Tabarruk (Meraih Keberkahan) Pada Bekas Orang-orang Shalih – Jawaban Tuntas Beragam Masalah Aqidah Islam

JAWABAN TUNTAS
BERAGAM MASALAH AKIDAH ISLAM
(Judul Asli: AL-AJWIBAH AL-GHĀLIYAH
FĪ ‘AQĪDAH AL-FIRQAH AN-NĀJIYAH

Karya: Habib Zein Ibrahim Bin Sumaith

Terjemah: Muhammad Ahmad Vad‘aq
Penerbit: Mutiara Kafie

TABARRUK (MERAIH KEBERKAHAN) PADA BEKAS ORANG-ORANG SHĀLIḤ

 

Bolehkah tabarruk pada bekas orang-orang shāliḥ dan apa dalilnya?


Ya, boleh dan dalilnya banyak.

Di antaranya, kenyataan tabarruk yang dilakukan oleh para sahabat, radhiyallāhu ‘anhum, dan upaya mereka mendapatkan pertolongan melalui peninggalan-peninggalan Nabi s.a.w. pada saat beliau masih hidup maupun setelah beliau wafat.

Terkait hal ini terdapat banyak hadits yang kami paparkan sebagaimana secara ringkas sebagai berikut:

  • Dari Sahl bin Sa‘ad r.a. mengenai kisah pakaian burdah yang dimintanya dari Nabi s.a.w. Saat itu sahabat-sahabatnya mengecamnya lantaran meminta pakaian burdah tersebut kepada Nabi s.a.w., padahal beliau masih memakainya.

Sahl bin Sa‘ad r.a. mengatakan: “Aku memintanya kepada beliau hanya agar dijadikan sebagai kafanku.” Dalam riwayat lain: “Aku berharap keberkahannya karena Nabi s.a.w. telah mengenakannya, semoga aku dapat dikafani dengannya.” (11).

  • Dari Asmā’ binti Abī Bakar ash-Shiddīq, dia mengatakan: “Ini adalah jubah Rasūlullāh s.a.w.”

Asmā’ mengeluarkan jubah thayālisī kisrawanī kepadaku dan mengatakan: “Dulu ini berada di tempat ‘Ā’isyah. Begitu ‘Ā’isyah wafat, jubah ini beralih kepadaku. Dulu Nabi s.a.w. mengenakannya. Kami membasuhkannya untuk orang-orang sakit dengan berharap kesembuhan lantaran jubah beliau ini. (22)

  • Dari ‘Abdullāh bin Mauhib, dia mengatakan: “Ibuku mengutusku untuk menemui Ummu Salamah r.a. dengan membawa segelas air. Ummu Salamah r.a. membawa guci kecil dari perak yang berisi rambut Nabi s.a.w.

Saat itu jika ada orang yang terkena gangguan atau suatu penyakit, maka orang itu dibawa kepada Ummu Salamah r.a. yang lantas mengeluarkan guci yang berisi rambut beliau itu. Rambut itu pun dimasukkan ke dalam air beberapa saat lalu orang yang sakit meminum air darinya.

Aku melongok ke dalam guci tersebut dan aku melihat beberapa helai rambut yang berwarna merah.” (33)

  • Dari Anas r.a. bahwa Ummu Sulaim membuka kotak kecilnya, lantas mengelap keringat Nabi s.a.w. ke dalamnya, kemudian memerasnya ke dalam botol-botolnya.

“Apa yang kamu lakukan, ya Ummu Sulaim?” tanya Nabi s.a.w.

Ummu Sulaim menjawab: “Wahai Rasūlullāh, kami mengharapkan keberkahannya bagi anak-anak kecil kami.”

Beliau bersabda “Kamu benar.” (44).

  • Dinyatakan dalam riwayat bahwa ketika Anas menghadap kematian, dia berwasiat agar keringat itu dicampur dengan hanūth (jenis minyak wangi untuk jenazah). Begitu dia wafat, minyak wangi itu pun diberi keringat beliau tersebut. (55)

Anas mengatakan: “Aku melihat Rasūlullāh s.a.w. dan tukang cukur rambut yang sedang mencukur beliau, sementara sahabat-sahabat beliau mengelilingi beliau. Mereka tidak menghendaki ada sehelai rambut pun yang jatuh kecuali di tangan seseorang. (66)

  • Para sahabat r.a. senantiasa menjaga rambut Nabi s.a.w. untuk keperluan tabarruk dan permohonan syafā‘at. Dalam riwayat dinyatakan bahwa Khālid bin Walīd r.a. meletakkan rambut-rambut Nabi s.a.w. pada pecinya. Dalam suatu peperangan, pecinya terjatuh. Khālid bin Walīd r.a. pun berusaha keras untuk mendapatkan kembali pecinya hingga membuat sebagian sahabat tidak menyukai perbuatannya ini lantaran berakibat pada banyaknya jumlah korban yang tewas.

Khālid mengatakan: “Aku melakukan itu bukan karena peci, tapi karena rambut Nabi s.a.w. yang ada padanya agar keberkahannya tidak terampas dan jatuh di tangan orang-orang musyrik. (77).

  • Dari Abū Juḥaifah r.a., ia berkata: “Aku menemui Nabi s.a.w. yang saat itu sedang berada di Kubah Merah yang terbuat dari kulit. Aku melihat Bilāl mengambilkan air wudhu’ Nabi s.a.w., sementara orang-orang dengan sigap menadahinya. Orang yang mendapatkan tadahan air wudhu’, membasuhkan pada dirinya. Sedangkan orang yang tidak mendapatkan tadahan air wudhu’ itu mengambil dari basahan air wudhu’ yang didapat sahabatnya.

Maksudnya untuk mendapatkan keberkahan dan syafā‘at.”

  • Abū Mūsā al-Asy‘arī mengatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abū Juḥaifah r.a. darinya; Nabi s.a.w. meminta diambilkan secawan air lantas membasuh kedua tangan dan wajah beliau dengan air tersebut lantas menuangkannya.

Beliau bersabda kepada Abū Mūsā r.a. dan Abū Juḥaifah r.a.:

اِشْرَبَا مِنْهُ وَ أَفْرِغَا عَلَى وُجُوْهِكُمَا وَ نُحُوْرِكُمَا.

Minumlah kalian berdua darinya dan tuangkanlah pada wajah dan leher kalian berdua.” (88).

Ini adalah perintah dari Rasūlullāh s.a.w. agar melakukan tabarruk pada bekas-bekas beliau.

  • Dari Ja‘far bin Muḥammad r.a., ia mengatakan: “Saat mereka memandikan jenazah Nabi s.a.w. setelah beliau wafat, ada air yang terhimpun di kelopak mata beliau. Ketika itu ‘Alī r.a. menghisapnya sedikit demi sedikit.” (99)

Maksudnya ia menghisap air itu lantaran keberkahan-keberkahan Nabi s.a.w.

  • Diriwayatkan bahwa Mu‘āwiyah memiliki beberapa potongan kuku Nabi s.a.w. Ketika menghadapi kematian, ia berwasiat agar kuku-kuku itu ditumbuk sampai halus lantas diletakkan di mata dan mulutnya.

Mu‘āwiyah berkata kepada para sahabat: “Lakukanlah itu kepadaku, dan biarkanlah itu di antara aku dan Allah Sang arḥam-ur-rāḥimīn (Yang paling Penyayang di antara yang penyayang). (1010).

  • Diriwayatkan bahwa Anas berwasiat agar di bawah lidahnya diberi sehelai rambut Rasūlullāh s.a.w.

(Saat ia wafat) wasiat itu pun dilakukan. (1111).

Apa hikmah tabarruk pada bekas orang-orang shāliḥ?


Seorang bijak menyebutkan bahwa hikmah tabarruk dengan bekas orang-orang shāliḥ dan tempat-tempat mereka serta apa-apa yang berhubungan dengan mereka adalah lantaran tempat-tempat mereka berkaitan dengan pakaian mereka, pakaian mereka mencakup badan mereka, badan mereka mencakup hati mereka, dan hati mereka berada dalam kehadiran Tuhan mereka.

Saat Allah melimpahkan berbagai curahan anugerah ketuhanan ke dalam hati mereka, maka keberkahannya menjalar kepada tiap sesuatu yang berkaitan dengannya dan yang berada di sekitarnya.

Seperti dinyatakan dalam firman Allah s.w.t.:

فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِنْ أَثَرِ الرَّسُوْلِ.

(Sāmirī berkata) lalu aku mengambil segenggam dari bekas utusan itu.” (QS. Thāhā: 96).

Maksudnya, dari bekas telapak kaki kuda utusan itu (malaikat) sebagaimana yang dipaparkan pada beberapa kitab tafsir. (1212).

Apakah tabarruk pada bekas orang-orang shāliḥ pada hakikatnya merupakan tawassul pada diri pemiliknya?


Ya. Tabarruk dengan bekas orang-orang shāliḥ adalah hakikat tawassul dengan diri, dan ini dibolehkan bahkan dianjurkan dalam syarī‘at. Sebab, ini berarti seorang hamba berupaya menggapai wasīlah atau perantara kepada Allah untuk mencapai tujuan-tujuannya lantaran perantara itu telah ditetapkan memiliki keutamaan di sisi Allah.

Kenapa tabarruk itu hukumnya diperbolehkan dan disyarī‘atkan?


Dihukumi boleh dan dianjurkan karena ‘amaliyyah tabarruk ini mencontoh dari mereka, maksudnya dari para sahabat, pada seluruh aktivitas mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Adapun anggapan bahwa tabarruk merupakan perbuatan sia-sia tanpa makna dan tiada guna bagi mereka yang melakukannya, maka sungguh jauh kemungkinannya para sahabat melakukan perbuatan yang tiada arti sama sekali. Jauh pula kemungkinannya Rasūlullāh s.a.w. menetapkan perbuatan yang tiada arti itu. Jadi, pasti mereka mempunyai tujuan yang benar dan maksud yang mereka kehendaki, yaitu menggapai berkah, syafā‘at, dan rahmat dari Allah s.w.t. lantaran adanya keutamaan bekas-bekas yang mulia itu di sisi Allah s.w.t.

Catatan:

  1. 1). Hadits Sahl ini disampaikan oleh al-Bukhārī (1218). Pada riwayat keduanya juga terdapat hadits ini (5689).
  2. 2). HR. Muslim (2069).
  3. 3). Hadits serupa disampaikan oleh al-Bukhārī (5557).
  4. 4). HR. Muslim (2331).
  5. 5). HR. al-Bukhārī (5992).
  6. 6). HR. Muslim (2325).
  7. 7). Asy-Syifā’ karya al-Qādhī ‘Iyādh (2: 47).
  8. 8). HR. al-Bukhārī (185).
  9. 9). HR. Aḥmad (1: 267).
  10. 10). Tahdzīb-ul-Asmā’i wal-Lughat karya an-Nawawī (2: 407).
  11. 11). Al-Ishābatu fī Tamyīz-ish-Shaḥābah karya Ibnu Ḥajar (1: 127).
  12. 12). Al-Jāmi‘u li Aḥkām-il-Qur’ān karya al-Qurthubī (7: 251) dan Tafsīru Ibni Katsīr (3: 220).

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.