3-3-1 Tahapan Rintangan – Syaithan (1/4) | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali

Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

Rangkaian Pos: 003 Tahapan Rintangan - Minhaj-ul-Abidin
  1. 1.3-1-1 Tahapan Rintangan – Harta Duniawi (1/2) | Minhaj-ul-Abidin
  2. 2.3-1-2 Tahapan Rintangan – Harta Duniawi (2/2) | Minhaj-ul-Abidin
  3. 3.3-2-1 Tahapan Rintangan – Makhluk (1/5) | Minhaj-ul-Abidin
  4. 4.3-2-2 Tahapan Rintangan – Makhluk (2/5) | Minhaj-ul-Abidin
  5. 5.3-2-3 Tahapan Rintangan – Makhluk (3/5) | Minhaj-ul-Abidin
  6. 6.3-2-4 Tahapan Rintangan – Makhluk (4/5) | Minhaj-ul-Abidin
  7. 7.3-2-5 Tahapan Rintangan – Makhluk (5/5) | Minhaj-ul-Abidin
  8. 8.Anda Sedang Membaca: 3-3-1 Tahapan Rintangan – Syaithan (1/4) | Minhaj-ul-Abidin
  9. 9.3-3-2 Tahapan Rintangan – Syaithan (2/4) | Minhaj-ul-Abidin
  10. 10.3-3-3 Tahapan Rintangan – Syaithan (3/4) | Minhaj-ul-Abidin
  11. 11.3-3-4 Tahapan Rintangan – Syaithan (4/4) | Minhaj-ul-Abidin
  12. 12.3-4-1 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  13. 13.3-4-2 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  14. 14.3-4-3 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  15. 15.3-4-4 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  16. 16.3-4-5 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin
  17. 17.3-5-1 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  18. 18.3-5-2 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  19. 19.3-5-3 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  20. 20.3-5-4 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  21. 21.3-5-5 Tahapan Rintangan – Hati | Minhaj-ul-Abidin
  22. 22.3-6-1 Tahapan Rintangan – Perut dan Penjagaannya | Minhaj-ul-Abidin
  23. 23.3-6-2 Tahapan Rintangan – Perut dan Penjagaannya | Minhaj-ul-Abidin
  24. 24.3-6-3 Tahapan Rintangan – Perut dan Penjagaannya | Minhaj-ul-Abidin
  25. 25.3-7-1 Tahapan Rintangan – Pasal 1 | Minhaj-ul-Abidin
  26. 26.3-7-2 Tahapan Rintangan – Pasal 2-1 | Minhaj-ul-Abidin
  27. 27.3-7-3 Tahapan Rintangan – Pasal 2-2 | Minhaj-ul-Abidin
  28. 28.3-7-4 Tahapan Rintangan – Pasal 3 | Minhaj-ul-Abidin

3. Rintangan Ketiga Berupa Syaithan.

Wahai saudaraku, selanjutnya perangilah syaithan dan kalahkanlah ia. Yang demikian itu, disebabkan karena dua hal, yaitu:

Pertama: Syaithan adalah nyata-nyata sebagai musuh yang selalu menyesatkan. Ia tidak bisa diharapkan untuk diajak baik. Ia tidak akan membiarkan anda berbuat baik. Bahkan syaithan tidak akan merasa puas sebelum anda hancur dan binasa. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi anda merasa aman dari musuh semacam ini, dan melalaikan kejahatannya.

Renungkanlah dua ayat dari firman Allah s.w.t. berikut ini:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَأ بَنِيْ آدَمَ أَنْ لاَ تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ

Artinya:

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Ādam supaya kamu tidak menyembah syaithan? Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.

(Yā Sīn [36]: 60)

Dan firman Allah s.w.t.:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا

Artinya:

Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu).

(Fāthir: 6)

Ayat tersebut merupakan peringatan yang tegas dan keras bagi kita.

Kedua: Syaithan memang tercipta dengan watak memusuhi anda untuk selama-lamanya, tanpa mengenal lelah dan menyerah kalah. Sepanjang siang dan malam syaithan selalu meluncurkan anak panahnya bertubi-tubi kepada anda. Jika anda lengah, lalu bagaimana kesudahannya?

Selanjutnya, ada hal yang dapat anda alami, yaitu dalam beribadah kepada Allah dan mengajak manusia untuk datang ke pintu rahmat Allah. Anda melakukannya dengan perbuatan dan ucapan. Hal ini berlawanan dengan usaha, tujuan, keinginan dan perbuatan syaithan. Maka anda seolah-olah bertindak dan menyingsingkan lengan baju untuk membuat marah syaithan, melawan dan mengalahkannya. Karena itu, syaithan juga menyingsingkan lengan baju untuk memusuhi anda, memerangi dan melancarkan berbagai tipu daya sehingga bisa merusak agama dan ibadah anda, bahkan merusak segala urusan anda.

Sebab, syaithan merasa tidak aman sesudah Anda menentangnya dengan persiapan-persiapan taat kepada Allah. Syaithan bermaksud merusak orang yang tidak membuatnya marah dan tidak melawan, melainkan membenarkan dan menyetujuinya, seperti orang-orang kafir, orang sesat dan orang-orang yang mencintai syaithan dalam sebagian keadaan. Lalu bagaimana tanggapan syaithan terhadap orang yang sengaja membuatnya marah dan memusatkan perhatian untuk melawannya? Bagaimana pun syaithan tetap musuh yang nyata bagi semua anak turun Ādam.

Wahai orang yang sungguh-sungguh beribadah dan mengamalkan ilmu, ada permusuhan syaithan secara khusus bagi anda. Urusan diri anda, bagi syaithan merupakan suatu hal yang penting, dan dalam menghadapi anda, syaithan mempunyai pembantu-pembantu. Pembantu syaithan yang paling berat bagi anda adalah hawa nafsu anda sendiri. Syaithan juga mempunyai banyak jalan dan pintu untuk menyusup masuk ke benteng pertahanan anda, kalau saja anda lengah.

Benar apa yang dikatakan oleh Yaḥyā ibnu Mu‘ādz ar-Rāzī ketika berkata: “Syaithan itu memiliki banyak waktu luang (menganggur), sedangkan anda begitu sibuk. Syaithan dapat melihat anda, sedangkan anda tidak dapat melihatnya. Anda begitu mudah melupakannya, sedangkan ia tidak pernah lupa kepada anda. Dan syaithan mempunyai banyak pembantu di dalam diri anda.

Jika demikian kedudukan syaithan, maka anda harus memeranginya dan mengalahkannya. Kalau tidak, maka anda tidak akan aman dari kerusakan dan kebinasaan.

Apabila anda bertanya: “Dengan apa aku harus memerangi syaithan? Dengan apa aku bisa mengalahkan dan menangkalnya?” Ketahuilah bahwa para ulama yang ahli memerangi syaithan, dalam masalah ini ada dua cara, yaitu:

  1. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, bahwa cara menolak syaithan adalah dengan memohon perlindungan Allah s.w.t., tidak ada lain. Karena, syaithan itu bagaikan anjing yang diberi kuasa oleh Allah kepada anda. Jika anda sibuk memeranginya. Anda akan kepayahan dan menghabiskan waktu saja, akhirnya juga syaithan dapat mengalahkan dan melukai anda. Karena itu, melapor kepada Tuhan yang menguasai anjing (yaitu, Allah s.w.t.), agar menyingkirkannya dari anda merupakan tindakan yang lebih utama dan paling tepat.
  2. Cara kedua sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama yang lain, yaitu bahwa cara menolak syaithan adalah dengan melakukan perjuangan yang sungguh-sungguh (mujāhadah) dan selalu dalam kesiagaan penuh melakukan penolakan, penangkalan dan perlawanan.

Sedangkan menurut pendapatku, cara benar yang optimal dalam usaha memerangi syaithan, yaitu dengan cara mengombinasikan dan memadukan dua cara tersebut. Jadi, pertama kali Anda harus selalu memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan syaithan, sebagaimana yang diperintahkan Allah. Karena hanya Allah sajalah yang kuasa menyelesaikan kejahatan syaithan.

Kemudian jika kita melihat syaithan selalu dapat mengalahkan kita, maka kita harus menyadari bahwa kemenangan syaithan itu merupakan ujian dari Allah, agar kita bersungguh-sungguh memerangi dan mengoptimalkan kekuatan dalam melaksanakan perintah Allah, serta agar kita benar-benar bersabar. Sama halnya perintah Allah kepada kita untuk menghadapi dan memerangi orang-orang kafir, padahal Allah kuasa seandainya menumpas mereka. Maksudnya tidak lain adalah supaya kita mendapat bagian amal perang, amal sabar, bisa bersih dari dosa dan bisa memperoleh derajat sebagai syuhada’. Sebagaimana firman Allah s.w.t.:

وَ لِيَعْلَمَ اللهُ اللَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ يَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ

Artinya:

   dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur) sebagai syuhadā.

(Āli-‘Imrān 3:140)

Dan firman Allah s.w.t.:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَ لَمَّا يَعْلَمِ اللهُ اللَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَ يَعْلَمَ الصَّابِرِيْنَ

Artinya:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”

(Āli ‘Imrān 3:142)

Selanjutnya, bahwa untuk memerangi dan mengalahkan syaithan menurut cara yang dikatakan para ulama itu, haruslah pula ditempuh tiga hal berikut:

  1. Anda harus selalu menyelidiki untuk mengetahui tipu daya syaithan. Sebab bila anda mengetahui tipu dayanya, syaithan tidak akan berani mendekat. Sama seperti pencuri, ketika ia mengetahui bahwa pemilik rumah sudah mengetahui adanya pencuri yang hendak masuk rumah, tentu pencuri itu akan lari.
  2. Anda harus memandang hina dan remeh ajakan syaithan. Jangan sampai hati anda berlarut-larut memikirkan kepada ajakan syaithan dan jangan pula anda tanggapi. Karena, syaithan itu bagaikan anjing menggonggong. Jika anda ladeni ia akan menatap tajam hendak menerkam anda, tetapi jika tidak anda tanggapi, tentu ia akan diam.
  3. Anda harus terus menerus membiasakan ingat kepada Allah s.w.t. dengan lisan dan hati anda. Nabi s.a.w. bersabda:

إِنَّ ذَاكِرَ اللهِ تَعَالى فِيْ جَنْبِ الشَّيْطَانِ كَالأَكِلَةِ فِيْ جَنْبِ ابْنِ آدَمَ

Artinya:

Sesungguhnya zikir kepada Allah ta‘ala itu bagi Syaithan, sama dengan penyakit menular di tubuh anak turun Ādam.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *