skip to Main Content
Post Series: 003 Tahapan Rintangan - Minhaj-ul-Abidin
3-1-1 Tahapan Rintangan – Harta Duniawi (Bagian 1) | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali


Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

BAB III

TAHAPAN RINTANGAN

 

Wahai orang yang menempuh jalan ibadah – semoga Allah memberikan petunjuk kepada Allah – anda harus menepis segala rintangan yang menghalangi anda dalam beribadah, sehingga ibadah anda menjadi lurus.

Sebagaimana telah kami sebutkan, bahwa rintangan-rintangan dalam beribadah itu ada empat, yaitu:

1. Rintangan Pertama Berupa Harta Duniawi (Bagian 1/2)

Di dalam menghadapi dan menolak rintangan pertama yang berupa dunia adalah dengan mengosongkan hati dari urusan kepentingan dunia dan bersikap zuhud. Ada dua alasan mengapa anda harus bersikap demikian, yaitu:

Pertama: Agar anda dapat menunaikan ibadah dengan lurus dan sebanyak-banyaknya. Sebab, cinta dunia membuat anda sibuk berurusan dengannya, secara lahir anda terus mengejar dan mencarinya, sementara secara batin nafsu anda terus menyuarakan keinginan-keinginan untuk meraihnya. Keduanya mencegah anda untuk beribadah. Sebab, jiwa itu hanya satu dan hati pun juga satu. Kalau hati disibukkan oleh suatu urusan tentu terputus dari hal yang sebaliknya. Sedangkan dunia dan akhirat itu ibarat dua wanita yang dimadu, jika anda memuaskan yang satu, tentu yang satunya lagi akan kecewa. Atau dunia dan akhirat itu ibarat timur dan barat, bila anda cenderung kepada salah satunya, tentu anda berpaling dari yang satunya lagi.

Mengenai kesibukan secara lahiriah dari anggota tubuh luar, sebagaimana telah diriwayatkan dari Abū Dardā’ r.a., ia berkata: “Aku berusaha mengumpulkan antara beribadah dan berdagang, ternyata keduanya tidak bisa berkumpul. Maka aku memilih ibadah dan meninggalkan dagang.”

Dan diriwayatkan dari ‘Umar r.a. ia berkata: “Seandainya dunia dan akhirat bisa berkumpul pada diri seseorang selainku, tentu dapat pula berkumpul pada diriku. Sebab, aku dikaruniai Allah kekuatan dan kelenturan.”

Jika memang demikian persoalannya, maka hendaklah anda mengalahkan dunia fana dan pastikan pilihan pada keselamatan akhirat.

Kesibukan hati terhadap urusan dunia adalah bersifat batin yang menjadi sumber munculnya kehendak dan keinginan. Diriwayatkan dari Nabi s.a.w., beliau bersabda:

مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بآخِرَتِهِ وَ مَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوَا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى

Artinya:

Barang siapa mencintai dunia, tentu ia merugikan akhiratnya. Dan barang siapa mencintai akhirat, tentu ia merugikan dunianya. Oleh sebab itu, pilihlah yang kekal daripada yang bakal binasa.

Dengan demikian jelaslah bagi anda, bahwa jika anggota tubuh luar anda sibuk dengan dunia dan hati sibuk dengan keinginan dunia, niscaya tidaklah mudah bagi anda beribadah dengan sebenar-benarnya. Akan tetapi, jika anda bersikap zuhud dan mengosongkan lahir dan batin anda dari dunia, niscaya anda begitu mudah melakukan ibadah, bahkan anggota tubuh anda terasa semangat dan membantu dalam menjalankan ibadah.

Diriwayatkan dari Salmān al-Fārisī r.a., ia berkata: “Sesungguhnya bila seorang hamba zuhud terhadap dunia, maka bersinarlah hatinya dengan cahaya hikmah, dan anggota tubuhnya saling membantu untuk beribadah.”

Kedua: Zuhud memperbanyak nilai amal, mempertinggi kedudukan dan kemuliaannya. Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

رَكَعَتَانِ مِنْ رَجُلٍ عَالِمٍ زَاهِدٍ قَلْبُهُ خَيْرٌ وَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ جَلَّ جَلاَلُهُ مِنْ عِبَادَةِ الْمُتَعَبِدِيْنَ إِلَى آخِرِ الدَّهْرِ أَبَدًا سَرْمَدًا

Artinya:

(Shalat) dua rakaat dari seorang alim yang hatinya zuhud, lebih baik dan lebih disukai Allah daripada ibadah orang-orang yang beribadah (tanpa ilmu dan tidak pula berhati zuhud) sampai akhir masa selama-lamanya.

Apabila ibadah menjadi begitu mulia dan menjadi besar nilainya sebab zuhud, tentu menjadi keharusan bagi orang yang menginginkan beribadah agar benar-benar berzuhud dan mengosongkan hati dari dunia.

Jika anda bertanya, apakah makna zuhud di dunia dan apa pula hakikatnya? Maka ketahuilah bahwa zuhud menurut para ulama ada dua macam, yaitu:

  1. Zuhud yang dapat dikerjakan oleh hamba.
  2. Zuhud yang tidak dapat dikerjakan oleh hamba.

Zuhud yang dapat dikerjakan oleh seorang hamba ada tiga macam, yaitu:

  1. Tidak mencari-cari harta duniawi yang terlepas dan tidak dimiliki.
  2. Membagi-bagikan harta duniawi yang terkumpul padanya.
  3. Meninggalkan keinginan akan dunia dari dalam hatinya dan tidak mengusahakannya.

Adapun zuhud yang berada di luar jangkauan seorang hamba ialah dinginnya sesuatu yang menjadi kesenangan hidup pada hati seseorang yang zuhud.

Sementara zuhud yang dapat dikerjakan oleh hamba merupakan pendahuluan timbulnya zuhud yang tidak dapat dikerjakan oleh hamba. Bila seseorang telah melakukan zuhud yang dapat dilakukan (maqdūr), yaitu tidak mencari dan mengejar-ngejar dunia yang terlewatkan dan tidak terjangkau; dapat membagi-bagikan harta dunia yang ada padanya, serta hatinya tidak menginginkan dunia dan tidak mengusahakannya, karena mengharapkan ridha Allah dan ingat akan besarnya bahaya dunia, maka itu semua akan menimbulkan dinginnya dunia pada hatinya. Ketika terhadap harta kesenangan dunia, hati menjadi dingin dan tidak memiliki ketertarikan padanya, maka inilah zuhud yang sebenarnya (ḥaqīqī).

Kemudian, ketahuilah bahwa dari ketiga hal tersebut di atas, yang paling sulit adalah tidak adanya keinginan terhadap dunia di dalam hati, sebab banyak yang meninggalkan dunia, tetapi hatinya masih mencintai dan menginginkannya. Orang semacam ini selalu menghadapi kepayahan dan kesukaran dari dirinya sendiri.

Masalah zuhud, seluruhnya terletak pada urusan ini, yakni meniadakan keinginan hati terhadap kesenangan duniawi. Belumkah anda mendengar firman Allah s.w.t., sebagai berikut:

تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةِ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لاَ يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِي الأَرْضِ وَ لاَ فَسَادًا

Artinya:

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka bumi). (al-Qashash: 83).

Allah telah menggantungkan ketetapan hukum (akan tergapainya kebahagiaan negeri akhirat) dengan tidak adanya keinginan (terhadap kesenangan dunia), bukan dengan pencarian dan pengejaran akan keinginan ambisi duniawi.

Allah s.w.t. berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِيْ حَرْثِهِ وَ مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ

Artinya:

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia. Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (asy-Syūrā: 20)

Dan firman Allah s.w.t.:

مَّنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيْهَا مَا نَشَاءُ

Artinya:

Barang siapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki. (al-Isrā’: 18).

Dan firman-Nya:

وَ مَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَ سَعى لَهَا سَعْيَهَا وَ هُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُوْرًا

Artinya:

Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (al-Isrā’: 19)

Ketika anda memperhatikan ayat-ayat tersebut, semuanya mengisyaratkan pada keinginan (irādah). Dengan demikian jelaslah bahwa masalah keinginan merupakan suatu urusan penting.

Apabila seorang hamba menempatkan diri secara konsisten pada dua perkara tersebut, yakni membagikan kesenangan dunia yang ada padanya dan tidak mencari-cari apa yang tidak dimilikinya, maka besar harapan ia memperoleh karunia dan taufik Allah untuk menangkis keinginan terhadap dunia dan mengusahakannya. Sungguh Allah adalah Dzat Yang Maha Pemberi karunia, Maha Mulia lagi Maha Tinggi.


  • Diposting Pada: 5:57 AM 10/28/2017
  • Dalam Kategori: Tasawwuf
  • Terdiri Dari: 968 Kata
  • Dilihat: 8 Kali.
Back To Top