007-10 Tahapan Puji & Syukur (10/10) | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali

Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

Rangkaian Pos: 007 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  1. 1.007-1 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  2. 2.007-2 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  3. 3.007-3 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  4. 4.007-4 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  5. 5.007-5 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  6. 6.007-6 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  7. 7.007-7 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  8. 8.007-8 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  9. 9.007-9 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  10. 10.Anda Sedang Membaca: 007-10 Tahapan Puji & Syukur (10/10) | Minhaj-ul-Abidin

Secara garis besar, manusia itu wajib melakukan empat perkara, yaitu:

1. Berilmu;

2. Ber‘amal;

3. Ikhlas;

4. Takut.

Pertama-tama, harus mengetahui jalan keselamatan yang harus ditempuh. Kalau tidak, maka dia seperti orang buta. Kemudian dia ber‘amal dengan didasari ilmu. Jika tidak, tentu terhalang. Dan ber‘amal harus dilakukan dengan tulus ikhlas. Kalau tidak, maka dia menjadi orang yang rugi. Selanjutnya, senantiasa takut dari noda-noda ilmu, cacat-cacat ‘amal, dan penyakit-penyakit ikhlas, sehingga merasa aman. Jika tidak, maka dia menjadi orang yang tertipu.

Benar apa yang dikatakan oleh Dzun-Nūn, beliau berkata: “Semua manusia adalah bangkai (hidup), kecuali para ulama. Dan ulama pun hanya pulas dalam tidurnya, kecuali ulama yang meng-‘amal-kan ilmunya. Dan yang meng-‘amal-kan ilmunya pun tertipu, kecuali yang ikhlas. Dan orang yang ikhlas pun semuanya berada pada kekhawatiran yang besar.

Selanjutnya, aku berkata, yang sungguh sangat mengherankan adalah empat hal berikut ini, yaitu:

1. Orang yang berakal, tetapi tidak mengetahui. Dia tidak mau mengambil pengetahuan dan pelajaran dari apa yang ada di hadapannya. Ia tidak merasa butuh mengetahui apa yang akan terjadi sesudah mati, dengan merenungkan dalil-dalil, tidak mau mengambil pelajaran dan tidak pula mau mendengarkan ayat-ayat Allah dan lintasan hati.

Allah s.w.t. berfirman:

أَوَلَمْ يَنْظُرُوْا فِيْ مَلَكُوْتِ السَّمَاوَاتِ وَ الأَرْضِ وَ مَا خَلَقَ اللهُ مِنْ شَيْءٍ

Artinya:

Dan apakah mereka tidak mau memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.” (al-A‘rāf: 185)

Dan firman-Nya:

أَلاَ يَظُنُّ أُولئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوْثُوْنَ، لِيَوْمٍ عَظِيْمٍ

Artinya:

Tidakkah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar?” (al-Muthaffifīn: 4-5).

2. Orang yang mempunyai ilmu tetapi tidak mau meng-‘amal-kan ilmunya. Mengapa dia tidak mau merenungkan sesuatu yang yakin terjadi di depannya, yaitu peristiwa dan bencana masal yang amat besar, dan tahapan-tahapan yang sulit ditempuh yang berada di depannya? Kegoncangan yang dahsyat itu adalah sebuah berita besar yang pasti akan terjadi, namun mengapa anda berpaling.

3. Orang yang ber‘amal tetapi tidak ikhlas. Tidakkah ia merenungkan firman Allah s.w.t.:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْ لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَ لاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya:

Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan ‘amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (al-Kahfi: 110).

4. Orang yang beramal secara ikhlas tetapi tidak merasa takut akan tindakan Allah. Apakah ia tidak memikirkan tindakan Allah Yang Maha Luhur lagi Maha Agung, terhadap para hamba pilihan-Nya, para kekasih-Nya, serta orang-orang yang berkhidmat kepada-Nya. Hingga terhadap makhluk pilihan-Nya yang paling mulia, Nabi Muḥammad s.a.w. Allah berfirman:

وَ لَقَدْ أُوْحِيَ إِلَيْكَ وَ إِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ

Artinya:

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu.” (az-Zumar: 65).

Dan ayat-ayat yang semisalnya, hingga diceritakan bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah bersabda:

شَيَّبَتْنِيْ هُوْدٌ وَ أَخَوَاتُهَا

Artinya:

Surat Hūd dan surat-surat yang semisalnya, mempercepat rambutku beruban.

Selanjutnya, ringkas permasalahan dan perinciannya, sebagaimana firman Allah, Tuhan semesta alam, dalam empat ayat al-Qur’ān, berikut ini:

Allah s.w.t. berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَ أَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُوْنَ

Artinya:

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (al-Mu’minūn: 115).

Dan firman-Nya:

وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya:

“...dan hendaklah setiap diri memperlihatkan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Ḥasyr: 18).

Firman-Nya juga:

وَ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Artinya:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-‘Ankabūt: 69).

Dan firman Allah s.w.t.:

وَ مَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ

Artinya:

Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (al-‘Ankabūt: 6).

Mengakhiri penulisan kitab ini, kami memohon ampun kepada Allah, dari segala kesalahan dalam penulisan buku ini, dari segala ucapan yang tidak sesuai dengan amal perbuatan kami. Kami memohon ampun kepada-Nya atas segala keterbatasan penguasaan kami terhadap ilmu agama Allah yang aku serukan dan sebarluaskan, sementara aku ada kelengahan dan kegegabahan dalam melaksanakannya. Kami mohon ampun kepada-Nya dari setiap gerak hati yang mendorong pena kami untuk menghiasi diri dalam kitab yang kami tulis atau kalam yang kami susun atau ilmu yang kami ajarkan.

Kami memohon kepada Allah agar kiranya Ia berkenan menjadikan kami dan juga anda, wahai saudara-saudaraku, untuk dapat mengamalkan ilmu yang diajarkan-Nya, secara tulus ikhlas mengharapkan ridha-Nya. Dan semoga Allah tidak menjadikan ilmu kami sebagai sebab kerusakan kami. Mudah-mudahan Ia berkenan menjadikannya sebagai amal saleh bagi kami. Sungguh Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Akhirnya, seorang Syaikh – Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī – menyatakan, demikianlah yang kami dapat tuangkan dalam kitab ini dalam kerangka menjelaskan bagaimana cara meniti jalan akhirat.

Segala puji bagi Allah, lantaran ni‘mat-Nya, semua laku lampah kesalehan menjadi sempurna, dan sebab karunia-Nya, turunlah keberkatan. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada manusia paripurna, Muḥammad s.a.w. yang selalu menyerukan beribadah kepada Allah secara tulus ikhlas karena-Nya. Juga kepada para keluarga, sahabat dan pengikut petunjuk beliau hingga akhir zaman, Āmīn.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *