02-9 Ghaibah dan Hudhur – Risalah Qusyairiyah

Dari Buku: RISALAH QUSYAIRIYAH (INDUK ILMU TASAWUF)
(Judul Asli: Ar-Risālat-ul-Qusyairiyyatu fi ‘Ilm-it-Tashawwuf)
Oleh: Imam al-Qusyairy an-Naisabury
Penerjemah: Mohammad Luqman Hakiem, MA - Editor: Tim Risalah Gusti
Penerbit: Risalah Gusti.

BAB II-9

GHAIBAH DAN ḤUDHŪR

 

Ghaibah berarti kegaiban qalbu dari segala apa yang diketahui, berkaitan dengan apa yang berlaku pada tingkah laku makhluk, karena adanya faktor yang datang padanya, sehingga perasaannya tersibukkan oleh keghaiban yang tiba itu. Kemudian rasa itu, dengan sendirinya dan yang lainnya, menjadi ghaib, karena faktor yang tiba, akibat mengingat pahala atau memikirkan ancaman siksa.

Diriwayatkan bahwa Rabī‘ bin Haitsam pergi ke rumah Ibnu Mas‘ūd r.a. kemudian ia melewati kedai tukang pandai (besi). Ia melihat bara yang menganga di perapian itu. Tiba-tiba ia pingsan (karena membayangkan akibat-akibat pelaku dosa yang dibakar api). Ketika siuman, ia ditanya. “Aku ingat bagaimana keadaan ahli neraka di neraka nanti.” demikian katanya.

Diriwayatkan dari ‘Alī bin al-Ḥusain. Ketika ia sedang sujud, tiba-tiba terasa ada jilatan panas api yang tersulut di dalam rumahnya, dan ia sama sekali tidak berpaling dari shalatnya. Lantas ditanya tentang keadaannya yang demikian itu. “Aku tercengang oleh nyala api besar, lebih dari kobaran api itu,” jawabnya.

Manakala ghaibah dari rasa yang muncul oleh faktor yang dibukakan al-Ḥaqq seperti itu, maka derajat mereka berbeda-beda menurut tingkah laku kondisinya.

Kisah yang populer, bahwa awal mula perilaku Abū Ḥafsh an-Naisābūriy al-Ḥaddād meninggalkan pekerjaan di kedainya, yaitu ketika muncul seseorang yang membaca ayat al-Qur’ān. Lalu ia menjadi lupa dari rasanya karena adanya sesuatu yang datang menyelusup. Lalu ia menyusupkan tangannya pada bongkahan bara api, dan menariknya kembali sambil memegang bara api yang menganga (sama sekali tidak merasa panas). Muridnya, saat melihat kejadian itu pun berkata: “Wahai guru, apa ini?” Seketika itu pula Abū Ḥafsh memandang apa yang tampak padanya, lalu meninggalkan pekerjaannya dan segera pergi berlalu dari kedai.

Saya mendengar Abū Nashr, mu’adzdzin di Naisābūr. Ia dikenal sebagai laki-laki saleh. Ia mengisahkan: “Aku sedang membaca al-Qur’ān di majelis Ustādz Abū ‘Alī ad-Daqqāq di Naisābūr. Dan Ustādz sendiri sedang membahas soal haji, sampai hatiku terpengaruh karenanya. Pada tahun itu pula aku pergi haji, dan meninggalkan kedai serta pekerjaan. Sementara Ustādz Abū ‘Alī r.a. juga pergi menunaikan haji pada tahun yang sama. Ketika di Naisābūr aku menjadi pelayannya dan ikut membaca al-Qur’ān di majelisnya. Suatu hari di desa, aku melihatnya sedang bersuci dan lupa akan kendil bawaannya. Sesampai di tempat tujuan ku letakkan di sisinya. Ia berkata: “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu, ketika kamu membawa ini.” Lalu ia menatapku dalam-dalam, seakan-akan itu sebagai tatapan terakhir. Tiba-tiba ia berkata: “Pernah sekali, aku bertemu denganmu, siapa kamu?” Aku menjawab: “Aku adalah orang yang memohon pertolongan Allah s.w.t. aku menyertaimu sekadarnya, dan kutinggalkan hunianku, arenamu. Aku merasa terputus oleh kemenangan dan waktu, ketika engkau berakta: “Pernah sekali, aku bertemu denganmu     ”

Sedangkan Ḥudhūr, bisa berarti, seseorang sebagai pihak yang ḥādhir bersama al-Ḥaqq. Sebab ketika ia ghaib dari makhluk, ia ḥādhir bersama al-Ḥaqq. Artinya, seakan-akan ia ḥādhir, karena limpahan dzikir pada yang Ḥaqq di dalam qalbunya, yang berarti ia ḥadhir dengan qalbunya, di antara sisi Tuhannya. Dalam batas kegaibannya dari makhluk, maka kehadirannya dikategorikan bersama al-Ḥaqq. Namun apabila ia ghaib secara universal, maka ke- ḥādhir -an tersebut menurut keghaibannya. Manakala dikatakan: Si Fulan ḥādhir. Berarti, ia ḥādhir dengan qalbunya untuk Tuhannya. Ia tidak lupa dari-Nya dan tidak pula alpa. Lalu ia mukāsyafah dalam ḥudhūr-nya menurut tahap derajatnya, dengan segala makna yang dikhususkan oleh al-Ḥaqq kepadanya.

Kadang-kadang ḥudhūr dikatakan, karena kembalinya hamba pada dimensi rasa terhadap perilaku dirinya dan makhluk lainnya. Ia kembali pada kesadaran dari kegaibannya. Ini disebut ḥādhir bersama makhluk. Yang pertama disebut ḥādhir bersama al-Ḥaqq, dan frekuensi kegaibannya beragam. Ada yang pendek ghaibnya, ada pula yang abadi.

Diriwayatkan bahwa Dzun-Nūn mengutus salah seorang muridnya ke Abū Yazīd al-Bisthāmiy, untuk menyampaikan pesan agar Abū Yazīd mengubah sifatnya. Ketika murid Dzun-Nūn telah sampai di daerah Abū Yazīd, ia menanyakan rumah Abū Yazīd, lalu ia pun menuju ke rumah yang dimaksud. “Apa maksud kedatanganmu?” tanya Abū Yazīd. “Aku ingin menemui Abū Yazīd,” kata orang itu. “Siapa Abū Yazīd? Di mana Abū Yazīd? Aku juga sedang mencari Abū Yazīd?” kata Abū Yazīd. Orang itu pun segara pergi berlalu sambil bergumam, “Laki-laki ini pasti gila!” Kemudian ia kembali pulang ke rumah Dzun-Nūn, mengabarkan apa yang disaksikan. Tiba-tiba Dzun-Nūn menangis, sambil berakta: “Saudaraku Abū Yazīd benar-benar telah pergi bersama mereka yang pergi kepada Allah s.w.t.”

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *