Ta’wil Mimpi Membaca Surah al-Qur’an-il-Karim – Tafsir Mimpi (3/3)

TAFSIR MIMPI
Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah
Judul Asli: Tafsīr-ul-Aḥlām
(Penerbit: Maktabah ash-Shafa, Kairo)
Penulis: Muhammad Ibnu Sirin
 
Penerjemah: Dr. M. Syihabuddin, M.A. dan Asep Sopian, S.Pd
Penerbit: GEMA INSANI

Rangkaian Pos: Ta’wil Mimpi Membaca Surah al-Qur'an-il-Karim - Tafsir Mimpi

Jika bermimpi membaca surah an-Nashr, dita’wīlkan bahwa dia akan ditolong oleh Allah s.w.t. dalam mengalahkan musuh-musuhnya. Mimpi ini menunjukkan kepada dekatnya kematian orang yang bermimpi karena surah an-Nashr merupakan pemberitahuan tentang dekatnya kematian Nabi s.a.w.

 

Diceritakan bahwa seorang laki-laki mendatangi Ibnu Sīrīn dan berkata: “Aku bermimpi seolah-olah aku membaca surah al-Fatḥ (maksud di sini surah an-Nashr (surah ke 110, bukan surah ke 48).” Ibnu Sīrīn mena’wilkan mimpinya: “Hendaklah kamu memberi wasiat karena ajalmu telah tiba.”  Lelaki itu bertanya: “Mengapa demikian?” Ibnu Sīrīn menjawab: “Karena surah al-Fatḥ adalah surah terakhir yang diturunkan dari langit.

 

Jika seseorang bermimpi membaca surah al-Lahab, dita’wīlkan bahwa sebagian orang munafiq akan bersiaga untuk memusuhinya dan menjatuhkannya, lalu Allah s.w.t. membinasakan si munafiq.

Jika bermimpi membaca surah al-Ikhlāsh, dita’wīlkan bahwa dia akan mendapatkan karunia, popularitasnya merebak, dan terpelihara dari aneka kekeliruan dalam ketauhidannya. Ada yang mena’wīlkan bahwa keluarganya akan berkurang dan kehidupannya menjadi baik. Ada juga yang mena’wīlkan bahwa al-Ikhlāsh menunjukkan kepada kedekatan ajal.

 

Diceritakan bahwa orang yang shalih bermimpi seolah-olah surah al-Ikhlāsh tertulis di antara kedua matanya, lalu hal itu diceritakan kepada Sa‘ad bin Musayyab. Sa‘ad berkata: “Jika mimpimu itu benar, kematianmu telah dekat.” Demikianlah yang terjadi.

 

Jika bermimpi membaca surah al-Falaq, dita’wīlkan bahwa Allah s.w.t. akan menjaganya dari kejahatan manusia, jinn, binatang buas, dan orang yang dengki.

Jika bermimpi membaca surah an-Nās, dita’wīlkan bahwa dia akan dilindungi dari berbagai ujian dan dijaga dari syaithan, bala tentaranya, dan dari bisikannya.

Abu Sa‘ad mengatakan bahwa pada prinsipnya, seorang pena’wīl harus merenungkan jenis mimpi ini yang diceritakan kepadanya. Jika ayat yang dibacanya dalam mimpi itu adalah ayat tentang rahmat dan kabar gembira, dita’wīlkan bahwa dia akan diberikan kabar gembira dengan rahmat, ni‘mat, keamanan, dan kebahagiaan. Jika ayat yang dibaca dalam mimpinya itu adalah ayat tentang siksa, ta’wīlnya adalah dia mesti waspada dari perbuatan maksiat yang akan dialaminya. Mimpi itu menunjukkan agar dia meninggalkan kemaksiatan yang tengah dilakukannya atau yang hendak dilakukannya. Jika dia bermimpi seolah-olah membaca al-Qur’ān secara terang-terangan, dita’wilkan bahwa dia akan menunaikan amanah, konsisten pada kebenaran, memerintah kepada kebaikan, dan mencegah dari kemungkaran karena Allah s.w.t. berfirman:

“….Mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (shalat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang ma‘rūf, dan mencegah dari yang mungkar…..” (Āli ‘Imrān: 113-114).

Jika bermimpi seolah-olah membaca sebuah mushḥaf, dita’wīlkan bahwa dia akan mendapatkan kebijaksanaan, kemuliaan, reputasi yang baik, dan pengamalan agama dengan baik. Mushḥaf dita’wīlkan dengan kebijaksanaan. Jika bermimpi membeli sebuah mushḥaf, dita’wīlkan bahwa ilmunya meliputi berbagai kajian agama, menyebar kepada orang banyak, dan mendapatkan kebaikan.

Jika bermimpi menjual sebuah mushḥaf, dita’wīlkan bahwa dia akan melakukan aneka perbuatan buruk.

Jika bermimpi membakar sebuah mushḥaf, dita’wīlkan bahwa dia akan merusak agamanya. Jika bermimpi mencuri mushḥaf, dita’wīlkan bahwa dia akan melupakan shalat.

Jika bermimpi seolah-olah di tangannya ada sebuah kitab atau mushḥaf dan ketika membukanya ternyata tidak terdapat tulisan, dita’wīlkan bahwa penampilan lahiriyyah berbeda dengan bāthiniyyahnya.

Jika bermimpi memakan lembaran mushḥaf, dita’wīlkan bahwa dia akan menulis mushḥaf-mushḥaf dengan diberi upah, lalu rezekinya diminta oleh pihak yang tidak berhak memintanya.

Jika bermimpi menerima mushḥaf, dita’wīlkan bahwa dia tidak akan menyepelekan aneka kewajiban.

Jika bermimpi menulis al-Qur’ān pada barang pecah-belah atau kulit, dita’wīlkan bahwa dia akan menafsirkan al-Qur’ān dengan pendapatnya sendiri. Jika bermimpi menulis al-Qur’ān di tanah, dita’wīlkan bahwa dia akan menjadi kafir.

Jika bermimpi seolah-olah membaca al-Qur’ān dengan telanjang, dita’wīlkan bahwa dia menjadi pengumbar hawa-nafsu. Jika bermimpi seolah-olah memakan al-Qur’ān, dita’wīlkan bahwa dia akan mencari makan melalui al-Qur’ān.

Jika bermimpi seolah-olah dia menjadikan mushḥaf sebagai bantal, dita’wīlkan bahwa dia menjadi orang yang tidak melaksanakan ajaran al-Qur’ān karena Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

لَا تَوَسَّدُوا الْقُرْآنَ.

Janganlah kamu jadikan al-Qur’ān sebagai bantal.”

Jika bermimpi menghafal al-Qur’ān padahal dia tidak menghafalnya, dita’wīlkan bahwa dia akan menjadi raja karena Allah s.w.t. berfirman:

“….. “Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan”.” (Yūsuf: 55).

Jika bermimpi seolah-olah mendengar al-Qur’ān, dita’wīlkan bahwa kekuasaannya menjadi kukuh dan meraih ḥusn-ul-khātimah. Jika bermimpi bahwa mushḥaf diambil darinya, dita’wīlkan bahwa ilmunya akan dicopot dan sirna di dunia. Jika bermimpi bahwa al-Qur’ān dibacakan kepadanya, sedangkan dia tidak memahaminya, dita’wīlkan bahwa dia akan ditimpa dengan sesuatu yang dibencinya, baik sesuatu itu berasal dari Allah s.w.t. maupun dari penguasa karena Allah s.w.t. berfirman:

Dan mereka berkata: “Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (al-Mulk: 10).

Jika bermimpi membaca ayat dan ketika membaca ayat tentang siksa menjadi sulit, dita’wīlkan bahwa dia akan mendapatkan jalan keluar. Jika bermimpi membaca ayat siksa dan tatkala membaca ayat rahmat menjadi sulit, dita’wīlkan bahwa dia akan berada dalam kesulitan. Jika bermimpi mengkhatamkan al-Qur’ān, dita’wīlkan bahwa tujuannya akan tercapai dan kebaikannya melimpah.

 

Diceritakan ada seorang perempuan yang bermimpi seolah-olah di pangkuannya ada sebuah mushḥaf dan dia membaca dari mushḥaf itu, lalu muncullah dua ekor anak ayam yang mematuki semua tulisan di mushḥaf hingga semua tulisan habis dilalapnya. Kemudian, perempuan tersebut menceritakan mimpinya kepada Ibnu Sīrīn. Ibnu Sīrīn berkata: “Engkau akan melahirkan dua orang anak yang hafal al-Qur’ān.” Kemudian, terjadilah hal seperti yang dita’wīlkan.

Dikisahkan bahwa seorang pembaca al-Qur’ān bermimpi bahwa dia menggunting mushḥaf selembar demi selembar, lalu membakarnya. Tiba-tiba, apinya padam. Dia menceritakannya kepada seorang mufassir. Mufassir itu menjawab: “Akan terjadi fitnah dari pihak penguasa dan fitnah itu reda dengan bacaanmu.” Lalu, terjadilah hal seperti itu.

 

Jika bermimpi menyimak al-Qur’ān, dita’wīlkan bahwa kuatlah kekuasaannya, terpujilah akibatnya, dan dilindungilah dia dari muslihat orang lain. Allah s.w.t. berfirman:

Dan apabila engkau (Muḥammad) membaca al-Qur’ān, Kami adakan suatu dinding yang tidak terlihat antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat.” (al-Isrā’: 45).

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *