007-3 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali

Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

Rangkaian Pos: 007 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  1. 1.007-1 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  2. 2.007-2 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  3. 3.Anda Sedang Membaca: 007-3 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  4. 4.007-4 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  5. 5.007-5 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  6. 6.007-6 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  7. 7.007-7 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  8. 8.007-8 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  9. 9.007-9 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  10. 10.007-10 Tahapan Puji & Syukur (10/10) | Minhaj-ul-Abidin

Jika anda bertanya: “Manakah yang lebih utama, orang yang bersyukur ataukah orang yang bersabar?”

Ketahuilah, bahwa ada ulama yang mengatakan: “Orang yang bersyukur itu lebih utama daripada orang yang bersabar atas dasar firman Allah s.w.t.:

وَ قَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

Artinya:

Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (Saba’: 13).

Allah menjadikan orang-orang yang bersyukur sebagai manusia pilihan yang teristimewa. Allah juga berfirman memuji Nabi Nūḥ a.s. sebagai berikut:

إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا

Artinya:

Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (al-Isrā’: 3).

Allah juga berfirman memuji Nabi Ibrāhīm a.s.:

شَاكِرًا لأَنْعُمِهِ

Artinya:

(Ibrāhīm) adalah orang yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah.” (an-Naḥl: 121).

Sesungguhnya syukur itu berada dalam kedudukan nikmat dan kesejahteraan. Karena itu, ada yang mengatakan: “Seandainya aku diberi nikmat lalu dapat bersyukur, adalah lebih aku senangi daripada jika aku dicoba lalu bisa bersabar.”

Ada juga yang mengatakan: “Orang yang bersabar itu lebih utama daripada orang yang bersyukur. Sebab, orang yang bersabar itu lebih besar kepayahannya, sehingga pahalanya pun lebih besar dan derajatnya lebih tinggi.”

Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ

Artinya:

Sesungguhnya Aku dapati dia (Ayyūb) seorang yang sabar.” (Shād: 44).

Allah juga berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya:

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10).

Dan firman-Nya:

وَ اللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ

Artinya:

Allah mencinta orang-orang yang sabar.” (Āli ‘Imrān: 146).

Menurut pendapatku, pada hakikatnya orang yang bersyukur itu juga merupakan orang yang sabar. Begitu juga orang yang sabar hakikatnya juga orang yang bersyukur. Sebab, bersyukur di alam yang penuh ujian ini, tidak lepas dari ujian yang membutuhkan kesabaran dan tidak boleh berkeluh-kesah. Sebab, bersyukur adalah mengagungkan Dzāt Pemberi nikmat dengan batas yang dapat mencegah dari berbuat durhaka kepada-Nya. Sedangkan berkeluh-kesah termasuk perbuatan maksiat.

Orang yang bersabar tidak akan sepi dari nikmat, sebagaimana telah kuterangkan di atas, bahwa semua penderitaan itu pada hakikatnya adalah nikmat, menurut arti yang sudah disebutkan terlebih dahulu. Orang yang bersabar pada hakikatnya juga orang yang bersyukur kepada Allah, jika memang benar-benar mau bersabar dalam menghadapi penderitaan itu. Sebab, orang yang bersabar itu menahan nafsunya dari mengeluh, demi mengagungkan Allah. Dan menahan nafsu ini hakikat syukur, sebab menahan nafsu itu mengagungkan Allah yang bisa mencegah dari perbuatan maksiat, yakni mengeluh.

Orang yang bersyukur, tentu mencegah dirinya dari mengingkari nikmat, lalu bersabar menjauhi maksiat dan memaksa nafsunya untuk bersyukur dan bersabar melakukan taat. Maka, orang yang bersyukur pada hakikatnya juga merupakan orang yang bersabar.

Orang yang bersabar adalah orang yang mengagungkan Allah, sehingga pengagungannya itu dapat mencegah dirinya dari mengeluh terhadap apa yang menimpa dirinya dan juga mendorongnya untuk bersabar. Maka, yang demikian itu berarti juga bersyukur kepada Allah, sehingga ia menjadi orang yang bersyukur dengan sebenarnya. Menahan nafsu dan kehendaknya dari mengingkari nikmat, merupakan pekerjaan berat yang menuntut kesabaran orang yang bersyukur.

Petunjuk dan pemeliharaan Allah yang dilimpahkan kepada orang sabar merupakan kenikmatan yang disyukuri oleh orang-orang sabar. Jadi, salah satunya tidak bisa dipisahkan dari yang lainnya, antara syukur dan sabar tidak bisa dipisahkan.

Ketajaman penglihatan yang membangkitkan kepada sabar dan syukur adalah satu, yaitu kewaspadaan melakukan istiqamah, menurut pendapat sebagian ulama kita. Dari segi inilah aku berpendapat bahwa sabar dan syukur itu salah satunya tidak bisa dipisahkan dari yang lain. Pahamilah keterangan ini, semoga diiringi petunjuk Allah s.w.t.

 

(Pasal): Wahai saudaraku, anda harus mencurahkan segala potensi, dalam menempuh tahapan yang ringan, tetapi besar faedahnya, agung pokoknya dan tinggi derajatnya ini. Selanjutnya, renungkanlah kedua pokok berikut:

Pertama: Kenikmatan itu hanya diberikan kepada orang yang mengetahui kadar kenikmatan, yaitu orang yang bersyukur. Seperti firman Allah yang diceritakan perihal orang-orang kafir dan penolakan terhadap mereka:

أَهؤُلاَءِ مَنَّ اللهُ عَلَيْهِمْ مِّنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِيْنَ

Artinya:

Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka.” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya).” (al-An‘ām: 53).

Mereka, orang-orang yang bodoh itu beranggapan bahwa nikmat yang besar dan karunia yang mulia itu, hanya diberikan kepada orang yang hartawan yang memiliki kedudukan dan berdarah biru. Mereka berkata: “Apa perlunya orang-orang fakir itu diberi nikmat yang besar ini menurut pendapat kalian?” Dengan nada sombong dan menghina, mereka berkata, sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut:

أَهؤُلاَءِ مَنَّ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا

Artinya:

Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka.

Perkataan itu dijawab oleh Allah, sebagaimana dalam ayat berikut-nya:

أَلَيْسَ اللهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِيْنَ

Artinya:

Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya).” (al-An‘ām: 53).

Kiranya, ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah memberikan kenikmatan hanya kepada orang yang mengetahui kadar suatu kenikmatan. Dan yang dimaksud itu adalah orang yang menghadapi nikmat dengan jiwa dan raganya. Sehingga ia memilih nikmat dan mengalahkan lainnya. Ia tidak perduli beban yang harus ditanggungnya untuk menghasilkan nikmat itu. Kemudian tak henti-hentinya berdiri di pintu rahmat Allah untuk menghaturkan syukur atas kenikmatan yang telah dilimpahkan Allah kepadanya. Dalam jangkauan ilmu-Ku (Allah) yang meliputi segala sesuatu sejak dahulu, orang-orang yang lemah itu mengetahui kadar nikmat yang besar ini (Islam) dan bisa mensyukurinya.

Jadi, orang-orang yang lemah itu lebih utama menerima nikmat ini daripada kalian, hai orang-orang kafir Makkah. Kekayaan, kemewahan harta, kedudukan kalian tidak berarti apa-apa. Sekalipun nasab kalian keturunan ningrat dan orang mulia, semuanya tidak Aku anggap. Kalian beranggapan bahwa nikmat hanyalah sekedar kenyamanan dunia berupa kekayaan, harta benda, keluhuran nasab, sehingga menganggap sepi agama, ilmu dan kebenaran. Kalian hanya mengagungkan dunia serta membanggakannya.

Tidakkah kalian lihat, bahwa kalian tidak mau menerima agama Islam ini, ilmu dan kebenaran ini, jika tidak ada orang datang kepada kalian membawa pemberian. Hal itu disebabkan kalian meremehkan dan menganggap hina agama dan ilmu, serta tidak memperhatikan bahwa orang-orang yang lemah itu rela mati mengorbankan jiwa mereka demi agama, ilmu dan kebenaran, tanpa mempedulikan apa yang hilang dan orang-orang yang memusuhi mereka.

Kalian perlu tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang mengetahui kadar keluhuran nikmat Islam. Pengagungan nikmat itu sudah tertanam dalam hati mereka, dan semua yang hilang selain nikmat Islam ini tiada berarti apa-apa. Sehingga mereka mempunyai hak menerima anugerah mulia dan nikmat yang agung ini, dalam ilmu-Ku yang lebih dahulu mengetahui. Aku mengkhususkan nikmat Islam ini buat mereka, bukan untuk kalian.

Begitu pula orang-orang yang diberi kekhususan oleh Allah untuk menerima suatu nikmat di antara nikmat-nikmat agama, yaitu berupa ilmu dan ‘amal, sebenarnya mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui kadar nikmat, paling besar dalam memuliakan-Nya serta paling mampu mensyukurinya.

Sedangkan orang-orang yang terhalang dari nikmat agama, adalah disebabkan kekurangan mereka dalam memperhatikan dan mengagungkan hak nikmat agama, di samping takdir dari Allah. Seandainya pengagungan terhadap ilmu dan ibadah pada hati orang-orang awam sama dengan yang dilakukan para ulama. Tentu mereka tidak memilih pasar mengalahkan pengagungan mereka terhadap agama, dan akan merasa ringan meninggalkan pasar.

Tidakkah anda tahu bahwa seorang ahli fiqh yang telah menemukan hukum suatu masalah yang semula samar baginya, maka betapa senang hatinya, betapa besar pengaruh masalah itu di dalam hatinya, hingga seandainya ia menemukan uang seribu dinar, belum tentu kegembiraannya melebihi kegembiraan jika ia dapat memecahkan masalah keagamaan, lalu ia memikirkan masalah itu sampai setahun penuh, bahkan sampai sepuluh tahun, dua puluh tahun atau lebih lama lagi. Sementara ia tidak menganggapnya lama dan tidak pernah merasa bosan.

Kemudian, ketika Allah memberikan pemahaman kepadanya dalam masalah tersebut, ia menghitungnya sebagai suatu anugerah yang sangat besar, nikmat paling agung, serta merasa dirinya sebagai orang yang paling kaya dan paling mulia. Namun, kadang-kadang masalah seperti yang diketahui ahli fiqh ini bisa diketahui oleh orang kebanyakan atau pelajar yang malas, yang menyangka dirinya sama dengan orang alim dalam hal mencintai ilmu. Tetapi, orang yang semacam ini sebenarnya tidak pernah mau memenuhi hak orang alim. Seringkali kalau terlalu lama membicarakan masalah, ia menjadi jemu atau tertidur. Kalaupun masalah itu bisa jelas baginya, ia tidak menganggapnya sebagai suatu perkara besar.

Begitu pula orang yang kembali kepada Allah. Berapa tahun ia bersungguh-sungguh melatih dirinya dengan riyādhah dan menjaga nafsu dari keinginan dan kesenangannya, serta mengendalikan anggota tubuhnya dalam gerak dan diamnya, dengan harapan semoga Allah berkenan menyempurnakan dua rakaat saja yang penuh adab dan kesucian.

Betapa banyak ia merendahkan diri kepada Allah, kalau-kalau sekali tempo saat munajat dikaruniai kejernihan hati dan rasa manis. Seandainya dapat berhasil sekali saja dalam sebulan, bahkan sekali dalam setahun atau sekali seumur hidup, maka ia menganggap munajatnya itu merupakan suatu karunia besar dan nikmat yang paling agung. Betapa gembiranya dan betapa bersyukurnya kepada Allah. Ia tidak akan mempedulikan kepayahan yang ia alami di waktu malam dan meninggalkan kesenangan di waktu siang.

Kemudian anda tahu orang yang menganggap dirinya suka beribadah, ingin menghasilkan sebagian dari ibadah. Seandainya dalam menghasilkan ibadah yang bersih ini membutuhkan pengurangan sesuap makanan sorenya, atau butuh meninggalkan satu kalimat yang tidak berguna, atau butuh menolak tidur satu jam, maka nafsunya tidak merasa lega dan hatinya merasa tidak enak.

Seandainya kebetulan – tetapi langka – bisa menghasilkan ibadah yang bersih, maka ibadah yang demikian tidak dianggapnya sebagai sesuatu yang besar dan ia tidak menghaturkan banyak syukur kepada Allah. Orang semacam ini hanya besar kegembiraannya dan banyak memuji Allah, bila mendapatkan dirham, atau setiap hari mempunyai uang atau lauk-pauknya enak, atau dapat tidur dengan nyaman. Kalau semua itu terjadi, barulah ia mengucap: Alḥamdulillāh, ini adalah anugerah Allah.

Bagaimana bisa sama antara mereka orang-orang yang lalai dan lemah ini, dengan orang-orang yang beruntung yang bersungguh-sungguh dalam ber‘amal dan beribadah. Sehingga jadilah mereka itu sebagai orang-orang yang miskin kebaikan, dan terhalang untuk mendapatkan kebaikan itu. Sementara mereka yang bersungguh-sungguh beribadah memperoleh kekuatan menjalankannya dan mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan yang besar.

Begitulah, ketetapan hukum dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan yang demikian itu, merupakan penjelasan mengenai firman Allah ta‘ala:

أَلَيْسَ اللهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِيْنَ

Artinya:

Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada)-Nya?” (al-An‘ām: 53).

Pahamilah keterangan ini dengan benar. Kemudian ketahuilah, bahwa anda sama sekali tidak akan terhalang untuk memperoleh kebaikan selama anda berusaha menyempurnakannya dan memohon agar Allah berkenan menyempurnakannya. Semua itu tergantung kesungguhna usaha anda. Karenanya, kerahkan kesungguhan anda, agar dapat mengetahui kadar kebesaran dan keagungan nikmat Allah. Sehingga anda pun menjadi orang yang ahli menerima dan menjalankannya. Selanjutnya anda tetap berusaha mempertahankan anugerah itu, sebagaimana kesungguhan anda untuk memperolehnya, pada awal mulanya. Selanjutnya, perhatikan pula pokok kedua yang akan aku jelaskan berikut. Sungguh Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *