.3-2-3 Tahapan Rintangan – Makhluk (3/5) | Minhaj-ul-Abidin
  6. 6.3-2-4 Tahapan Rintangan – Makhluk (4/5) | Minhaj-ul-Abidin
  7. 7.3-2-5 Tahapan Rintangan – Makhluk (5/5) | Minhaj-ul-Abidin
  8. 8.3-3-1 Tahapan Rintangan – Syaithan (1/4) | Minhaj-ul-Abidin
  9. 9.3-3-2 Tahapan Rintangan – Syaithan (2/4) | Minhaj-ul-Abidin
  10. 10.3-3-3 Tahapan Rintangan – Syaithan (3/4) | Minhaj-ul-Abidin
  11. 11.3-3-4 Tahapan Rintangan – Syaithan (4/4) | Minhaj-ul-Abidin
  12. 12.3-4-1 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  13. 13.Anda Sedang Membaca: 3-4-2 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  14. 14.3-4-3 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  15. 15.3-4-4 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  16. 16.3-4-5 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  17. 17.3-5-1 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  18. 18.3-5-2 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  19. 19.3-5-3 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  20. 20.3-5-4 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  21. 21.3-5-5 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  22. 22.3-6-1 Tahapan Rintangan – Perut dan Penjagaannya | Minhaj-ul-Abidin
  23. 23.3-6-2 Tahapan Rintangan – Perut dan Penjagaannya | Minhaj-ul-Abidin
  24. 24.3-6-3 Tahapan Rintangan – Perut dan Penjagaannya | Minhaj-ul-Abidin
  25. 25.3-7-1 Tahapan Rintangan – Pasal 1 | Minhaj-ul-Abidin
  26. 26.3-7-2 Tahapan Rintangan – Pasal 2-1 | Minhaj-ul-Abidin
  27. 27.3-7-3 Tahapan Rintangan – Pasal 2-2 | Minhaj-ul-Abidin
  28. 28.3-7-4 Tahapan Rintangan – Pasal 3 | Minhaj-ul-Abidin
Waktu baca : ≈ 5 menit

Jika anda bertanya, sekarang jelaskanlah kepadaku apakah taqwā itu, agar aku mengetahuinya?

Maka, ketahuilah sesungguhnya taqwā itu ibarat gudang yang berisi barang yang sangat berharga. Jika anda dapat memperoleh permata dan mutiara yang sangat berharga, kebaikan yang berlimpah, rezeki yang agung, keuntungan besar dan kerajaan yang luhur dari dalam gudang itu, maka seakan-akan kebaikan dunia dan akhirat telah anda miliki, lalu anda akumulasikan dalam sebuah derajat yang tinggi itu, yaitu taqwā.

Selanjutnya, renungkanlah firman Allah dalam al-Qur’ān mengenai taqwā. Semua perkara yang menyenangkan, oleh Allah digantungkan pada taqwā. Betapa banyak janji Allah berupa pahala yang dikaitkan dengan taqwā. Betapa banyak kebahagiaan yang disandarkan kepada taqwā, yaitu:

1. Pujian dan sanjungan dari Allah s.w.t. Sebagaimana firman Allah s.w.t. berikut:

وَ إِنْ تَصْبِرُوْا وَ تَتَّقُوْا فَإِنَّ ذلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُوْرِ

Artinya:

Jika kamu bersabar dan ber-taqwā, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Āli ‘Imrān 3: 186).

2. Terjaga dan terpelihara dari musuh. Allah s.w.t. berfirman:

وَ إِنْ تَصْبِرُوْا وَ تَتَّقُوْا لاَ يَضُرُّهُمْ شَيْئًا

Artinya:

Jika kamu bersabar dan ber-taqwā, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (Āli ‘Imrān 3: 120).

3. Jaminan kekuatan dan pertolongan dari Allah. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَ الَّذِيْنَ هُمْ مُحْسِنُوْنَ

Artinya:

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang ber-taqwā dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (an-Naḥl 16: 128).

Dan firman-Nya:

وَ اللهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

Allah adalah pelindung orang-orang yang ber-taqwā.” (al-Jātsiyah 45: 19).

4. Selamat dari bahaya dan dianugerahi rezeki yang halal. Allah s.w.t. berfirman:

وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Artinya:

Barang siapa yang ber-taqwā kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (ath-Thalāq 65: 2-3).

5. Kebagusan kualitas amal. Allah s.w.t. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَ قُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, ber-taqwā-lah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu.” (al-Aḥzāb 33: 70-71).

6. Diampuni dosa-dosanya. Allah s.w.t. berfirman:

وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ

Artinya:

“.dan Allah mengampuni dosa-dosamu.” (al-Aḥzāb 33: 71).

7. Dicintai Allah s.w.t. Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang ber-taqwā.” (at-Taubah 9: 4).

8. Diterima amal oleh Allah s.w.t. Sebagaimana firman Allah s.w.t.:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang ber-taqwā.” (al-Mā’idah 5: 27).

9. Memperoleh kemuliaan yang setinggi-tingginya dari Allah. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya:

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling ber-taqwā di antara kamu.” (al-Hujurāt 49: 13).

10. Memperoleh berita gembira menjelang mati. Sebagaimana firman Allah s.w.t.:

الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ كَانُوْا يَتَّقُوْنَ لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ فِي الآخِرَةِ

Artinya:

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu ber-taqwā. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.” (Yūnus 10: 63-64).

11. Selamat dari neraka. Sebagaimana firman Allah s.w.t.:

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِيْنَ اتَّقَوْا

Artinya:

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang ber-taqwā.” (Maryam 19: 72).

Dan firman-Nya:

وَ سَيُجَنَّبُهَا الأَتْقَى

Artinya:

Dan orang yang paling taqwā kelak akan dijauhkan dari neraka itu.” (al-Lail 92: 17).

12. Memperoleh kehidupan yang kekal di dalam surga. Allah s.w.t. berfirman:

أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

“....yang disediakan untuk orang yang bertakwa.” (Āli ‘Imrān 3: 133).

Dari keterangan tersebut, jelaslah bahwa semua kebaikan dan keberuntungan di dunia dan akhirat, berada di bawah ke-taqwā-an. Oleh sebab itu, jangan sampai anda melupakan bagian anda, raih derajat yang tinggi dan keberuntungan yang besar itu dengan ber-taqwā, wahai orang-orang yang beriman.

Kedudukan dan keistimewaan itu dapat terjadi dan bisa diraih dengan kesungguhan menjalankan ibadah, yang pada dasarnya meliputi tiga hal pokok, yaitu:

1. Petunjuk (taufīq) dan kekuatan yang selalu diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang ber-taqwā.

Allah s.w.t. berfirman:

أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang ber-taqwā.” (at-Taubah 9: 36).

2. Allah berkenan memperbagusi amal dan menyempurnakan kekurangan orang-orang yang ber-taqwā.

Allah s.w.t. berfirman:

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

Artinya:

….niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu.” (al-Aḥzāb 33: 71).

3. Penerimaan Allah terhadap amal orang-orang yang ber-taqwā. Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang ber-taqwā.” (al-Mā’idah 5: 27).

Sumber peribadatan berada pada tiga kisaran pokok, yaitu:

Pertama: Limpahan petunjuk Allah sehingga anda menjadi tahu bagaimana seharusnya beramal;

Kedua: Perbaikan amal yang masih kurang, sehingga menjadi sempurna;

Dan yang terakhir (Ketiga), adalah diterimanya ibadah sesudah menjadi sempurna.

Ketiga perkara ini yang selalu dimohon orang-orang ahli ibadah dengan doanya:

رَبَّنَا وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَ أَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَ تَقَبَّلْ مِنَّا

Artinya:

Ya Tuhan kami, berilah kami petunjuk untuk taat kepada-Mu, sempurnakan kekurangan ibadah kami, dan terimalah ibadah kami.

Allah telah menjanjikan ketiga hal tersebut kepada orang yang ber-taqwā. Dan dengan tiga hal tersebut, Allah memuliakan orang yang ber-taqwā, baik ia meminta atau tidak.

Karenanya, tetaplah anda dalam ke-taqwā-an bila hendak beribadah kepada Allah, bahkan jika anda menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Benarlah kiranya apa yang dikatakan penyair dalam bait syair berikut:

مَنِ اتَّقَى اللهَ فَذَاكَ الَّذِيْ

              سِيْقَ إِلَيْهِ مَتْجَرُ الرَّابِحُ

Artinya:

Barang siapa ber-taqwā kepada Allah

maka ke-taqwā-an itu

merupakan energi besar

yang menarik keuntungan padanya.”

Sebagian ulama berkata melalui bait syair, berikut:

لاَ يَتْبَعُ الْمَرْءَ إِلَى قَبْرِهِ

              غَيْرُ التُّقَى وَ الْعَمَلُ الصَّالِحُ

Artinya:

Tidak ada barang apa pun

yang menyertai seseorang

ke dalam kuburnya

selain taqwā dan amal saleh.”

Penyair yang lain juga berkata:

مَنْ عَرَفَ اللهَ فَلَمْ تُغْنِهِ

              مَعْرِفَةُ اللهِ فَذَاكَ الشَّقِيُّ

مَا يَصْنَعُ الْعَبْدُ بِعِزِّ الْغِنَى

              وَ الْعِزُّ كُلُّ الْعِزِّ لِلْمُتَّقِيْ

مَا ضَرَّ ذَا الطَّاعَةِ مَا نَالَهُ

              فِيْ طَاعَةِ اللهِ وَ مَاذَا لَقِيَ

Artinya:

Barang siapa mengaku mengenal Allah

tetapi tidak menjadikannya ber-taqwā

maka celakalah ia.

Apakah yang hendak diperbuat seseorang

dengan kekayaannya?

Kemuliaan itu hanya bagi orang-orang yang ber-taqwā

apa yang didapatkan dan diperoleh seseorang

yang taat dalam ketaatannya

tidaklah ada barang sedikit pun

yang membahayakannya.

Sebagian ulama lain menulis syair di atas kubur:

لَيْسَ زَادٌ سِوَى التَّقْوَى

              فَخُذِيْ مِنْهُ أَوْ دَعِيْ

Artinya:

Tiada bekal apa pun

selain taqwā

maka ambillah daripadanya,

atau tinggalkanlah.

Kemudian, renungkanlah satu masalah pokok, yaitu seandainya anda telah bersusah payah selama hidup melakukan ibadah, memerangi nafsu dan setan, serta mengalami kesulitan hingga apa yang anda dambakan, tercapai dan berhasil. Bukankah yang terpenting bagi Anda adalah diterimanya ibadah? Dan anda telah mengetahui bahwa Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang ber-taqwā.” (al-Mā’idah 5: 27).

Semua persoalan ibadah itu kembali kepada taqwā sebagai tujuan utamanya. Oleh sebab itu, diriwayatkan dari ‘Ā’isyah r.a., ia berkata: “Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang mengagumkan Rasūlullāh s.a.w. dan tidak pula ada seorang pun yang membuat beliau merasa kagum kecuali orang yang memiliki ke-taqwā-an.”

Diriwayatkan dari Qatādah, sesungguhnya di dalam kitab Taurat terhadap tulisan: “Wahai anak Ādam, ber-taqwā-lah kepada Allah, dan tidurlah sekehendak anda.”

Aku mendengar kabar bahwa ‘Āmir bin ‘Abdu Qais, ketika akan mati ia menangis. Setiap sehari semalam ia biasa melakukan shalat sebanyak seribu rakaat. Setelah itu, barulah ia menuju ke tempat tidurnya seraya mengucap: “Wahai tempat kembali segala kejelekan, demi Allah, karena-Nya, aku tidak rela kepada anda, sekejap mata pun tidak.” Suatu hari ia menangis, lalu ada yang bertanya: “Apakah yang membuat anda menangis?” Ia menjawab: “Yang membuat aku menangis adalah firman Allah s.w.t.: “Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang ber-taqwā.” (al-Mā’idah 5: 27).

Kemudian. Renungkan pula satu faedah lain yang menjadi esensi segala masalah pokok. Yaitu sebagaimana apa yang diriwayatkan bahwa sebagian ulama saleh meminta wasiat kepada gurunya: “Berilah kami suatu wasiat.” Gurunya berkata: “Aku berwasiat kepada anda dengan wasiat Allah, Tuhan alam semesta kepada orang-orang dahulu dan orang-orang kemudian, yaitu melalui firman-Nya sebagai berikut:

وَ لَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَ إِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللهَ.

Artinya:

Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepadamu; ber-taqwā-lah kepada Allah.” (an-Nisā’ 4: 131).

Aku katakan, bukankah Allah lebih mengetahui kebaikan hamba-Nya daripada siapa pun? Bukankah Allah lebih berkehendak baik, lebih belas kasih dan lebih sayang kepada hamba-Nya daripada siapa pun juga? Seandainya di dunia ini ada perkara yang lebih baik bagi hamba, lebih mengumpulkan kebaikan, lebih besar pahalanya, lebih agung peribadatannya, lebih tinggi pangkatnya, lebih utama dan lebih menghasilkan manfaat di kemudian hari daripada taqwā, tentu Allah memerintahkan perkara itu kepada para hamba-Nya, karena kebijaksanaan-Nya yang sempurna dan rahmat-Nya yang luas.

Ketika Allah mewasiatkan akan satu pekerti, yaitu taqwā, lalu semua orang terdahulu dan yang akan datang kemudian diperintahkan untuk ber-taqwā. Semua hamba-Nya diperintahkan agar memusatkan orientasi pada satu sasaran puncak yaitu ke-taqwā-an. Sehingga tahulah anda bahwa taqwā adalah tujuan baik terakhir yang tidak boleh dilewati dan tidak ada tujuan lain yang melebihi keutamaannya. Taqwā adalah sebagai satu-satunya tujuan puncak yang paling mulia.

Oleh sebab itu, Allah benar-benar mengonsentrasikan semua kebaikan dan petunjuk, peringatan, pengajaran, pendidikan pada satu wasiat, sebagai kepatutan hikmah dan rahmat-Nya. Dan anda tentu tahu bahwa pekerti ini, tidak lain adalah taqwā. Dialah pekerti yang mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat, yang dapat menyelesaikan perkara penting yang menyampaikan kepada derajat paling tinggi dalam peribadatan.

Begitu bagus syair berikut ini:

أَلاَ إِنَّمَا التَّقْوَى هِيَ الْعِزُّ وَ الْكَرَمُ

              وَ حُبُّكَ لِلدُّنْيَا هُوَ الذُّلُّ وَ الْعَدَمُ

وَ لَيْسَ عَلَى عَبْدٍ تَقِيٍّ نَقِيْصَةٌ

              إِذَا صَحَّحَ التَّقْوَى وَ إِنْ حَاكَ أَوْ حَجَمٌ

Artinya:

Ketahuilah, bahwa taqwā adalah keluhuran dan kemuliaan

cintamu kepada dunia

hanyalah kehinaan dan kerusakan.

Tidak ada kekurangan pada hamba yang ber-taqwā

bila ia membenarkan ke-taqwā-annya.

sekali pun ia tukang tenun atau tukang bekam.”

Itulah pokok ketinggian, tidak ada yang melebihi ketinggiannya. Cukuplah ke-taqwā-an itu, bagi orang yang mampu menangkap nūr, petunjuk, dan yang mengamalkannya, hingga ia pun mereka kaya. Sesungguhnya Allah Maha Memberi dan Maha Pemurah.

Bagikan:

Tinggalkan Pesan

avatar
Lewat ke baris perkakas