Tujuh Sifat Ma‘ani – Kalam – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

MENUJU KEBENINGAN TAUHID BERSAMA AS-SANUSI
Terjemah Syarḥ Umm-ul-Barāhin
Penulis: Al-Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi

Penerjemah: Ahmad Muntaha AM.
Penerbit: Santri Salaf Press-Kediri

Rangkaian Pos: 003 Sifat Wajib Bagi Allah - Terjemah Syarh Umm al-Barahin

13. Kalām

[صـــ] (وَ الْكَلَامُ الَّذِيْ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَ لَا صَوْتٍ، وَ يَتَعَلَّقُ بِمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ الْعِلْمُ منَ االْمُتَعَلِّقَاتِ).

(13). Kalām (Maha Bicara) yang tanpa huruf dan suara, dan yang berhubungn dengan hal-hal yang berhubungan dengan sifat ‘ilmu.

 

Syarḥ.

[شـــ] كَلَامُ اللهِ تَعَالَى الْقَائِمُ بِذَاتِهِ هُوَ صِفَةٌ أَزَلِيَّةٌ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَ لَا صَوْتٍ، وَ لَا يَقْبَلُ الْعَدَمَ وَ مَا فِيْ مَعْنَاهُ مِنَ السُّكُوْتِ وَ لَا التَّبْعِيْضَ وَ لَا التَّقْدِيْمَ وَ لَا التّأْخِيْرَ.

Kalām Allah ta‘ālā yang ada pada Dzāt-Nya adalah sifat azaliyyah tanpa huruf, tanpa suara, dan tidak dapat tiada dan yang sema‘na dengannya yaitu diam, tidak terbagi-bagi, didahulukan atau diakhirkan.

ثُمَّ هُوَ مَعَ وَحْدَتِهِ مُتَعَلِّقٌ، أَيْ دَالٌّ أَزَلًا وَ أَبَدًا، عَلَى جَمِيْعِ مَعْلُوْمَاتِهِ الَّتِيْ لَا نِهَايَهَ لَهَا، وَ هُوَ الَّذِيْ عُبِّرَ عَنْهُ بِالنَّظْمِ الْمُعْجِزُ الْمُسَمَّى أَيْضًا بِكَلَامِ اللهِ تَعَالَى حَقِيْقَةً لُغَوِيَّةً، لِوُجُوْدِ كَلَامِهِ عَزَّ وَ جَلَّ فِيْهِ بِحَسْبِ الدَّلَالَةِ لَا بِالْحُلُوْلِ، وَ يُسَمَّيَانِ قُرْآنًا أَيْضًا.

Kemudian sifat kalām Allah besertaan ketunggalannya berhubungan, maksudnya pada azali dan selamanya, menunjukkan pada seluruh yang diketahui yang tiada batas. Itulah yang diungkapkan dengan istilah an-nazhm-ul-mu‘jiz – runtutan kalām Allah yang melemahkan orang yang mau menandinginya – yang juga dinamakan kalāmullāh ta‘ālā dalam hakikat bahasa, karena wujudnya kalām Allah – ‘azza wa jalla – padanya dengan melihat dilālahnya, bukan bertempatnya. Keduanya juga dinamakan al-Qur’ān.

وَ كُنْهُ هذِهِ الصِّفَةِ وَ سَائِرِ صِفَاتِهِ تَعَالَى مَحْجُوْبٌ عَنِ الْعَقْلِ كَذَاتِهِ جَلَّ وَ عَزَّ، فَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَخُوْضَ فِيْ الْكَنْهِ بَعْدَ مَعْرِفَةِ مَا يَجِبُ لِذَاتِهِ تَعَالَى وَ لِصِفَاتِهِ.

Hakikat sifat ini dan seluruh sifat Allah ta‘ālā lainnya tertutup bagi akal, seperti Dzāt-Nya – jalla wa ‘azza – . Sebab itu, siapapun tidak boleh membahas hakikatnya setelah mengetahui hal yang wajib bagi Dzāt Allah ta‘ālā dan sifat-sifatNya.

وَ مَا يُوْجَدُ فِيْ كُتُبِ عُلَمَاءِ الْكَلَامِ مِنَ التَّمْثِيْلِ بِالْكَلَامِ النَّفْسِيِّ – فِي الشَّاهِدِ عِنْدَ رَدِّهِمْ عَلَى الْمُعْتَزِلَة الْقَائِلِيْنَ بِانْحِصَارِ الْكَلَامِ فِي الْحُرُوْفِ وَ الْأَصْوَاتِ لَا يُفْهَمُ مِنْهُ تَشْبِيْهُ كَلَامِهِ جَلَّ وَ عَزَّ بِكَلَامِنَا النَّفْسِيِّ فِي الْكَنْهِ، تَعَالَى وَ جَلَّ عَنْ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ شَرِيْكٌ فِيْ ذَاتِهِ أَوْ صِفَاتِهِ أَوْ أَفْعَالِهِ.

Dari pengumpamaan kalām Allah dengan al-kalām an-nafsī (perkataan hati manusia) yang ditemukan dalam kitab-kitab ‘ulamā’ Ahli Kalām saat mereka menolak Mu‘tazilah yang berpendapat terbatasinya kalām Allah dalam huruf dan suara, tidak bisa dipahami adanya penyamaan hakikat kalām Allah – jalla wa ‘azza – dengan perkataan hati manusia. Maha Luhur dan Maha Agung Allah dari adanya sekutu bagi-Nya dalam Dzāt, sifat-sifat, ataupun perbuatan-perbuatanNya.

وَ كَيْفَ يَتَوَهَّمُ أَنَّ كَلَامَهُ تَعَالَى مُمَاثِلٌ لِكَلَامِنَا النَّفْسِيِّ، وَ كَلَامُنَا النَّفْسِيُّ أَعْرَاضٌ حَادِثَةٌ يُوْجَدُ فِيْهَا التَّقْدِيْمُ وَ التَّأْخِيْرُ وَ طُرُوُّ الْبَعْضِ بَعْدَ عَدَمِ الْبَعْضِ الَّذِيْ يَتَقَدَّمُهُ وَ يَتَرَتَّبُ وَ يَنْعَدِمُ بِحَسْبِ وُجُوْدِ جَمِيْعِ ذلِكَ فِي الْكَلَامِ اللَّفْظِيِّ.

Bagaimana disalah sangka bahwa kalām Allah ta‘ālā sama dengan perkataan hati kita, sementara perkataan hati kita merupakan sifat yang baru yang di dalamnya terdapat pendahuluan, pengakhiran, adanya sebagian setelah tiadanya sebagian yang lain yang mendahuluinya, berurutan, dan menjadi tidak ada, dengan melihat wujudnya semua hal itu dalam ucapan verbal.

فَمَنْ تَوَهَّمَ هذَا فِيْ كَلَامِهِ تَعَالَى فَلَيْسَ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ الْحَشَوِيَّةِ وَ نَحْوِهِمْ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ الْقَائِلِيْنَ بأَنَّ كَلَامَهُ تَعَالَى حُرُوْفٌ وَ أَصْوَاتٌ فَرْقٌ.

Barang siapa salah sangka terhadap hal ini bagi kalām Allah ta‘ālā, maka tidak ada beda antara dirinya dan kaum Ḥasyawiyyah dan semisalnya dari golongan ahli bid‘ah yang berpendapat bahwa kalām Allah ta‘ālā berupa huruf dan suara.

وَ إِنَّمَا مَقْصَدُ الْعُلَمَاءِ بِذِكْرِ الْكَلَامِ النَّفْسِيِّ – فِي الشَّاهِدِ النَّقْضُ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ فِيْ حَصْرِهِمِ الْكَلَامَ فِي الْحُرُوْفِ وَ الْأَصْوَاتِ، فَقِيْلَ لَهُمْ يَنْتَقِضُ حَصْرُكُمْ ذلِكَ بِكَلَامِنَا النَّفْسِيِّ فَإِنَّهُ كَلَامٌ حَقِيْقَةٌ وَ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَ لَا صَوْتٍ

Maksud ‘ulamā’ menyebut perkataan hati yang ada pada manusia adalah mencounter Mu‘tazilah yang membatasi kalām Allah pada huruf dan suara. Lalu dikatakan kepada mereka: “Pembatasan kalian seperti itu gugur dengan perkataan hati kita (manusia). Sebab, sungguh perkataan hati kita juga kalām yang hakiki, dan tidak dengan huruf maupun suara.”

وَ إِذَا صَحَّ ذلِكَ فَكَلَامُ مَوْلَانَا  أَيْضًا كَلَامٌ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَ لَا صَوْتٍ، فَلَمْ يَقَعِ الْاِ   شْتِرَاكُ بَيْنَهُمَا إِلَّا فِيْ هذِهِ الصِّفَةِ السَّلْبِيَّةِ، وَ هِيَ أَنَّ كَلَامَ مَوْلَانَا جَلَّ وَ عَزَّ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَ لَا صَوْتٍ كَمَا أَنَّ كَلَامُنَا النَّفسِيَّ لَيْسَ بِحَرْفٍ وَ لَا صَوْتٍ، أَمَّا الْحَقِيْقَةُ فَمُبَايَنَةُ لِلْحَقِيْقَةِ كُلَّ الْمُبَايَنَةِ، فَاعْرِفْ هذَا فَقَدْ زَلَّتْ هُنَا أَقْدَامٌ لَمْ تُؤَيَّدْ بِنُوْرٍ مِنَ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ.

Bila hal itu benar, maka kalām Allah juga tidak berupa huruf dan suara. Sebab itu, di antara kalām Allah dan perkataan hati manusia tidak terjadi kesamaan kecuali dalam sifat penafian ini, yaitu sungguh kalām Allah – jalla wa ‘azza – tidak berupa huruf dan suara sebagaimana perkataan hati kita yang tidak berupa huruf dan suara; adapun hakikat keduanya maka sangat berbeda. Ketahuilah hal ini, sungguh banyak orang yang tidak dikuatkan dengan cahaya dari Allah Yang Maha Merajai dan Maha Mengetahui, yang ia salah memahaminya.

وَ هَنَا انْتَهَى فِي الْعَقِيْدَةِ مَا عُدَّ مِنْ صِفَاتِ الْمَعَانِيْ، وَ حَاصِلُهَا أَنَّهَا تَنْقسِمُ إِلَى أَرْبَعُةِ أَقْسَامٍ:

Di sini berakhirlah penjelasan sifat-sifat yang dikategorikan sifat-sifat ma‘ānī. Kesimpulannya, sifat ma‘ānī terbagi pada empat bagian:

قِسْمٌ لَا يَتَعَلَّقُ بِشَيْءٍ، وَ هُوَ الْحَيَاةُ.

  1. bagian yang tidak berhubungan dengan apapun, yaitu sifat ḥayāt (Maha Hidup).

وَ قِسْمٌ يَتَعَلَّقُ بِالْمُمْكِنَاتِ فَقَطْ، وَ هُوَ اثْنَانِ: الْقُدْرَةُ وَ الْإِرَادَةُ.

  1. bagian yang hanya berhubungan dengan mumkināt, yaitu ada dua; qudrah dan irādah.

وَ قِسْمٌ يَتَعَلَّقُ بِجَمِيْعِ الْمَوْجُوْدَاتِ، وَ هُوَ اثْنَانِ السَّمْعُ وَ الْبَصَرُ.

  1. bagian yang berhubungan dengan seluruh hal yang wujud, yaitu ada dua; sifat sam‘ dan bashar,

وَ قِسْمٌ يَتَعَلَّقُ بِجَمِيْعِ أَقْسَامِ الْحُكْمِ الْعَقْلِيِّ، وَ هُوَ الْعِلْمُ وَ الْكَلَامُ.

  1. bagian yang berhubungan dengan seluruh bagian hukum ‘aqlī, yaitu sifat ‘ilmu dan kalām.

وَ أَعَمُّ الصِّفَاتِ الْمُتَعَلِّقَةِ فِي التَّعَلُّقِ الْعِلْمُ وَ الْكَلَامُ. وَ بَيْنَ مُتَعَلِّقِ الْقُدْرَةِ وَ الْإِرَادَةِ وَ مُتَعَلِّقِ السَّمْعِ وَ الْبَصَرِ – عُمُوْمٌ وَ خُصُوْصٌ مِنْ وَجْهٍ، فَتَزِيْدُ الْقُدْرَةُ وَ الْإِرَادَةُ بِتَعَلُّقِهِمَا بِالْمَعْدُوْمِ، وَ يَزِيْدُ السَّمْعُ وَ الْبَصَرُ – بِتَعَلُّقِهِمَا بِالْمُوْجُوْدِ الْوَاجِبِ كَذَاتِ مَوْلَانَا جَلَّ وَ عَزَّ وَ صِفَاتِهِ، وَ يَشْتَرِكُ الْقِسْمَانِ فِيْ تَعَلُّقِهِمَا بالْمَوْجُوْدِ الْمُمْكِنِ.

Sifat-sifat yang berhubungan yang paling umum hubungannya adalah sifat ‘ilmu dan kalām. Di antara hal yang berhubungan dengan sifat qudrah dan irādah dan hal yang berhubungan dengan sifat sam‘ dan bashar terdapat keumuman dan kekhususan dari suatu sisi. Sifat qudrah dan irādah dengan hubungannya pada perkara yang tidak ada melebihi sifat sam‘ dan bashar; dan sifat sam‘ dan bashar dengan hubungannya pada perkara yang wajib wujud seperti Dzāt Allah – jalla wa ‘azza – dan sifat-sifatNya,. Sifat qudrah dan irādah, dan sifat sam‘ dan bashar sama-sama berhubungan dengan hal-hal mumkin.

وً إِنَّمَا اقْتُصِرَ فِي الْعَقِيْدَةِ عَلَى هذِهِ السَّبْعِ وَ لَمْ يُعِدَّ مَعَهَا الصِّفَةَ الثَّامِنَةَ، وَ هِيَ إدْرَاكُهُ تَعَالَى الطَّعُوْمَ وَ الرَّوَائِحَ وَ نَحْوَهُمَا مِنَ الْكَيْفِيَّاتِ الَّتِيْ تَسْتَدْعِيْ فِيْ حَقِّنَا بِحَسْبِ الْعَادَةِ اتَّصَلَاتِ لِأَجْلِ الْخِلَافِ الَّذِيْ فِيْ هذِهِ الصِّفَةِ هَلْ هِيَ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى تَرْجِعُ إِلَى الْعِلْمِ أَمْ هِيَ زَائِدَةٌ عَلَى الْعِلْمِ وَ يَكُوْنُ إِدْرَاكُهُ تَعَالَى لِتِلْكَ الْأُمُوْرِ بِإِدْرَاكٍ زَائِدٍ عَلَى الْعِلْمِ مِنْ غَيْرِ اتِّصَالِ بِهَا؟ وَ لَا تُتَكَيَّفُ الذَّاتُ الْعَلِيَّةُ بِمَا جَرَّتْ بِهِ ذَوَاتُنَا عِنْدَ هذَا الْإِدْرَاكِ مِنَ اللَّذَّاتِ وَ الآلَامِ وَ نَحْوِهِمَا، وَ يَتَعَلَّقُ هذَا الْإِدْرَاكُ عَلَى هذَا الْقَوْلِ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى بِكُلِّ مَوْجُوْدٍ كَسَمْعِهِ جَلَّ وَ عَزَّ وَ بَصَرِهِ.

Dalam Kitāb-ul-‘Aqīdah hanya dicukupkan (sifat ma‘ānī) dengan tujuh sifat ini dan tidak menyebut sifat ma‘ānī yang ke delapan bersamanya, yaitu idrāk (kemampuan menemukan) Allah ta‘ālā pada rasa, aroma, dan kaifiyyah semisalnya yang pada manusia secara adatnya menuntut pertemuan-pertemuan berbagai hal, karena pertentangan pendapat terkait sifat ini, apakah bagi Allah ia di luar sifat ‘ilmu-Nya, sehingga idrāk Allah ta‘ālā pada berbagai hal tersebut terjadi dengan idrāk yang di luar sifat ‘ilmu-Nya, tanpa pertemuan dengannya? Dan Dzāt Allah Yang Maha Luhur tidak diandaikan kebagaimanaan-Nya dengan apa yang terjadi pada dzāt kita manusia ketika menemukan keni‘matan, rasa sakit, dan semisalnya. Menurut pendapat ini, idrāk bagi Allah ta‘ālā berhubungan dengan setiap hal yang wujud, seperti sifat sam‘-Nya – jalla wa ‘azza.

وَ الَّذِي اخْتَارُهُ بَعْضُ الْمُحَقِّقِيْنَ فِيْ هذَا الْإِدْرَاكِ الْوَقْفُ لِعَدَمِ وُرُوْدِ السَّمْعِ بِهِ.

Pendapat yang dipilih sebagian ‘ulamā’ Muḥaqqiqīn terkait sifat idrāk ini adalah me-mauqūf-kan (tidak membahasnya), karena tidak adanya dalil wahyu (hadits) yang menjelaskannya.

فِلِأَجْلِ مَا وَقَعَ فِيْهِ مِنْ هذَا الْخِلَافِ تَرَكْنَا عَدَّهُ فِيْ صِفَاتِ الْمَعَانِيْ، وَ اقْتَصَرْنَا عَلَى الْمُجْمَعِ عَلَيْهِ، وَ بِاللهِ تَعَالَى التَّوْفِيْقُ.

Karena pertentangan pendapat yang terjadi ini, aku tidak menyebutnya dalam sifat-sifat ma‘ānī, dan aku cukupkan pada sifat ma‘ānī yang disepakati. Wa billāhi ta‘ālā-t-taufīq.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *