skip to Main Content
008 Bab 9 – Spesialisasi Dalam Berbagai ‘Ilmu Agama – Al Luma’

Dari Buku:
Rujukan Lengkap Ilmu Tasawuf
Judul Asli: Al-Luma'
Oleh: Abu Nashr as-Sarraj
Penerjemah: Wasmukan dan Samson Rahman, MA.
Penerbit: Risalah Gusti, Surabaya.

IX

SPESIALISASI DALAM BERBAGAI ‘ILMU AGAMA, DAN MASING-MASING DISIPLIN ‘ILMU ADA AHLINYA SENDIRI, SERTA BANTAHAN TERHADAP MEREKA YANG MENGINGKARI ‘ILMU TERTENTU BERDASARKAN AKALNYA DAN TIDAK MENYERAHKAN PADA AHLINYA DAN YANG KOMPETEN DENGANNYA.

 

Syekh Abū Nashr as-Sarrāj – raḥimahullāh – berkata: Ada sekelompok ‘ulamā’ yang mengingkari adanya kekhushūshan (spesialisasi) dalam ‘ilmu syarī‘at. Sementara di kalangan para imām tak memperselisihkan, bahwa Rasūlullāh s.a.w. diperintahkan untuk menyampaikan apa yang diturunkan Allah padanya. Sebagaimana firman-Nya:

يَأَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَغْتَ رِسَالَتَهُ

(المائدة:٦٧)

Hai Rasūl, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.

(Surah Al-Mā’idah: 67)

Diriwāyatkan dari Nabi s.a.w., bahwa beliau pernah bersabda:

لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَ لَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا

Andaikan kalian tahu apa yang saya tahu, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.

(Ḥadīts riwāyat Bukhārī, Muslim, Aḥmad, Ḥākim dan ath-Thabrānī)

Andaikan pengetahuan beliau yang tidak banyak diketahui oleh umatnya merupakan bagian dari ‘ilmu-‘ilmu yang Allah perintahkan untuk menyampaikannya pasti beliau akan menyampaikannya. Dan andaikan para sahabatnya boleh bertanya tentang hal itu, tentu mereka akan menanyakannya.

Sementara itu di kalangan orang-orang ber‘ilmu tidak pernah memperselisihkan, bahwa di antara para sahabat Rasūlullāh s.a.w. ada yang memiliki spesialisasi dalam disiplin ‘ilmu tertentu. Sebagaimana Ḥudzaifah yang memiliki ‘ilmu khushūsh tentang nama-nama orang-orang munāfiq, yang Rasūlullāh s.a.w. merahasiakan hanya untuknya. Sehingga ‘Umar r.a. pernah menanyakan pada Ḥudzaifah: “Apakah saya termasuk dalam daftar qaum munāfiq tersebut?” tanya ‘Umar.

Diriwāyatkan dari ‘Alī bin Abī Thālib r.a. bahwa ia pernah berkata: “Rasūlullāh s.a.w. mengajariku tujuh puluh bāb tentang ‘ilmu pengetahuan, di mana beliau tidak pernah mengajarkannya kepada siapa pun selain aku.”

Hal ini akan disebutkan secara lengkap di akhir buku ini. Sementara saya perlu mengemukakannya di sini hanyalah untuk menegaskan, bahwa ‘ilmu yang ada di kalangan para ahli Ḥadīts, ahli fiqih, dan qaum Shūfī adalah ‘ilmu agama.

Masing-masing kelompok dari orang-orang ber‘ilmu, dalam disiplin ‘ilmu yang mereka kuasai memiliki karya-karya agung dan berbagai macam pendapat. Sebagaimana juga mereka memiliki imām-imām terkemuka yang disepakati oleh orang-orang sezamannya untuk dijadikan imām mereka, karena kelebihan yang dimilikinya dalam ‘ilmu dan kemampuan intelektualnya.

Tidak perlu diperdebatkan lagi, bahwa para ahli Hadīts jika mendapatkan kesulitan dalam ‘ilmu Ḥadīts, cacat (illat) yang ada pada Ḥadīts dan tentang para perawi, tidak akan merujuk kepada para ahli fiqih. Sebagaimana para ahli fiqih, jika mendapatkan kesulitan dalam masalah-masalah fiqih seperti kasus berubahnya khamer menjadi cuka, masalah binatang yang halal dikonsumsi, termasuk binatang darat ataukah hidup di air atau bisa kedua-duanya (amfibi), masalah membangun perumahan dan masalah-masalah wasiat. Mereka tidak akan pernah merujuk kepada para ahli Ḥadīts. Begitu juga orang-orang yang berbicara masalah perasaan hati nurani, menjelaskan dan menggali ‘ilmu-‘ilmu tersebut dengan isyārat-isyārat yang halus dan makna-makna yang agung. Ketika ada seseorang mendapatkan kesulitan tentang masalah-masalah tersebut tidak akan merujuk kecuali kepada seorang ‘ālim yang memiliki keahlian di bidang ini, benar-benar melakukan dan membiasakannya, menyelami dan mengarungi rahasia-rahasia ‘ilmunya. Maka barang siapa tidak melakukan seperti itu, berarti ia benar-benar telah melakukan kesalahan.

Seseorang tidak boleh mengumbar lidahnya dalam menggunjing suatu qaum yang ia sendiri tidak faham tentang kondisi mereka, tidak mengetahui keilmuannya, tidak memahami maqsūd dan tingkatannya. ‘Aqībatnya hanya akan menghancurkan dirinya sendiri dan mengira, bahwa ia termasuk orang-orang yang ahli dalam memberi nashīḥat. – Semoga Allah melindungi kita.


  • Diposting Pada: 5:04 PM 12/02/2017
  • Dalam Kategori: Tasawwuf
  • Terdiri Dari: 575 Kata
  • Dilihat: 6 Kali.
Back To Top