013 Syarah Hikmah Ke-13 – Syarah al-Hikam – KH. Sholeh Darat

شَرْحَ
AL-HIKAM
Oleh: KH. SHOLEH DARAT
Maha Guru Para Ulama Besar Nusantara
(1820-1903 M.)

Penerjemah: Miftahul Ulum, Agustin Mufarohah
Penerbit: Penerbit Sahifa

Syarah al-Hikam

KH. Sholeh Darat
[Ditulis tahun 1868]

SYARAH HIKMAH KE-13

 

إِذَا فُتِحَ لَكَ وِجْهَةٌ مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَ هُوَ يُرِيْدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ أَلَمْ تَرَ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَ الْأَعْمَالُ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ وَ أَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ.

Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk ma‘rifat (mengenal-Nya), maka jangan hiraukan soal ‘amalmu yang masih sedikit. Sebab Tuhan tidak membukakannya, melainkan Ia akan memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah kau ketahui bahwa ma‘rifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu, sedangkan ‘amal perbuatanmu adalah hadiah darimu untuk-Nya, maka di manakah letak perbandingannya antara hadiahmu dengan pemberian karunia Allah kepadamu.

 

Ketahuilah wahai murīd, bahwasanya ma‘rifat billāh adalah akhir atau puncak dari segala tujuan dan harapan, oleh karena itu, Syaikh berkata:

 

إِذَا فُتِحَ لَكَ وِجْهَةٌ مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ

Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk ma‘rifat (mengenal-Nya), maka jangan hiraukan soal ‘amalmu yang masih sedikit.

Jika pintu ma‘rifat sudah dibukakan untukmu (wahai murīd), maka tak perlu engkau mempedulikan ‘amalmu yang masih sedikit.

Sesungguhnya seorang murīd atau sālik tidak berkuasa dalam hal memperbanyak ‘amal ibadah, juga tidak bisa menyingkap tabir yang menghalanginya dari Allah. Dengan demikian, ketika salah satu pintu ma‘rifat sudah dibukakan untuknya, seperti sakit, sehingga ibadahnya menjadi berkurang, maka pada waktu ibadahnya berkurang karena sakit tersebut, jangan merasa sedih akan banyaknya ibadah yang terlewat. Sebab, dengan sakit tersebut bisa membuka pintu ma‘rifat, seakan mengetahui bahwa Allah itu hadir dan melihatnya, ia sadar bahwa tidak ada yang bisa melakukan hal tersebut kecuali Allah. Itu lebih utama dari pada beberapa ibadah badaniyyah, sebab tujuan dari memperbanyak ‘amal (ibadah) adalah untuk mengharapkan ma‘rifat Allah, serta mendekatkan dari kepada Allah dengan cara menyadari bahwa terbukanya pintu ma‘rifat itu menunjukkan tercapainya ma‘rifat, maka terkadang sedikitnya ‘amal sebab sakit itu menunjukkan suatu yang lebih utama.

Dengan demikian, ketika seorang murīd mencapai salah satu tangga ma‘rifat, dengan mengetahui datangnya sakit, itu lebih baik dari pada masa sehatnya. Karena, dengan kehadiran masa sakitnya, maka di dalam hatinya muncul rasa benci terhadap dunia dan rela akan kematian, merindukan pertemuan dengan Tuhan, dan mengetahui bahwa Allah itu melakukan sesuatu sesuai yang dikehendaki-Nya. Pada akhirnya, ia menjadi tahu akan kelemahan dirinya dan mengetahui kenikmatan telah diciptakannya dirinya. Jika sudah demikian halnya, maka jangan bersusah hati akan sedikitnya ‘amal badaniyyah.

 

فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَ هُوَ يُرِيْدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ

Sebab Tuhan tidak membukakannya, melainkan Ia akan memperkenalkan diri kepadamu.

Karena sesungguhnya Allah itu tidak akan membukanya kecuali hendak memperkenalkan diri kepadamu.

Sesungguhnya Allah itu tidak akan menurunkan penyakit kepadamu, kecuali untuk memperkenalkan diri kepadamu, menampakkan sifat-sifatNya kepadamu, menampakkan asmā’-asmā’Nya kepadamu dan tidak ragu lagi bahwa perkenalan-Nya kepadamu itu lebih utama daripada ‘amal badaniyyah atau ‘amal zhāhir(mu).

 

أَلَمْ تَرَ (81) أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَ الْأَعْمَالُ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ وَ أَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ.

Tidakkah kau ketahui bahwa ma‘rifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu, sedangkan ‘amal perbuatanmu adalah hadiah darimu untuk-Nya, maka di manakah letak perbandingannya antara hadiahmu dengan pemberian karunia Allah kepadamu.

Tidakkah engkau mengerti bahwa ta‘arruf (92) dengan Allah itu semata-mata anugerah dari Allah untukmu dan ibadah itu merupakan bentuk hadiah darimu untuk-Nya, maka lebih mulia manakah hadiahmu kepada Allah dari pada anugerah-Nya kepadamu?

Sesungguhnya ta‘arruf itu adalah pemberian anugerah Allah dan ibadah itu bentuk hadiahmu kepada-Nya, maka tidak diragukan lagi bahwa pemberian anugerah Tuhan itu jauh lebih utama dan lebih mulia walaupun lebih sedikit dari apa yang kau hadiahkan. Karena hadiah dari seorang hamba itu merupakan hal yang tidak berguna (tidak ada nilainya). Alhasil, sedikitnya ‘amal ibadah yang disertai ma‘rifat itu lebih utama dari pada banyaknya ‘amal tapi tidak disertai ma‘rifat.

Catatan:

  1. 8). Dalam naskah asli Matan-ul-Ḥikam karya Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh ditulis (أَلَمْ تَعْلَمْ).
  2. 9). Maksud ta‘arruf di sini adalah ma‘rifat. Berkaitan dengan istilah ini, Imām al-Qusyairī menukil pernyataan Imām al-Junaid: Sesungguhnya yang dibutuhkan oleh seorang hamba dari sesuatu yang bersifat hikmah adalah ma‘rifat-nya ciptaan (makhluk) terhadap Sang Pencipta, kebaruan dirinya dan perbedaan antara ciptaan dengan Sang Pencipta. Karenanya, orang yang tak kenal siapa Sang Raja, maka ia tak akan tahu akan status kekuasaan-Nya untuk siapa.

    Lebih lanjut, Imām al-Qusyairī mempertegas makna ma‘rifat ini seraya menukil pernyataan Abū Thayyib al-Marāghī: Setiap unsur dalam diri manusia mempunyi fungsi yang berbeda-beda jika dikaitkan dengan ma‘rifat. Akal digunakan untuk pembuktian dalil secara logis, hikmah yang memberikan isyarat, kemudian ma‘rifat-lah yang mampu mempersaksikan secara utuh. Karenanya, kejernihan ibadah atak akan diperoleh seorang hamba kecuali dengan kejernihan tauhid.

    Tampaknya, makna ma‘rifat hampir sama dengan makna tauhid di kalangan kaum sufi. Bedanya, seorang yang ma‘rifat akan tercegah dari kekufuran, karena pengetahuannya (ma‘rifat-nya) terhadap Allah s.w.t. utuh. Lihat; Abul-Qāsim ‘Abd-ul-Karīm Hawāzin al-Qusyairī an-Naisābūrī, ar-Risālat-ul-Qusyairiyyah, al-Maktabah al-‘Ashriyyah, cet. ke-1, Libanon, 2001, hal. 42.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *