01-1 Ma‘rifatullah – Risalah Qusyairiyah

Risalah Qusyairiyah - Induk Ilmu Tasawuf

Dari Buku: RISALAH QUSYAIRIYAH (INDUK ILMU TASAWUF)
(Judul Asli: Ar-Risālat-ul-Qusyairiyyatu fi ‘Ilm-it-Tashawwuf)
Oleh: Imam al-Qusyairy an-Naisabury
Penerjemah: Mohammad Luqman Hakiem, MA - Editor: Tim Risalah Gusti
Penerbit: Risalah Gusti.

Rangkaian Pos: 001 Prinsip-prinsip Tauhid Dalam Pandangan Kaum Sufi | Risalah Qusyairiyah
  1. 1.01-0 Prinsip-prinsip Tauhid Dalam Pandangan Kaum Sufi – Risalah Qusyairiyah
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 01-1 Ma‘rifatullah – Risalah Qusyairiyah
  3. 3.01-2 Sifat-sifat – Risalah Qusyairiyah
  4. 4.01-3 Iman – Risalah Qusyairiyah
  5. 5.01-4 Rezeki – Risalah Qusyairiyah
  6. 6.01-5 Kufur – Risalah Qusyairiyah
  7. 7.01-6 Arasy – Risalah Qusyairiyah
  8. 8.01-7 Allah SWT Yang Haq – Risalah Qusyairiyah

BAB I

PRINSIP-PRINSIP TAUHID DALAM PANDANGAN KAUM SUFI

 

Ma‘rifatullāh.

Abū Bakr Asy-Syiblī berkata: “Allah adalah Yang Esa, Yang dikenal sebelum ada batas dan huruf. Maha Suci Allah, tidak ada batasan bagi Dzat-Nya, dan tidak ada huruf bagi Kalam-Nya.

Ruwaym bin Aḥmad ditanya mengenai fardhu pertama. Yang difardhukan Allah s.w.t. terhadap makhluk-Nya, Ia berkata: “Ma’rifat.” Karena firman Allah s.w.t.:

وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku.” (adz-Dzāriyāt: 56)

Ibnu ‘Abbās menafsirkan illā liya‘budūn dimaksudkan adalah illā liya‘rifūn (kecuali untuk ma‘rifat kepada-Ku).

Al-Junaid berkata: “Hajat hikmah pertama dibutuhkan oleh hamba adalah ma‘rifat makhluk terhadap Khāliq, mengenal Sifat-sifat Pencipta dan yang tercipta bagaimana ia diciptakan. Sehingga diketahui Sifat Khāliq dari makhluk, dan Sifat Yang Qadīm dari yang baru. Sang makhluk merasa hina ketika dipanggil-Nya dan mengakui kewajiban taat kepada-Nya. Barang siapa tidak mengenal Rajanya, maka ia tidak mengakui terhadap raja, kepada siapa kewajiban-kewajiban harus diberikan.

Abū Thayyib al-Maraghiy berkata: “Akal mempunyai bukti, hikmah mempunyai isyarat, dan ma‘rifat mempunyai syahadat. Akal menunjukkan, hikmah mengisyaratkan, dan ma‘rifat menyaksikan; bahwasanya kejernihan ibadat tidak akan tercapai kecuali melalui kejernihan tauhid.

Al-Junaid ditanya soal tauhid, jawabnya: “Menunggalkan Yang Maha Tunggal dengan mewujudkan Waḥdāniyah-Nya lewat keparipurnaan Aḥadiyah-Nya. Bahwa Dia-lah Yang Esa Yang tiada beranak dan tidak diperanakkan. Dengan kontra terhadap antagonis, keraguan dan keserupaan; tanpa upaya penyerupaan dan bertanya bagaimana, tanpa proyeksi dan pemisahan; tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha mengetahui.

Abū Bakr azh-Zhāhir Abadiy ditanya tentang ma‘rifat. Jawabnya: “Ma‘rifat adalah nama. Artinya: wujud pengagungan dalam qalbu yang mencegah dirimu dari penyimpangan dan penyerupaan.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas