Tentang Shalat Jenazah – FIQH Populer Terjemah FATHUL MU’IN (2)

FIQH Populer
Terjemah Fath-ul-Mu‘in
Penulis: Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul-‘Aziz al-Malibari
(Judul Asli: Fatḥ-ul-Mu’īni Bi Syarḥi Qurrat-il-‘Aini Bi Muhimmāt-id-Dīn)

Penerjemah: M. Fikril Hakim, S.H.I. dan Abu Sholahuddin.
Penerbit: Lirboyo Press.

[مُهِمَّةٌ]: يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةِ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ، لِلِاتِّبَاعِ، وَ لِأَنَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا. وَ قِيْسَ بِهَا مَا اُعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطِبِ. وَ يَحْرُمُ أَخْذُ شَيْءٍ مِنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا لِمَا فِيْ أَخْذِ الْأُوْلَى مِنْ تَفْوِيْتِ حَظِّ الْمَيِّتِ الْمَأْثُوْرِ عَنْهُ، وَ فِي الثَّانِيَةِ مِنْ تَفْوِيْتِ حَقِّ الْمَيِّتِ بِاِرْتِيَاحِ الْمَلَائِكَةِ النَّازِلِيْنَ لِذلِكَ. قَالَهُ شَيْخَانَا ابْنِ حَجَرٍ وَ زِيَادٍ.

(Penting). Sunnah hukumnya meletakkan pelepah kurma yang masih segar (231) – sebagai tindak mengikuti Nabi s.a.w. – karena berkat tasbih pelepah tersebut, siksa orang yang berada dalam kubur diperingan. Disamakan dengan pelepah kurma adalah hal yang telah dibiasakan yaitu menaburkan semacam bunga yang segar. Haram mengambil pelepah kurma atau bunga seperti yang tersebut di atas sebelum kering karena pengambilan pelepah kurma dapat memutuskan bagian mayat sebagaimana yang telah sampai dari Nabi s.a.w. Sedang mengambil bunga yang masih basah dapat memutuskan hak mayat dengan perginya para malaikat yang turun untuk mencium bunga tersebut. Demikianlah yang dikatakan oleh guru kami, Ibnu Ḥajar dan Ibnu Ziyād. (242)

(وَ كُرِهَ بِنَاءٌ لَهُ) أَيْ لِلْقَبْرِ، (أَوْ عَلَيْهِ) لِصِحَّةِ النَّهْيِ عَنْهُ بِلَا حَاجَةٍ، كَخَوْفِ نَبْشٍ، أَوْ حَفْرِ سَبُعٍ أَوْ هَدْمِ سَيْلٍ. وَ مَحَلُّ كَرَاهَةِ الْبِنَاءِ، إِذَا كَانَ بِمُلْكِهِ، فَإِنْ كَانَ بِنَاءُ نَفْسِ الْقَبْرِ بِغَيْرِ حَاجَةٍ مِمَّا مَرَّ، أَوْ نَحْوِ قُبَّةٍ عَلَيْهِ بِمُسَبِّلَةٍ، وَ هِيَ مَا اعْتَادَ أَهْلُ الْبَلَدِ الدَّفْنَ فِيْهَا، عُرِفَ أَصْلُهَا وَ مُسْبِلُهَا أَمْ لَا، أَوْ مَوْقُوْفَةٍ، حَرُمَ، وَ هُدِمَ وُجُوْبًا، لِأَنَّهُ يَتَأَبَّدُ بَعْدَ انْمِحَاقِ الْمَيِّتِ، فَفِيْهِ تَضْيِيْقٌ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ بِمَا لَا غَرَضَ فِيْهِ.

Makrūh membangun kubur, baik untuk liang kubur atau di sekelilingnya – karena ada hadits shaḥīḥ yang melarangnya – , tanpa ada hajat semisal khawatir terbongkar, penggalian binatang buas atau hanyut oleh air. Hukum makrūh tersebut jika pembangunan kubur di tanah miliknya sendiri. Apabila membangun tanpa keperluan seperti di atas kubur di tanah milik penduduk daerah yang memang disediakan untuk penguburan mayat, baik pemilik semula diketahui atau tidak, atau dilakukan di atas kuburan wakaf, maka hukumnya adalah haram dan wajib dibongkar sebab bangunan yang seperti itu akan menjadi permanen setelah mayat membusuk dan hal tersebut akan menyempitkan orang-orang Islam tanpa ada tujuan di dalamnya.

[تَنْبِيْهٌ]: وَ إِذَا هُدِمَ، تُرَدُّ الْحِجَارَةُ الْمُخْرَجَةُ إِلَى أَهْلِهَا إِنْ عُرِفُوْا، أَوْ يُخْلَى بَيْنَهُمَا، وَ إِلَّا فَمَالٌ ضَائِعٌ، وَ حُكْمُهُ مَعْرُوْفٌ كَمَا قَالَهُ بَعْضُ أَصْحَابِنَا وَ قَالَ شَيْخُنَا الزَّمْزَمِيُّ: إِذَا بَلِيَ الْمَيِّتُ وَ أَعْرَضَ وَرَثَتُهُ عَنِ الْحِجَارَةِ، جَازَ الدَّفْنُ مَعَ بَقَائِهَا، إِذَا جَرَتِ الْعَادَةُ بِالْإِعْرَاضِ عَنْهَا، كَمَا فِي السَّنَابِلِ.

(Peringatan). Jika bangunan tersebut dibongkar, maka batu-batunya harus dikembalikan kepada ahli waris jika bisa diketahui atau ditinggalkan saja. Jika ahli warisnya tidak diketahui, maka batu-batu tersebut dihukumi sebagai harta yang tersia-sia, yang hukumnya telah ma‘lūm (253) seperti pendapat dari sebagian Ashḥāb-usy-Syāfi‘ī. Guru kami, az-Zamzamī berkata: Jika mayat (dalam kasus di atas) telah busuk serta ahli warisnya membiarkan batu-batu itu, maka boleh mengubur mayat lain beserta tetapnya batu-batunya, jika memang sudah berlaku adat-istiadat tidak mempedulikan batu-batu seperti itu hal ini sama halnya masalah mengambil sisa-sisa padi yang tertinggal di sawah.

(وَ) كُرِهَ (وَطْءٌ عَلَيْهِ) أَيْ عَلَى قَبْرِ مُسْلِمٍ، وَ لَوْ مُهْدَرًا قَبْلَ بَلَاءٍ (إِلَّا لِضَرُوْرَةٍ)، كَأَنْ لَمْ يَصِلْ لِقَبْرِ مَيْتِهِ بِدُوْنِهِ، وَ كَذَا مَا يَرِيْدُ زِيَارَتَهُ وَ لَوْ غَيْرَ قَرِيْبٍ. وَ جَزْمُ شَرْحُ مُسْلِمٍ  كَآخَرِيْنَ  بِحُرْمَةِ الْقُعُوْدِ عَلَيْهِ وَ الْوَطْءِ، لِخَبَرٍ فِيْهِ يَرُدُّهُ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْجُلُوْسِ عَلَيْهِ جُلُوْسُهُ لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ، كَمَا بَيَّنَتْهُ رِوَايَةٌ أُخْرَى. (وَ نُبِشَ) وُجُوْبًا قَبْرُ مَنْ دُفِنَ بِلَا طَهَارَةٍ (لِغُسْلٍ) أَوْ تَيَمُّمٍ. نَعَمْ، إِنْ تَغَيَّرَ وَ لَوْ بِنَتْنٍ، حَرُمَ. وَ لِأَجْلِ مَالِ غَيْرٍ، كَأَنْ دُفِنَ فِيْ ثَوْبٍ مَغْصُوْبٍ، أَوْ أَرْضٍ مَغْصُوْبَةٍ، إِنْ طَلَبَ الْمَالِكُ، وَ وُجِدَ مَا يُكْفَنُ أَوْ يُدْفَنُ فِيْهِ، وَ إِلَّا لَمْ يَجُزِ النَّبْشُ أَوْ سَقَطَ فِيْهِ مُتَمَوِّلٌ وَ إِنْ لَمْ يَطْلُبْهُ مَالِكُهُ، لَا لِلتَّكْفِيْنِ إِنْ دُفِنَ بِلَا كَفَنٍ، وَ لَا لِلصَّلَاةِ بَعْدَ إِهَالَةِ التُّرَابِ عَلَيْهِ.

Makrūh menginjak makam (kubur) orang muslim – sekalipun mayat itu tadi adalah orang yang halal dibunuh – sebelum mayat membusuk kecuali karena darurat, misalnya kalau tidak menginjaknya, maka seseorang tidak bisa mengubur mayat yang lain begitu juga makam yang akan diziarahi, sekalipun bukan kerabatnya. Mengenai keputusan yang ada dalam kitab Syaraḥ Muslim sebagaimana pendapat fuqahā’ yang lain, bahwa duduk di atas kubur hukumnya adalah haram dengan dalih hadits yang menerangkan semacam ini ditolak dengan argumen bahwa yang dimaksud dengan “duduk di atasnya” adalah duduk untuk berak atau kencing sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat lain. Mayat yang dikubur dalam keadaan belum suci, maka wajib dibongkar guna dimandikan atau ditayammumi. Namun, jika mayat tersebut sudah berubah walaupun berbau busuk, maka hukumnya haram membongkarnya. (264) Demikian juga wajib dibongkar karena ada harta orang lain yang ikut terkubur, misalnya mayat dibungkus dengan pakaian hasil ghasab, atau mayat dikubur di tanah ghasab jika kedua pemilik menuntutnya, juga masih ada pakaian untuk membungkus dan tanah untuk menguburnya, jika tidak sedemikian rupa, maka pembongkaran tidak boleh dilakukan. Contohnya lagi; ada harta berharga yang jatuh ke dalam kubur, sekalipun pemilik tidak menuntutnya. (275) Tidak boleh dibongkar jika untuk sekedar membungkus mayat, jika mayat dikubur sebelum dibungkus. (286) Dan tidak boleh dibongkar untuk menshalatinya setelah ditimbun tanah. (297).

(وَ لَا تُدْفَنُ امْرَأَةٌ) مَاتَتْ (فِيْ بَطْنِهَا جَنِيْنٌ حَتَّى يَتَحَقَّقُ مَوْتُهُ)، أَيِ الْجَنِيْنُ. وَ يَجِبُ شَقُّ جَوْفِهَا وَ النَّبْشُ لَهُ إِنْ رُجِيَ حَيَاتُهُ بِقَوْلِ الْقَوَابِلِ، لِبُلُوْغِهِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ فَأَكْثَرَ، فَإِنْ لَمْ يُرْجَ حَيَاتُهُ حَرُمَ الشَّقُّ، لكِنْ يُؤَخَّرَ الدَّفْنُ حَتَّى يَمُوْتَ  كَمَا ذُكِرَ وَ مَا قيْلَ إِنَّهُ يُوْضَعُ عَلَى بَطْنِهَا شَيْءٌ لِيَمُوْتَ غَلَطٌ فَاحِشٌ. (وَ وُرِيَ) أَيْ سُتِرَ بِخَرْقَةٍ (سِقْطٌ وَ دُفِنَ) وُجُوْبًا، كَطِفْلٍ كَافِرٍ نَطَقَ بِالشَّهَادَتَيْنِ، وَ لَا يَجِبُ غُسْلُهُمَا، بَلْ يَجُوْزُ. وَ خَرَجَ بِالسِّقْطِ الْعَلَقَةُ وَ الْمُضْغَةُ، فَيُدْفَنَانِ نَدْبًا مِنْ غَيْرِ سَتْرٍ. وَ لَوِ انْفَصَلَ بَعْدَ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ غُسِّلَ وَ كُفِّنَ، وَ دُفِنَ وُجُوْبًا. (فَإِنِ اخْتَلَجَ) أَوِ اسْتَهَلَّ بَعْدَ انْفِصَالِهِ (صُلِيَ عَلَيْهِ) وُجُوْبًا.

Mayat wanita yang hamil tidak boleh dikubur sehingga benar-benar telah jelas bahwa anak yang ada dalam kandungannya telah mati. Wajib melakukan pembedahan kandungan dan pembongkaran kubur jika menurut ahli kandungan bayi tersebut bisa diharapkan untuk hidup karena telah berumur 6 bulan. Jika sudah tidak bisa diharapkan akan hidupnya, maka pembedahan itu hukumnya haram. Namun penguburan harus ditunda sampai nyata kandungan telah mati, seperti dijelaskan di atas. Tentang pendapat yang mengatakan, bahwa agar dibebankan sesuatu pada perut mayat wanita yang hamil supaya bayinya mati, adalah pendapat yang benar-benar salah. Bayi yang gugur dalam kandungan sebelum masanya, wajib dibungkus memakai kain dan dikubur, sebagaimana halnya dengan anak orang kafir yang telah dapat mengucapkan dua Syahādat. Keduanya tidak wajib dimandikan, namun boleh dilakukan. Tidak termasuk pengertian “siqth”, jika yang keluar berupa gumpalan darah atau daging, maka sunnah dikubur tanpa dibungkus. Jika bayi seperti yang tersebutkan di atas lahir setelah kandungan berumur 4 bulan, maka wajib dimandikan, dibungkus dan dikubur. Apabila setelah lahir bayi itu bisa bergerak-gerak atau bersuara, maka wajib pula dishalati. (308)

Catatan:

  1. 23). Sedangkan hukum menaman tanaman di atas qubur dan menyiramnya, maka jika hal tersebut sampai membahayakan seperti sampainya akar tumbuhan tersebut kepada mayit, maka hukumnya haram. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 3 hal. 198. Dār-ul-Fikr.
  2. 24). Imām Ibnu Qāsim memilah hukumnya: Bila jumlahnya sedikit, maka haram untuk mengambilnya dan jika jumlahnya banyak, maka tidaklah mengapa. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 136. Dār-ul-Fikr.
  3. 25). Ya‘ni diserahkan pada bait-ul-māl yang muntadim dan jika tidak muntadim, maka diserahkan pada orang shāliḥ Muslimīn. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 136. Dār-ul-Fikr.
  4. 26). Sebab hal tersebut mencoreng kehormatan mayit. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 138. Dār-ul-Fikr.
  5. 27). Sebab hal tersebut menyia-nyiakan harta. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 138. Dār-ul-Fikr.
  6. 28). Sebab tujuannya mengkafani mayit adalah menutupi tubuh mayit dan itu telah dicukupi dengan tanah yang menutupinya. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 139. Dār-ul-Fikr.
  7. 29). Sebab kewajiban menshalati mayit telah dapat gugur dengan dishalati di samping quburan tersebut. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 139. Dār-ul-Fikr.
  8. 30). Kesimpulannya seperti yang telah disebutkan dalam Nihayah bahwa bayi yang lahir sebelum waktunya atau as-Siqth ada beberapa keadaan. Pertama: Bila tidak tampak bentuk manusia, maka tidak wajib apapun, namun sunnah membungkusnya dan menguburnya. Kedua: Jika telah tampak bentuk manusia, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan dan ada tanda kehidupan, maka hukumnya seperti orang dewasa. I‘ānat-uth-Thālibīn juz 2 hal. 140. Dār-ul-Fikr.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.